Connect with us

Opini

Wiji Thukul, Pergulatan antara Arena Sastra dan Arena Politik

Published

on

Ilustrasi Wiji Thukul © CNN Indonesia

Seandainya masih hidup, Wiji Thukul saat ini berusia 57 Tahun, dia lahir di Solo 26 Agustus 1963. Pada tanggal 22 Juli 1996 di Jakarta, tepatnya di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jalan Diponegoro, Wiji Thukul tampil ke panggung membacakan puisinya pada acara deklarasi berdirinya Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Dengan lantang dan suara pelo Wiji Thukul membacakan puisinya Sajak Suara dan Peringatan. Hingga muncul sebuah puisi yang kemudian menjadi sangat terkenal, yaitu Peringatan. Puisi ini menjadi bacaan wajib para demonstran. Baris terakhirnya menjadi sebuah ikon: hanya ada satu kata: Lawan!

Pada deklarasi berdirinya PRD, tanggal 22 Juli 1996 di atas, pembacaan puisi Peringatan oleh Wiji Thukul menjadi penampilan terakhirnya di depan publik. Sepekan kemudian Wiji Thukul menjadi buron dan hilang sejak 1998. Hingga sampai sekarang Wiji Thukul terkenal sebagai penyair dan aktivis politik yang dihilangkan paksa oleh negara.

Dari hal ini bisa kita simpulkan Wiji Thukul adalah seorang penyair yang berjuang di arena politik praktis. Wiji Thukul berjuang di dua arena yaitu arena sastra dan arena politik. Di arena sastra Wiji Thukul berjuang melalui puisi-puisi kritik sosialnya melawan hegemoni puisi-puisi romantik, sedang di arena politik Wiji Thukul berjuang melawan rezim kekuasaan Orde Baru yang anti kritik, menghubungkan kedua arena ini adalah puisi-puisinya.

Di dalam arena sastra saat itu berlangsung kuasa simbolik melalui doksa sastra universal. Sastra universal menurut Ariel Heryanto adalah sastra yang berasal dari batin, dan bukan dari kehidupan sosial. Menurut Pierre Bourdieu doksa adalah seperangkat kepercayaan fundamental yang bahkan dirasa tidak perlu dieksplisitkan, seakan suatu dogma. Dengan kata lain doksa adalah pandangan penguasa atau yang dominan yang dianggap sebagai pandangan seluruh masyarakat.

Baca Juga:  Amien Rais, Produk Gagal Muhammadiyah

Pada saat itu doksa yang berlaku adalah seseorang penulis belum dianggap sebagai sastrawan apabila belum mampu mendapat pengakuan dari lembaga, festival, dan penulis senior. Pada saat doksa sastra universal sedang berlangsung dengan sangat kuat, masuklah Wiji Thukul. Seorang penyair yang dilahirkan di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963. Wiji Thukul mulai menulis puisi sejak sekolah dasar.

Pada awal-awal menulis puisi Wiji Thukul menulis puisi dengan sub-genre romantis religius. Puisi telah menjadi bagian dari setiap tarikan napas Wiji Thukul. Selain di tempel di majalah dinding Teater Jagat sebagian puisinya dikirim ke Radio PTPN Rasitania Surakarta untuk diapresiasi dan dibacakan pada acara ruang puisi. Acara itu diasuh oleh Hanindawan (saat ini pengasuh Teater Gidag-Gidig Solo) dan Tinuk Rosalia (saat itu mahasiswa di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta).

Keduanya mengasuh acara tersebut pada tahun 1981 – 1982. Wiji Thukul termasuk penulis yang rajin mengirim puisi. Bagi Wiji Thukul pada waktu itu, menulis puisi seperti pergi ke gereja atau ke masjid dalam rangka mendekati Tuhannya. Wiji Thukul menegaskan lagi bahwa menulis puisi adalah sebuah pengalaman religi, seperti sedang berdoa.

Kemudian puisi-puisi Wiji Thukul berubah baik tema maupun gaya berpuisinya menjadi puisi-puisi kritik sosial. Wiji Thukul pertama kali menerbitkan kumpulan puisinya melalui Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) di Solo, sekarang Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS) pada sekitar tahun 1985.

Kumpulan puisinya itu berjudul Puisi Pelo, dicetak 100 eksemplar. Puisi Pelo sudah mengangkat tema kritik sosial, tetapi belum ada unsur politik praktisnya. Pada tahun 1994, Thukul menerbitkan kumpulan puisinya sendiri, dengan nama penerbit Manus Amci berjudul Mencari Tanah Lapang setebal 45 halaman. Judul puisi itu diambil Thukul dari sebuah sajak milik Pardi berjudul Mencari Tanah Lapang.

