Robin Williams Tidak Mati karena Bunuh Diri, dan Seni Hanyalah Sebongkah Kotoran

2459

10 September adalah Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Saya tak pernah berpikir bahwa suatu saat saya akan membuat tulisan ini namun ada berbagai alasan yang membuat saya merasa wajib untuk, pada akhirnya, menuliskannya. Saya tulis ini di blog saya (aslinya bahasa Inggris, Robin Williams did NOT die of suicide, and art is sh*t), beberapa hari setelah Robin Williams, idola dan pahlawan saya, “bunuh diri”. Dia aktor komedi yang telah mengubah hidup saya. Banyak yang mengatakan di Twitter, terutama mereka yang termasuk kaum religius, bahwa ia sesungguhnya punya pilihan saat mengakhiri hidup. Mereka berpendapat bahwa ia berbeda dari mereka yang meninggal karena kecelakaan atau karena menderita sakit. Kata ‘bunuh diri’ memberi kesan bahwa itu terjadi karena keputusannya atau karena ‘dia memilih untuk mati di saat banyak orang berperang melawan kanker agar tetap hidup.’

Karena depresi adalah kondisi yang masih sering disalahmengerti, ya kita enggak bisa terlalu menyalahkan mereka yang belum terlalu memahaminya. Coba saja browsing sekilas, sangat sedikit orang yang bersimpati kepada mereka yang melakukan bunuh diri.

Anda tahu bahwa saya mengidap Asperger’s Syndrome dan efek sampingnya banyak: Merasa kesepian di tengah keramaian, punya perasaan dan reaksi yang aneh terhadap situasi sekeliling, butuh sendirian, kadang tidak mampu berkomunikasi atau bersosialisasi dan…. depresi. Jadi, saya benar-benar bisa mengidentifikasi diri saya dengan keadaan yang dilalui Williams, walaupun kondisi dia 10 atau bahkan 100 kali lebih buruk.

Depresi bukanlah sebuah pilihan, sama halnya seperti kita tak bisa memilih untuk menghindari kanker. Saat seseorang bunuh diri karena mereka depresi, ya mereka meninggal karena depresi, suatu penyakit yang membunuh jutaan orang setiap tahunnya. Sulit untuk tahu berapa tepatnya jumlah orang yang meninggal karena depresi setiap tahun karena statistik hanya menunjukkan berapa banyak orang yang mati bunuh diri setiap tahunnya (dan depresi hanya ada secara tersirat di balik angka-angka itu).

Baca Juga:  Tantangan Santri Di Zaman Now: Sebuah Refleksi

Saya merasa perlu untuk meluruskan stigma bahwa penderita depresi meninggal bunuh diri ‘karena itu kan salah mereka sendiri.’ Kita bisa punya pemahaman yang benar jika kita mulai mengarahkan perhatian kita kepada penyakitnya dan bukan pada gejalanya. Robin Williams bukan meninggal karena bunuh diri, dia mati karena depresi dan bagi dia ini bukanlah sebuah pilihan.

Dan ini ada kaitannya dengan seni. Eh? Akan saya jelaskan….

Saya menganggap bahwa seni adalah muntahan atau kotoran yang kami, para seniman, keluarkan. Ya, memang menjijikkan sekali, sih. Kami menciptakan karya seni karena ada sesuatu di dalam diri kami yang sebaiknya dikeluarkan. Jika tidak, itu akan menjelma jadi racun. Oleh karena itulah kami kerap enggak tahan mendengar musik kami sendiri atau melihat lukisan yang kami buat.

Karya seni yang sangat indah seringkali lahir dari rasa sakit dan penderitaan. Oleh karena itulah cukup banyak orang yang bingung kenapa seniman itu orang-orang yang kompleks. Ini terjadi karena kami harus menciptakan karya seni, dengan cara inilah kami mendapatkan keseimbangan bagi diri kami. Ini jelas beda dengan ‘orang-orang normal’ yang bisa merasa bahagia tanpa menciptakan karya seni.

Saya harap ada lebih banyak orang yang memahami hal ini: menciptakan seni tidak serta-merta berarti bahwa seniman itu ‘punya waktu dan merasa seneng aja gitu saat melakukannya,’ bukan… bukan begitu. Menghasilkan karya seni sangat berbeda dari iseng-iseng main puzzle atau mengisi teka-teki silang. Dan, kadang-kadang, mengeluarkan karya seni dari dalam tubuh kami tidaklah cukup.

Saya percaya bahwa saat kami dikaruniai dengan kreativitas, sesungguhnya ada sesuatu yang diambil dari kami. Ini adalah cara alam (atau Tuhan, saya rasa) untuk menciptakan keseimbangan. Oleh karena itulah saya rasa semestinya Anda merasa bahagia kalau tidak punya kebutuhan untuk berkesenian karena itu pertanda bahwa Anda sudah seimbang.

Baca Juga:  Mengenang Sang Penyair Chairil Anwar

Nah, sekarang kembali lagi ke Robin Williams. Saya sangat bersyukur atas perannya sebagai Profesor John Keating di film Dead Poets Society. Menyedihkan saat melihat bahwa Williams meninggal dengan cara yang sama dengan cara Neil meninggal di film tersebut. Profesor Keating mengingatkan saya akan makna hidup. Saya demikian dekat mengidentifikasi diri dengan Todd Anderson (dimainkan oleh Ethan Hawke). Dulu saya demikian penakut, merasa tak aman serta kerap kebingungan dan Keating, melalui tokoh Todd di film itu, telah mengubah saya. Keating mengingatkan kita semua lewat puisi Walt Whitman bahwa hidup akan terus berjalan dan ke dalamnya ”Kita bisa menyumbangkan secarik bait.”

Terus terang, jika saya melihat para seniman muda, misalnya para pianis muda yang ikut Ananda Sukarlan Award misalnya, saya suka merenung. Mereka, seperti saya, sangat mencintai musik dengan sepenuh hati. Saya ingat Neil di film Dead Poets Society. Semoga mereka memiliki masa depan yang cerah, dan semoga masyarakat kita semakin terdidik untuk menerima mereka sebagai seniman dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Requiescat in Pace, Robin Williams. Anda telah mengubah hidup minimal satu anak lelaki yang pernah sedemikian takutnya menghadapi hidupnya sendiri.