Berziarah ke Tubuhmu
Angin membawa kabar tentang seorang dara
Berembus merasuk ke dalam kata-kata
Satu persatu bianglala muncul di permukaan matamu
Selalu bertamu di telinga maupun di angan-angan
Menggurat pada garis-garis tangan
Derap langkah yang terpatah-patah
Menapaki jejak-jejak ditumbuhi bunga-bunga kematian
Masih ingatkah kau berziarah kepada tubuhmu
Yang telah lama kau tinggalkan?
Aku melepasmu sebelum waktu subuh
Sesudahnya aku mendekapmu pada petang yang belum ranum
Dibalik tubuh malam tersimpan wajah-wajahmu
Menabur di segala kagum
Mendenyut di segala dentum
Subang, 20 Mei 2020
Mencumbu Bulan
Kucumbu bulan
Sebagai pertanda
Aku cinta buana
Yang menangis di beranda
Isaknya menggugurkan
Rinai-rinai kesedihan
Subang, 2020
Haiku Silsilah Luka
Kesedihan mengintipku dari balik jendela
Seperti seringai serigala yang siap menerka
Kaulah raungan itu
Merapal doa silsilah luka
Dari derai sampai melerai segala duka
Kecupan terakhirmu seperti api
Selalu menyala meski dibabat sepi
Mencoba pulih dari catatan pilu
Merapal doa silsilah duka
Meneguk asa
Ribang dikala purna
Mengetuk-ngetuk pintu kesedihan
Malam ini, lamunan air berakhir
Mengalir hingga ke hilir
Berhenti pada pertemuan terkabulkan
Menjemput air mata
Selepas kedipan bintang
Nyalang terjaga
Menutup seribu pintu di segala pinta
Subang, 2020
Rinai Puisi
Tak ada yang kuwariskan di sini
Selain luka dan puisi-puisi kesedihan
Di penghujung malam,
Kubaca puisi itu
Seolah menyelami kelamnya masa lalu yang silam
Elegi renjana memahat jendela-jendela
Dengan air mata
Melimbur mengalir ke arah muara
Gelap telah menutup semua peristiwa
Tiada lagi gemercik air
Tiada lagi basah di tepi bibir
Subang, 2020
Kecupan Pertama Purnama
Malam ini, purnama mengecup mesra keningmu
Mengecap senyum dalam dinding-dinding waktu
Terpancar segala ingar di setiap kedipnya
Menjabat erat sepasang mataku
Tuk tetap singgah dan bermalam di matamu
Barangkali, pertemuan kali ini adalah perpisahan esok
Aku lebih baik tiada bersama langkah yang tak ada jejaknya
Kutunggu derai deras air matamu
Melihatku di pangkuan penuh nista
Dengan seluruh pandangan
Yang terpaku yang terpaut di hari-hari kepedihan
Subang, 8 April 2020
Meneguk Jarak
1/
Untuk ia yang sudah fana. Dikala semua terlelap dalam laci-laci kesedihan; merana dan telah kusembunyikan rona itu. Tak ada niat sederhana tuk kembali berpendar. Yang bisa saja kau lupa dengan segala; bencana, sebab langkahku amatlah lambat sedang lidahku kaku tak sempatku keluarkan ludah.
2/
Untuk ia yang belum kekal. Yang baru saja berganti sisik; barangkali hanya rencana. Aku akan menyimpan segala apimu diam-diam. Kubuat kasar daun wajahnya. Agar semua tahu seluruh manusia telah kau buat tersayat-sayat.
3/
Untuk saat ini yang telah lahir kata-kata. Sudah terjalin tanpa ada rasa. Terasa janggal bila tak membawa jemawa tanpa aba-aba dan lekas menjadi abu-abu. Semoga kau baik-baik saja. Terikat dari rindu dan riuhnya tanpa sebuah ruh dalam kekosongan senja yang telah lalu—panjang umur untuk hal-hal yang aman dariku.
Subang, 8 Mei 2020
Pegiat Komunitas Seni Budaya (KSB) UNY Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...