Connect with us

Opini

Menuju Inovasi Kolaboratif 5.0: Tantangan Untuk Kemajuan Indonesia

Published

on

kolaborasi

Sejak era revolusi Industri, negara-negara di dunia telah mengembangkan berbagai inovasi dalam industri. Inovasi-inovasi ini pun memiliki sejarah dan melewati masa-masa penemuan, perbaikan, penemuan kembali, peningkatan kualitas dan seterusnya. Keseluruhan sejarah tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kenyamanan manusia yang senantiasa berubah-ubah.

Disiplin ilmu teknik tidak lagi melulu berfokus pada teknologi pembangunan fisik semata, namun sudah merambah pada dunia pertanian, ekonomi finansial, perdagangan dan lain sebagainya yang merupakan perwujudan keterkaitan  aspek-aspek kehidupan manusia dan antar manusia yang saling berkelindan. Karena sejatinya, inovasi teknologi adalah kreativitas manusia untuk menjadikan alam semesta dan tantangan kehidupan menjadi lebih relevan dan masuk akal untuk dijalani.

Revolusi Industri yang dimulai pada abad ke-18 adalah gebrakan pertama inovasi manusia (Industri 1.0) untuk mempersingkat waktu produksi, yang berarti memungkinkan para pekerja untuk memproduksi lebih banyak dalam memenuhi kebutuhan pasar. Inovasi-inovasi tersebut berlanjut pada penemuan listrik (Industri 2.0) yang memberikan dampak positif progresif pada berbagai sektor industri seperti pertambangan, agribisnis maupun untuk sisi kehidupan manusia secara umum dan mendasar.

Inovasi berikutnya adalah mengotomatisasi (Industri 3.0) berbagai penemuan agar lebih memudahkan manusia. Komputer dan peralatan lainnya mengalami perkembangan yang signifikan sebagai alat pengolahan dan penyimpan dokumen-dokumen berharga. Pemrograman komputer pun diarahkan pada sistem otomatisasi termutakhir. Hanya dengan menekan tombol pada komputer, proses produksi bisa berlangsung dari awal hingga akhir dengan pengawasan minimal.

Kini, dunia sudah memasuki era otomatisasi dengan kecerdasan buatan (Industri 4.0) yang bisa merekam dan meniru aktivitas pelayanan kebutuhan manusia. Ketika kita berbicara tentang agrikultural, kecerdasan buatan bisa memahami bagaimana hasil pertanian dapat ditingkatkan kualitasnya, dihilangkan sifat gen negatifnya, ditiadakan kemungkinan-kemungkinannya mengalami kegagalan panen, dan bahkan dilipatgandakan hasilnya. Ketika ini dilakukan, tentunya permasalahan pangan dan harga pasaran yang tinggi akan teratasi.

Baca Juga:  Zaman Milenial dan Cara Berpikir Kita  

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia adalah negara yang terlambat memulai inovasi teknologi. Kita tertinggal dalam revolusi industri 1.0, mengalami penjajahan dulu baru kemudian mendapatkan listrik pada industri 2.0, sedikit terlambat dalam industri 3.0, dan kini tertatih dalam industri 4.0 karena kondisi negara dengan penduduk yang beragam tingkah polahnya. Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa menguasai teknologi Industri 4.0 tersebut. Kita bahkan diharapkan bisa menciptakan sebuah revolusi industri baru, Industri 5.0 yang mewujudkan keterkaitan antara mesin dan manusia dalam sebuah simbiosis komensalisme, sehingga mesin tidak akan mengambil alih kehidupan manusia melainkan berada di dalam kendali penuh manusia tanpa merusak tatanan alam semesta.

Kita dapat melakukannya hanya jika setiap manusia Indonesia membuka wawasan dan mengubah cara pandangnya dari perspektif tunggal menjadi multi-persepsi. Dengan demikian, setiap inovasi yang disampaikan oleh setiap anak bangsa tidak akan terbentur oleh hal-hal yang bersifat prosedural birokratif. Karena, pada dasarnya, inovasi itu bersifat dekonstruktif; mendobrak kemapanan yang sudah ada dan mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa ditemukan dan diaplikasikan demi nilai-nilai efisiensi dan ekonomi.

Perindustrian Indonesia sebenarnya sudah  mengejar ketertinggalan melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan asing. Hal ini tidak boleh dianggap sebagai penggadaian atau penjualan negara ke tangan asing. Sebaliknya, kerja sama yang terjadi sangat menguntungkan Indonesia karena meliputi investasi asing yang tidak menyentuh APBN maupun APBD, kewajiban untuk memperkerjakan tenaga kerja profesional Indonesia dengan rasio jauh lebih besar dari tenaga asing, dan juga kewajiban untuk transfer teknologi.

Sebagai contoh, pembangunan pabrik Lotte Chemical dengan biaya investasi sebesar Rp52,5 T di Cilegon. Industri Petrokimia 4.0 kerja sama Korea dan Indonesia ini nantinya didorong untuk menjadi produsen terbesar di Asia untuk ethylene dan produk turunannya. Produk-produk semacam ini biasanya selalu  diimpor dari luar negeri sehingga membuat kita senantiasa menjadi konsumen yang memperkaya negara lain.

Baca Juga:  Bahaya 'Pekokisme' atas Nama Agama

Selain itu, Indonesia sudah melakukan pembangunan besar-besaran untuk memfasilitasi keterhubungan setiap daerah hingga ke desa-desa terpencil. Hal ini dimaksudkan agar setiap warga masyarakat di Indonesia dapat berkontribusi untuk menemukan masalah-masalah atau melakukan inovasi-inovasi dalam memajukan daerahnya. Ketika suatu masalah dikomunikasikan,  kerja sama antar warga masyarakat di daerah lain dapat membantu mencarikan solusi terbaik.

Kerja sama inilah yang disebut sebagai kolaborasi, yang pada masa perang kemerdekaan sudah dilakukan oleh para pejuang kita. Mereka menemukan masalah penjajahan dan menyatukan visi dan misi untuk memerdekakan Indonesia sejak masa kebangkitan di tahun 1908, lalu disambut dengan pergerakan pemuda di tahun 1928, hingga akhirnya Indonesia merdeka pada 1945. Kita tidak akan pernah merdeka bila kita berjuang sendiri-sendiri, yang pastinya akan lebih mudah untuk diadu domba.

Semangat kolaborasilah yang diperlukan oleh Indonesia saat ini. Kita tidak bisa berhenti berjuang ketika kemerdekaan sudah di tangan. Kita harus terus berjuang untuk menempatkan Indonesia dalam posisi terhormat di mata dunia dengan berbagai prestasi dan penemuan. Kita tidak boleh berhenti melakukan sesuatu untuk kejayaan bangsa ini, karena apa yang kita lakukan hari ini adalah apa yang akan menjadi catatan sejarah dan warisan bagi anak cucu kita sebagai penerus keberadaan Indonesia.

Advertisement

Popular