Connect with us

Opini

Perbedaan Menjadikan 111 Tahun Kebangkitan Indonesia

Published

on

Kuatnya suatu negara tidak lepas dari peran para pejuang kemerdekaan, tidak lepas dari generasi berikutnya dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, juga tidak terlepas selalu diingatnya sejarah dari bangsa tersebut. Kebangkitan Nasional Indonesia merupakan periode pada paruh pertama abad ke-20, di mana banyak rakyat Indonesia mulai menumbuhkan rasa kesadaran nasional sebagai “orang Indonesia”. Setelah 350 tahun dijajah oleh VOC Belanda dan dalam masa perjuangan yang bersifat kedaerahan. Masa Kebangkitan Indonesia ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Latar belakang berdirinya Boedi Oetomo sendiri merupakan kesadaran para mahasiswa akan masa depan Indonesia yang bergantung di tangan mereka. Dan pada awalnya organisasi ini hanya bersifat sosial, ekonomi, dan budaya. Tidak ada unsur politik di dalamnya. Hingga di tahun 1915 organisasi ini menjadi salah satu wadah perjuangan untuk kepentingan politik.

Hari Kebangkitan Nasional pertama kali diperingati pada era pemerintahan Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 1948. Sejarah menyebutkan peringatan Hari Kebangkitan Nasional pertama ini kepanitiaannya diketuai oleh Ki Hajar Dewantara dan dalam pidatonya Presiden Soekarno mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia yang terpecah oleh kepentingan politik agar bersatu untuk melawan Belanda. Dan kala itu Soekarno juga menyampaikan bahwa Boedi Oetomo merupakan tonggak pergerakan nasional.

Bisa dikatakan bahwa kebangkitan Indonesia pada masa tersebut merupakan alat kepentingan politik para elite dalam melawan penjajah. Lalu bagaimana memaknai Kebangkitan Indonesia pada masa sekarang ini? Pada era saat ini Indonesia banyak sekali mengalami perubahan baik dari sisi ekonomi, sosial budaya dan politik. Salah satu prestasi membanggakan bagi negara Indonesia ini, mampu menjadi tuan rumah dalam perhelatan akbar olahraga negara-negara ASEAN di tahun 2018 serta menjadi Ketua Dewan Keamanan PBB dengan tema ‘Investing in Peace Including Safety and Performance of UN Peace Keeping’ di tahun 2019. Ini menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi Kebangkitan Indonesia saat ini dan juga bagi warga negaranya. Indonesia mampu menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia layak diperhitungkan dalam dunia Internasional. Dan dalam bidang politik, demokrasi Indonesia menjadi contoh di seluruh dunia.

Baca Juga:  Keadilan Ekonomi dalam Konteks Al-Qur’an dan Pancasila

Selain itu, dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, negara ini dibangun dengan sangat kuat. Kuat dalam pembentukan karakter bangsa dan kuat dalam sisi ekonomi. Kuat dalam karakter bangsa yaitu Indonesia terkenal dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” di mana identitas bangsa Indonesia terbangun melalui budaya, adat istiadat, suku, agama, dan bahasa. Persatuan dan kesatuan menjadi simbol utama dalam perekat bangsa ini. Perbedaan yang ada menjadikan Indonesia sebagai negara yang unik di mata dunia, Indonesia adalah negara beragama dan bukan negara agama. Perbedaan agama atau keyakinan ini adalah hal yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan menjadikan rule model negara-negara lain dalam hal toleransi beragama, sebagaimana kita tahu bahwa mayoritas penduduk Islam di Indonesia terbesar di dunia.

Dalam perkembangannya selain membangun infrastruktur, Indonesia dalam kebangkitannya juga membangun sumber daya manusia yang kecerdasannya mengungguli bangsa lain di dunia serta masyarakatnya menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Sehingga perbedaan yang ada bukanlah menjadi masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perbedaan dibangun untuk menjadi alat pemersatu bangsa ini sehingga semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi pegangan penting bagi bangsa Indonesia.

Dalam pembangunan sisi ekonomi, secara demografi Indonesia dalam menyongsong 2045, Indonesia diuntungkan dengan banyaknya usia produktif pada masa itu. Bappenas menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan PDB terbesar di dunia. Berdasarkan MER, rangking PDB Indonesia diperkirakan meningkat dari urutan 16 pada tahun 2015/16 menjadi urutan ke 9 pada tahun 2030 dan urutaan ke 4 pada tahun 2045 (untuk PwC pada tahun 2050). Hal ini terlihat dengan perkembangan e-commerce saat ini banyak didominasi oleh anak-anak muda kalangan millenial. Menjadi seorang entrepreneur muda serta memanfaatkan teknologi dalam membangun sisi ekonomi kreatif berkelanjutan menjadi tren masa kini.

Baca Juga:  Menuju Inovasi Kolaboratif 5.0: Tantangan Untuk Kemajuan Indonesia

Tentunya dengan kebangkitan Indonesia baru ini akan membawa dampak yang positif bagi generasi muda pada masa kini dan masa yang akan datang. Tetap dipegang teguhnya semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadikan Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkarakter. Pembangunan SDM yang terus berkelanjutan dengan menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika menjadikan dasar atau pondasi Kebangkitan Indonesia yang kokoh.

Biarlah perbedaan yang ada menjadi persatuan bangsa ini. Jangan menjadikan perbedaan menjadi masalah bagi bangsa ini. Ingat bagaimana perbedaan tersebut menjadi kekuatan para pejuang bangsa ini dalam mengusir penjajah dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga berdiri pada saat ini. Sebagai bangsa yang besar hendaknya selalu optimis dalam perbedaan. Sebab meskipun berbeda pendapat, golongan atau pun agama dan lain halnya kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia. Bangsa yang berbudaya, bangsa yang menjunjung tinggi pluralisme, bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika serta bangsa yang beragama.

Advertisement

Popular