Sejak mengamen puisi keliling Jawa, nama Thukul mulai berkibar. Wiji Thukul memiliki jaringan dan publik sendiri. Wiji Thukul, bersama perupa Moelyono dan pelukis Semsar Siahaan mendirikan Jaker (Jaringan Kesenian Rakyat) pada tahun awal tahun 1994 yang tujuan awalnya adalah semacam pemberdayaan kesenian atau gerakan kesenian di daerah-daerah yang berbasis pada komunitas-komunitas kesenian di daerah.

Baca Juga:  Belajar Bernegara dari Mustafa Kemal Ataturk

Jaker tak hanya beranggotakan seniman, tetapi juga beranggotakan orang-orang dari Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) yang di kemudian hari menjadi Partai Rakyat Demokratik. Menurut Linda Christanty (aktivis PRD) salah satu fungsi Jaker adalah menjadikan seniman pengorganisasi rakyat yang secara tak resmi menjadi onderbouw PRD. Dari sini Wiji Thukul mulai membawa puisi-puisinya ke dalam ranah politik praktis, puisi-puisi kritik sosial yang merupakan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru. Dengan demikian Wiji Thukul harus berhadapan dengan kekuasaan pemerintah orde baru.

Kondisi sosial politik pada masa Orde Baru yang tidak memihak pada masyarakat kelas bawah menjadi tema-tema yang dipilih Wiji Thukul. Puisi-puisi: Suara dari Rumah Miring, Ucapkan Kata-katamu, Ceritakanlah Ini Kepada Siapapun, Apa Yang Berharga dari Puisiku, Puisi Menolak Patuh, Para Jenderal Marah-marah, Istirahatlah Kata-kata, Edan, Tikus, Hukum, Catatan, Puisi di Kamar, Sajak Suara.

Puisi lainnya: Peringatan, Nyanyian Akar Rumput dan lain-lainnya, menjadi puisi-puisi kontekstual yang ditakuti oleh rezim Orde Baru, karena puisi-puisi tersebut menuliskan realitas saat itu, puisi kritik sosial yang merupakan bagian dari sastra yang dilarang pemerintah.

Dari paparan di atas terlihat bahwa Wiji Thukul adalah seorang pejuang kemanusiaan yang berjuang di dua arena, yang pertama Wiji Thukul harus melawan dominasi kuasa simbolik sastra universal, dan yang kedua adalah melawan hegemoni rezim Orde Baru.

Lewat puisi-puisinya, Wiji Thukul melawan dua ranah dominasi ini, hingga Wiji Thukul harus dihilangkan paksa oleh negara. Sampai sekarang masyarakat masih menunggu janji dan harapan dari pemerintahan yang baru, untuk mengusut tuntas kejahatan kemanusiaan penghilangan paksa Wiji Thukul.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Politik7 jam ago

RUU Pemilu Ciptakan Elektoral Sehat dan Murah

SERIKATNEWS.COM – Komisi II DPR RI menargetkan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) bisa diselesaikan pada pertengahan 2021. Harapannya RUU...

Politik13 jam ago

Edhy Prabowo Ditangkap, Luhut Pengganti Sementara Jabatannya

SERIKATNEWS.COM – Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi ad interim Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal...

News20 jam ago

Sayangkan Demo Vandal, Ketua PP Jaktim: UU Ciptaker Penting Demi Majukan Iklim Investasi

SERIKATNEWS– Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Jakarta Timur menggelar kegiatan seminar online bertajuk “Undang-Undang Cipta Kerja dan Polemik Demonstrasi...

News20 jam ago

Generasi Muda Ka’bah Yogyakarta Deklarasi Dukung Suharso Munoarfa Jadi Ketum PPP

SERIKATNEWS– Keluarga besar Generasi Muda Ka’bah Wilayah D.I Yogyakarta mendeklarasikan dukungan kepada H. Suharso Monoarfa menjadi Ketua Umum PPP periode...

Hukum1 hari ago

KPK Resmi Tetapkan Edhy Prabowo sebagai Tersangka Suap

SERIKATNEWS.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sebagai tersangka kasus suap. KPK menyita...

Hukum2 hari ago

Diduga Korupsi Ekspor Benur, Edhy Prabowo Ditangkap

SERIKATNEWS.COM – Penyidik senior KPK Novel Baswedan turun tangan dalam aksi penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo. Dalam...

News2 hari ago

Projo: Jangan Takut Memilih di Pilkada 2020, Taati Protokol Covid-19

SERIKATNEWS.COM – DPP Projo menyerukan kepada masyarakat agar menyambut Pilkada 2020 dengan bersemangat. Sekretaris Jenderal DPP Projo Handoko mengatakan masyarakat...

Populer

%d blogger menyukai ini: