Connect with us

Opini

Menjadi Millenial, Salahkah?

Published

on

Ilustrasi infokomputer.grid.id

Pertengahan tahun 2017, saya bergabung dengan Campaign.com. Sebuah start-up fokus dalam kegiatan sosial. Sekaligus mendorong tiap orang memulai dan menjalankannya. Tentu dengan harapan adanya perubahan lebih baik ke depan. Baik secara online maupun offline. Target utama perusahaan ini anak muda. Sebuah kelompok dikenal penuh semangat dengan banyak ide di kepalanya. Wajar bila mereka kerap disebut pondasi penting bagi penerus perubahan.

Terhitung hampir setengah tahun bekerja di sini, saya bertemu dengan banyak anak muda dengan beragam misi sosial. Kantor kamipun memiliki ruangan dirancang khusus sebagai “rumah” para pembuat perubahan ini atau kami panggil mereka dengan Changemakers. Jadi setiap hari saya bertemu dengan orang dengan misi sosial yang beragam. Biasanya mereka bergerak berdasarkan keresahan. Dari rendahnya minat baca, ketidakadilan terhadap pekerja dan sebagainya.

Sepanjang 2016 hingga 2017 sudah lebih dari 25 project sosial tercipta dari workshop yang digelar tempat saya bekerja. Menariknya, para changemakers ini masih muda. Dari beragam latar belakang. Lulusan SMA, mahasiswa hingga pekerja. Rata-rata berusia 17 hingga 25 tahun bahkan lebih. Kelompok umur ini biasa dikenal sebagai generasi milenial.

Millenial menurut banyak peneliti sosial disebutkan lahir antara tahun 1980-an hingga menjelang tahun 2000 atau disebut juga generasi Y. Disebut millenial, lantaran satu-satunya generasi yang melewati masa milenium kedua. Mereka dianggap paling beruntung. Karena tumbuh bersama perkembangan teknologi. Sedangkan mengenai ide dan gagasan, menurut Alvara Riset Center tahun 2014, “Millenial cenderung lebih variatif dibanding generasi sebelumnya. Kesadaran mereka meliputi beragam isu mulai sosial, politik, budaya hingga agama“.

Generasi sebelumnya disebut generasi X. Dengan rentang tahun lahir dari 1960 hingga 1980an. Setelah milenial, ada generasi Z. Di mana mereka lahir pada akhir 1990an hingga 2010. Paling anyar adalah generasi Alpha. Mereka lahir di atas tahun 2010.

Baca Juga:  Niqob dalam Fungsi Agama dan Budaya

Dari pembagian generasi ini, millenial paling mendapat banyak sorotan. Karena lahir di saat perkembangan teknologi. Mereka seolah tidak bisa lepas dari gawai. Media sosial menjadi bagian hidupnya (lifestyle). Instagram, Snapchat, Facebook, Twitter, Path maupun media sosial lain adalah makanan sehari-hari. Banyak dari mereka bahkan menjadi antisosial. Lebih sibuk berkomunikasi dengan lawan bicara melalui sosial media dibanding orang di sekitarnya. Hal ini juga diungkapkan Pew Research Center 2010.

Dari sekian proyek sosial para anak muda itu, saya kepincut dengan sebuah kampanye. Tidak sulit untuk mengikutinya. Unik dan sederhana. Begitu pikir saya pertama kali mendengar. Gerakan ini bernama ‘I Smile For You‘. Atau bisa disebut dengan Kampanye Senyum. Gerakan ini diinisiasi seorang perempuan bernama Fika. Seorang milenial. Dia meyakini bahwa senyum dapat membawa perubahan positif bagi kehidupan.

Ide Fika memang sederhana. Semua berawal dari keresahannya. Terutama pada milenial. Dia merasa teman satu generasinya itu begitu tergantung pada media sosial. Sehingga malah lebih memilih memberi senyum kepada teman bicaranya via teks di layar ponsel pintar.

Di lingkungannya Fika merupakan seorang introvert. Bahkan dia pernah dalam situasi paling rendah di hidupnya. Keinginan untuk bunuh diri kerap menghantui. Karena selama ini merasa kesepian dan tidak memiliki teman. Bahkan tiap orang yang dikenalnya dalam ranah media sosial kebanyakan berbeda bila bertatap muka secara langsung.

Dari semua kejadian itu, akhirnya Fika sadar. Bahwa ada hal perlu diperbaiki. Yakni banyak orang di sekitarnya tak peduli dunia nyata. Hingga suatu hari muncul gagasan dalam dirinya untuk memberi senyum kepada banya orang. Secara langsung. Tetapi, demi menyebarkan virus kampanye senyum, Fika tetap menggunakan media sosial. Bisa dijumpai pada akun Instagram @ismile4you_org atau tagar #ismile4you.

Saya pun turut mencoba kampanye ini. Senyum duluan. Biasanya di tempat umum. Seperti di stasiun ketika tidak sengaja saling pandang dengan orang asing. Saya akan senyum terlebih dulu. Kadang dibalas. Namun, ada pula tak mendapat respon serupa. Tidak masalah. Setidaknya sudah menebar kebaikan. Walau hanya sedikit. Efek lain saya rasakan adalah merasa lebih bahagia.

Baca Juga:  Terima Kasih Pada Ahok, Untuk Pendidikan Politik Anggaran Daerah

Gerakan sosial dilakukan Fika memang sederhana. Tapi dampaknya terasa. Kebahagiaan untuk diri sendiri. Juga kebahagiaan untuk orang lain. Nick Licata, politisi sekaligus aktivis asal Seattle Amerika Serikat pernah bilang dalam bukunya berjudul Becoming a Citizen Activist, “Tidak perlu menjadi Superman untuk bisa membantu orang lain. Ketika kamu merasa resah dengan persoalan di sekitarmu, langkah pertama adalah mengetahui siapa yang harus kamu ketuk pintunya. Keresahan ini tentu hanya bisa dirasakan oleh hati. Setelah ketuk pintu, mintalah dia untuk membuka pintu tersebut.”

Untuk itu, saya merasa millenial yang tumbuh bersama perkembangan teknologi tentu diberkati dengan kecakapan adaptasi dengan berbagai perubahan. Seharusnya kondisi ini bisa mereka manfaatkan. Tentu untuk arah lebih baik. Terlebih millenial hari ini juga telah memiliki suara dalam politik. Millenial, kita, punya kekuatan untuk sebuah perubahan. Tinggal, apakah mau mengetuk pintu atau tidak? Atau jika pintu telah diketuk tapi tak ada jawaban, apakah akan diam saja atau mengetuknya lebih keras.

Advertisement

Popular