Menang Kompetisi Piano, Buat Apa?

537

Bulan Juli depan, pemenang Ananda Sukarlan Award 2018 Joshua Victor akan berangkat ke Perancis, atas beasiswa dari Kedutaan Perancis. Ia akan mengikuti masterclasses di Akademi musim panas di Nice yang sangat bergengsi, dengan pianis dunia Jacques Rouvier. Ini adalah hadiahnya atas memenangkan kompetisi yang sulit ini. Hadiah? Hmmmm…. biasanya hadiah itu membuat kita terbuai dan keenakan. Ini malah diberi tanggung jawab yang besar, serta “tekanan” untuk membuktikan kualitasnya di forum musik dunia. Bukan hanya ia akan menimba ilmu, tapi ia juga harus bisa menunjukkan bahwa musik (klasik) Indonesia ikut berkontribusi dalam perkembangan musik dunia. Dengan demikian, ia juga bisa membuktikan bahwa ia “berbeda”, ada sesuatu yang baru yang ia bisa tawarkan sebagai pianis, bukan hanya pamer kecepatan jari dan virtuositas di karya-karya piano Beethoven, Chopin yang “itu lagi, itu lagi”.

Mulai banyak kompetisi piano yang diadakan di Tanah Air, menyusul iklim musik sastra (istilah yang saya rasa lebih tepat daripada “musik klasik”) yang sangat hangat dan aktif saat ini. Tak dapat dihindari pergerakannya ke arah positif dan negatif. Pendidikan musik pada umumnya di usia yang sangat muda (di bawah 10 tahun) dalam artian membaca not balok dan memainkan instrumen (bukan hanya piano) memang bukan bertujuan utama untuk membuat anak-anak itu menjadi musikus di kemudian hari, tapi lebih ke pengaktifan otak yang lebih intuitif dan kreatif, sehingga mereka akan berkembang sebagai individu yang lebih peka, bukan hanya empatis, tapi juga dalam melaksanakan kualitas pekerjaan mereka yang sering tidak berhubungan sama sekali dengan seni. Dari pendidikan tersebut, sering secara tidak sengaja ditemukan bakat-bakat musik yang kadang luar biasa yang diharapkan dapat menjadi musikus handal di kemudian hari, di mana modal bakat saja tentu tidak cukup untuk itu.

Kompetisi piano adalah salah satu wadah bagi mereka untuk dapat menantang kualitas dirinya sendiri. Dua kata terakhir itu yang perlu diingat: dirinya sendiri. Pada dasarnya kompetisi seni apa pun tidak dapat disamakan dengan kompetisi olahraga, di mana sang kompetitor memiliki “lawan” atau “rival” karena bagaimana pun subyektivitas para juri ikut memegang peran. Yang bermain musik Tschaikovsky dengan tempo lebih cepat belum tentu menang, tidak seperti di kolam renang. Yang penekanan tuts pianonya paling kuat juga belum tentu menang karena ini bukan olahraga gulat. Bahkan yang meleset memencet tuts piano pun belum tentu terkurangi nilainya, sedangkan di olahraga panah, jika anak panah tidak tepat sasaran nilainya akan berkurang. Oleh karena itu, di ajang seperti ini sang peserta diharapkan berkompetisi dengan kualitasnya sendiri, dengan perbedaan antara apa yang diharapkannya sebelum naik panggung dan kenyataan yang terjadi di panggung, seberapa besar aspirasi artistiknya bisa direalisasikan di depan penonton dan juri.

Baca Juga:  Memetakan Terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi

Jadi, apakah tidak ada standar atau kriteria dalam penilaian juri? Tentu saja ada, hanya saja semua kriteria tersebut berhenti pada tahap teknik permainan serta pengetahuan akademik. Dan kriteria-kriteria tersebut sudah 70-80% terpenuhi oleh teknik permainan yang makin membaik oleh para pianis muda Indonesia saat ini. Setelah semua kriteria ini terpenuhi, saatnya “selera” memegang peranan. Masalahnya mulai timbul jika kompetisi dijadikan ajang “rebutan murid” oleh para guru musik yang notabene menjadi juri di kompetisi tersebut. Dan “selera” ini bisa saja diinterpretasi dengan subyektivitas yang memang tidak bisa dihindari, bukan hanya dari kualitas permainan, tapi menjalar jadinya ke “yang ini murid saya, jadi harus saya kasih nilai lebih tinggi daripada yang lain”. Bagaimana pun, nama guru akan terangkat jika muridnya memenangkan sebuah kompetisi, apalagi yang bergengsi. Masalah lain, mungkin yang paling penting tapi sering dilupakan adalah jika juri seorang pendidik tapi tidak merangkap seorang “performer” (dalam artian sebenarnya, bukan hanya bermain di depan murid-muridnya atau lingkungan sekolahnya), karena ia akan melupakan satu hal yang sederhana tapi penting: penonton datang ke konser untuk “disentuh hatinya”, bukan untuk mengontrol dengan stopwatch seberapa cepat sang pianis memainkan Chopin Etude serta menghitung jumlah tuts piano yang salah pencet. Kecepatan tempo, tingkat akurasi permainan yang tinggi, dll. tidak menjamin tingginya nilai artistik sebuah permainan piano, seperti yang saya selalu tekankan (dan sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia): Music serves to express, not to impress.

