SERIKATNEWS.COM – GMNI Kediri yang diwakili oleh Imelda Tri Meiliani dan Lailatul Muharramah mengunjungi kantor P2TP2A Kabupaten Kediri, Selasa (20/10/2020) pagi. Mereka melaksanakan audiensi terkait tingginya angka kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Kediri serta untuk menyongsong 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang akan jatuh pada 25 November sampai 10 Desember 2020 mendatang.
“Sebelum kami datang di kantor P2TP2A ini, GMNI sempat mengadakan kerja sama dengan Aliansi Perempuan Kediri untuk mengadakan survei di media online terkait respons masyarakat tentang kasus kekerasan seksual, hasilnya lebih dari 70 orang yang mengisi form survei dengan usia 14-32 tahun pernah mendapatkan kekerasan seksual. Bentuk kekerasannya pun beragam, mulai dari catcalling, kontak fisik seperti peremasan payudara atau bagian sensitif lainnya hingga pemerkosaan,” terang Imelda Tri Meiliani selaku bendahara sekaligus Wakabid Sarinah DPC GMNI Kediri.
Imelda mengatakan bahwa faktor terjadinya kekerasan seksual itu beragam. Banyak hal yang bisa memicu terjadinya kekerasan seksual, mulai dari lingkungan yang tidak aman, minimnya sosialisasi tentang sex education, hingga ketidakberanian korban untuk speak up tentang pelecehan yang dialaminya.
Beragamnya faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual ini pula yang dicoba untuk dikomunikasikan dan dicari solusinya oleh GMNI Kediri dengan P2TP2A Kabupaten Kediri agar ke depannya kasus-kasus serupa setidaknya bisa diminimalisir di Kabupaten Kediri.
“Satu kasus kekerasan seksual yang terjadi itu sudah sangat banyak menurut kami. Kami mendesak P2TP2A untuk terus berperan aktif mengampanyekan program-programnya yang pro terhadap perempuan agar korban-korban kekerasan seksual yang mayoritas perempuan mau untuk bersuara dan bisa mendapatkan perlindungan atas keamanan dan stigma masyarakat yang sejauh ini masih saja dialamatkan kepada korban,” kata Imelda.
Pihak P2TP2A Kabupeten Kediri sendiri yang diwakili oleh Destina mengaku berterima kasih dan men-support penuh apa yang sedang dilaksanakan oleh GMNI Kediri dan komunitas-komunitas lain yang serius membahas isu tentang perempuan terlebih tentang kekerasan seksual.
“Sebelum adanya Covid-19 sebenarnya kami memiliki banyak program yang menyasar perempuan dan anak termasuk tentang sosialisasi anti kekerasan seksual. Namun, semenjak adanya Covid-19, program kami juga sempat terhambat karena biasanya kami datang ke sekolah-sekolah untuk mensosialisasikan dengan metode tatap muka,” ujar Destina.
“Meskipun tidak dapat semasif sebelumnya, kami mencoba terus untuk mensosialisasikan terkait pencegahan kekerasan seksual kepada perempuan dan anak lewat daring. Tapi itu tetap belum cukup. Kami berharap adanya GMNI dan komunitas lain yang peduli dengan isu perempuan dan kekerasan seksual dapat terus bersinergi untuk mengawal agar kasus kekerasan seksual di Kabupaten Kediri dapat berangsur-angsur turun,” imbuhnya.
Kemudian Imelda mengatakan bahwa mediasi yang dilakukan saat ini adalah awal untuk menyongsong 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Menurutnya, GMNI selaku organisasi kemahasiswaan bertanggung jawab atas masih banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Kediri.
“Tentunya GMNI tidak bisa sendiri, kami membutuhkan kerja sama kolektif masyarakat dan lembaga-lembaga terkait untuk mengawal dan melindungi korban kekerasan seksual serta terus aktif dalam mensosialisasikan gerakan anti kekerasan seksual agar tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan seksual yang membawa trauma berkepanjangan kepada korban,” pungkas Imelda.
Menyukai ini:
Suka Memuat...