Connect with us

Puisi

Puisi-puisi MH. Dzulkarnain

Published

on

Ilustrasi: Baktinusa

Kepada Nihalda Yang Tak Pernah Alpa

Apa kabar Nihalda…
Sudahkah engkau mentakrir rupa hari-hari puisi kita
Canda tawa yang kemarin sempat kubungkus dalam kantong WA
Semoga saja Tuhan membacakannya
Sampai mereka melihat kita, dalam satu sajadah
Kini, aku rasa sesuap kata tak pernah kunikmati lagi
Dari senyum narasi, yang biasa dan setia kau hidangkan di meja pagi
Bersama cericit para burung
Memanggil gigil namamu dalam dada palung yang telah patung

Nihalda…
Asal kau tahu? Aku adalah satu-satunya penyair yang galau
Dalam dingin hatimu yang surau
Dan Tuhan pun dengan suka rela
Mengutukku menjadi seekor Impeesa
Agar malam punya teman canda
Mengikis cahaya dari tubuh lilin tak berdosa

Ini semua hanya demi namamu yang kuimankan
Pagi-siang-petang kusimpan dalam dompet saku malam
Atau bahkan kugadaikan pada ruang remang
Agar segala yang menerang terang
Memelukmu dalam tenang angan

Nihalda…
Esok, mari kita berjumpa dan bersulam kembali di Baitul Kalam
Rumah di mana puisi kita bersembahyang

Annuqayah Mata Pena, 2021

Doa Sangkawi

Ya Tuhan…
Lindungilah hambamu ini dari godaan dan kutukan
Janda atau perawan

Dengan menyeruput hangat asma kasihnya
Yang maha puisi lagi maha penerang
Segala perih bagi yang tawa
Segala parah bagi yang mudah

Semoga saja,
Hamba jauh
Dari kerumunan celaan
Yang menyengat bau
Pada setiap penciuman

Ya Tuhan…
Aku ingin ia
Memeluk aroma asmara
Yang sedang bersulam malam
Lalu mengetuk pintu atau jendela rumah
Hingga masuklah ia
Menjeput hamba
Dalam rongga doa

Annuqayah Mata Pena, 2021

Di Wajah Layar Kaca

Di wajah layar kaca
Aku menemukan seorang perempuan
Berselendang kata memuja-muji Tuhan
Dan mengecup kening tuan-tuan
Dengan emoji bibir yang masih perawan

Baca Juga:  Cinta dan Rindu yang Singkat

Di wajah layar kaca
Raut wajah bahasa tak lagi utuh sempurna
Dari huruf per huruf hingga kata per kata
Tak lagi berpadu indah dalam satu wadah
Seolah-olah membabat cita rasa tatanan bahasa

Di wajah layar kaca
Aku disuguhkan hidangan siang dan malam
Olahan tanpa garam tanpa pemanis buatan
Rasa lapar terasa terbayar kenikmatan
Sampai-sampai waktu pun ikut tertelan

Di wajah layar kaca
Seorang perempuan yang tak pernah alpa
Melempar senyum ke ruang palung dada
Dan sesekali ia menitip pesan
Tentang hujan yang akan datang tiba-tiba
Sebagai tanda, bahwa relung hatinya telah singgah

Di wajah layar kaca
Aku pun bersaksi
Selain aku, tiada lagi penyair
Yang berani menafsir atau mentaksir
Segala bentuk molek surga
Di lekuk elok tubuhnya

Annuqayah Mata Pena, 2021

Detak Detik Jantung Waktu

Pada detak detik jantung waktuku
Paras wajahmu berlayar di pulau kalbu
Menjala rindu terlihat masih putih abu-abu
Meraba luka dengan kata yang tak pernah lusuh

Pada detak detik jantung waktuku
Dunia menjadi akun IG, FB dan WA Tuhanmu
Panorama indah di mana kita sesekali berseru aduh
Dan juga ada wajah-wajah dari yang gundah hingga yang gaduh

Pada detak detik jantung waktuku
Kau pelihara aku sebagai penyair lugu
Penyair yang tak pernah alpa mengabsenmu
Karena aku takut kau izin atau sakit dari ilmu penaku

Pada detak detik jantung waktuku
Maka aku sengaja membungkus segala yang surga di tubuhmu
Sebagai oleh-oleh dari Tuhan untuk Ayah dan Ibu
Agar mereka tahu bahwa kau juga bagian detak detik dari jantung waktuku

Annuqayah Mata Pena, 2021

Seberkas Kata

Jika memang senyum yang kau tanam di setiap tembok ruang Tuhan
Maka dengan hal itu, jangan sampai kau buat aku baper tujuh turunan

Baca Juga:  Untuk Pak Tua

Jika segala yang indah mekar bunga, masih perawan dari noda kata
Maka engkau satu-satunya bunga yang jandah sudah di mata pena

Jika puisi ini memang benar-benar anak yang lahir dari rahim cinta atau sedih
Maka sepantasnya kau adalah kehidupan dan kematian dari puisi itu sendiri

Annuqayah Mata Pena, 2021

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Terkini

Literasi1 jam ago

Metode Praktik dalam Pembelajaran Kreatif dan Inovatif di TK Dharma Wanita Moyoketen

GURU adalah sosok yang berjasa. Jika ada yang memposisikan guru sebagai seseorang yang pekerjaannya sebagai pengajar tentu tidak salah, tetapi...

Sosial-Budaya2 jam ago

Siswa Harus Cinta Tanah Air dan Kuasai Iptek

SERIKATNEWS.COM – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi menyebut kekhasan lokasi geografis menjadikan Indonesia negara subur dengan...

News2 jam ago

Presiden Jokowi Resmikan Pasar Pon di Kabupaten Trenggalek

SERIKATNEWS.COM – Dalam perjalanan menuju Helipad Menak Sopal, Kabupaten Trenggalek, Presiden Joko Widodo menyempatkan untuk singgah di Pasar Pon, Selasa,...

Politik2 jam ago

Fahri Hamzah: Pemerintah Buka Dong Peluang Bagi Daerah Ajukan Calon Presiden

SERIKATNEWS.COM – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah meminta pemerintah membuka peluang kepada daerah untuk mengajukan...

News2 jam ago

Lebih Hemat dan Aman, Ini Sederet Keunggulan Kompor Induksi

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) terus mendorong electrifying lifestyle atau gaya hidup baru dengan menggunakan peralatan serba elektrik yang bebas...

Opini3 jam ago

Nasib Dosen Tetap Non PNS, Pemerintah Bisa Apa?

Oleh: Adil Rahmat Kurnia (Ketua Bidang Perguruan Tinggi PB PMII) BERBICARA tenaga pendidik di lingkungan perguruan tinggi maka akan mengenal...

Ekonomi8 jam ago

Kemendag Dirikan Pusat Promosi Ekspor di Entikong

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendirikan pusat promosi ekspor di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Ditandai dengan penandatanganan nota...

Populer

%d blogger menyukai ini: