SEJAK diberlakukannya pola hidup dunia digital, ‘instanisasi’ kehidupan mulai merambah menjadi fenomena lazim pada semua sektor tanpa terkecuali. Dampak dari hal tersebut tentunya pertama kali dirasakan oleh generasi muda sebagai konsumen utama yang begitu menggandrungi fitur-fitur ajib produk digital. Beberapa di antaranya dimulai dari mahasiswa perkotaan yang perlahan melupakan identitasnya. Begitu pun dengan aktivis pragmatis yang mementingkan suplai gizi tubuh daripada asupan idealisme merajalela dan membentuk kultur baru yang keberadaannya diamini.
Hedonisme, pragmatisme, dan fenomena isme-isme lainnya dalam tanda kutip ‘bersifat menggerus nilai kritis’ telah menjelma menjadi paham populer. Kehadirannya diminati oleh kaula muda. Mengutip pepatah klasik, semua hal yang diciptakan di dunia pastinya memiliki dualisme sisi yang tidak bisa dipisahkan ibarat sisi koin, begitu pula dampak digitalisasi.
Tanpa disadari budaya berdiskusi, membaca buku, dan perkumpulan forum intelektual mulai sepi peminat karena dianggap kegiatan basi. Mirisnya lagi, kegiatan ilmiah seperti ini lumrahnya hanya dijadikan formalitas belaka. Organisasi ekstra kampus mahasiswa pun tidak ada bedanya, hanya segelintir anggota dan pengurus yang benar-benar peduli pada kondisi literasi sebagai lumbung pengetahuan. Sebagian lagi terlalu narsis dengan menghabiskan waktu di warung kopi berdiskusi obrolan politik berbungkus idealis. Sungguh ironi di atas ironi.
Bagaimana Pemuda Mengatasinya?
Berpikir kritis sebagai suatu proses dan sikap yang sengaja dilakukan secara sadar untuk menafsirkan sekaligus mengevaluasi sebuah informasi dari pengalaman, keyakinan dan kemampuan yang ada adalah suatu keniscayaan bagi generasi emas (pengertian berpikir kritis menurut mertes: 1986).
Digitalisasi bukanlah ancaman, justru hal tersebut akan menjadi formulasi baru jika dikorelasikan dengan kecerdasan manusia dalam memanajemen pembaharuan. Hanya saja ironi masa kini semakin diperkuat dengan data yang dikutip dari CNBC Indonesia-Ekonom Senior INDEF Aviliani menyebut tingkat literasi digital di Indonesia hanya sebesar 62%. Jumlah tersebut paling rendah jika dibandingkan negara di ASEAN lainnya yang rata-rata mencapai 70%. Suatu bukti bahwa Indonesia masih dilanda perilaku hedon–menggunakan akses digital untuk bersenang-senang hingga berimbas pada banyak kasus dari individual hingga komunal.
Beberapa orang yang sadar akan pentingnya daya kritis pemuda mencoba berkolaborasi dengan kemajuan melalui kegiatan webinar, share konten pengetahuan, dan memperbanyak e-book yang bisa diakses dengan begitu mudahnya. Sebagai pemuda cerdas, kegiatan seperti ini mesti didukung oleh semua pihak agar tidak menjadi lawakan satire tanpa hasil, baik dari kalangan mahasiswa maupun bukan. Selama jiwanya memiliki gairah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, semuanya harus bersatu padu membentuk lingkungan yang ramah idealis.
Hal-hal yang memang baik seperti kegiatan literasi seharusnya dikembangkan menjadi lebih fleksibel mengikuti modernisasi, bukan digerus hingga hilang substansinya. Meneruskan kalimat fenomenal Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Mari tetap rawat critical thinking melalui budaya berdiskusi dan membaca.
Mahasiswi TI Universitas Annuqayah dan Founder Setara Perempuan
Menyukai ini:
Suka Memuat...