Indonesia sebagai salah satu pengguna terbesar media sosial di dunia, musik sastra-nya juga terwakili dengan begitu banyak pengikut Facebook dan Twitter. Banyak sumber informasi yang ditulis oleh para amatir, dan beberapa dari mereka memberikan informasi (bukan hanya opini) yang kurang tepat. Dalam kasus ini hanya waktulah yang dapat menyaring kualitas yang baik dari forum dan media tersebut yang saat ini tumbuh lebih dalam kuantitas daripada kualitas.

Baca Juga:  Persaingan Ketat Dalam Pilpres 2019 Terjadi Di Enam Propinsi

Saya akui bahwa kompetisi bukanlah cara terbaik untuk membangun atmosfir kesenian, tetapi sampai sekarang, inilah satu-satunya cara untuk seorang musikus muda memulai karir di musik klasik, pada kompetisi/audisi yang disaksikan publik menjadi sebuah platform di mana bakat seseorang ditemukan dan diakui. Jika ada metode yang lebih baik daripada audisi/kompetisi yang “fair”, metode itu harus bisa menjawab dua pertanyaan ini:

1. Bagaimana seorang produser/penyelenggara acara atau komponis mendapatkan dan menemukan musikus yang berkualitas, dan sebaliknya:

2. Bagaimana musikus yang berkualitas tapi tidak memiliki koneksi, uang yang cukup dan fasilitas lain mendapatkan kesempatan, atau “exposure” untuk bisa menunjukkan karyanya?

Asumsi bahwa kompetisi/audisi itu seperti lagunya ABBA: “The winner takes it all, the loser has to fall” itu sama sekali tidak benar. Justru berdasarkan pengalaman saya mengadakan kompetisi piano internasional Ananda Sukarlan Award sejak 2008, terdapat fakta yang malah menguntungkan yang “kalah” seperti ini:

1. Tahun 2008, Randy Ryan memenangkan juara III, saat itu usianya baru 15 th. Ia ikut kompetisi lagi th. 2012, dan ia memenangkan juara I. Kini, setelah ia lulus S1 di Juilliard School of Music, New York, ia diterima di Peabody Conservatory, Baltimore. Dua institusi itu dianggap yang paling “bergengsi” di Amerika Serikat.

2. Anthony Hartono “hanya” menjadi finalis di Ananda Sukarlan Award 2010 tanpa mendapat penghargaan apa pun. Memang sudah sulit untuk menembus ke babak final, tapi bisa bayangkan “gondok”-nya, sudah susah-susah masuk final, eh pulang dengan tangan kosong? Nah, 2014 dia mencoba lagi…. kali ini dengan teknik dan musikalitas yang jauh melebihi 4 tahun sebelumnya, dan dia menang Juara I! Bukan hanya itu, ia kemudian meraih berbagai prestasi setelah itu, termasuk terpilih untuk program Master di akademi musik terbaik di Eropa, Sibelius Academy di Helsinki (Finland).

Dua fakta ini tidak di”sengaja” terjadi, karena dewan juri setiap edisi berbeda, jadi mereka tidak mengenal siapa yang telah berpartisipasi di edisi sebelumnya.

Kedua pianis yang saya sebut ini kini mendapatkan beasiswa dari universitasnya untuk kuliah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah, sukses sering tidak tercapai langsung dalam satu kompetisi, “kegagalan” bukan berarti kiamatnya dunia tetapi memperkaya pengalaman. Itu pun saya alami di masa-masa muda saya. Di dunia seni, walaupun itu namanya kompetisi, saya percaya bahwa semua menang, hanya saja jumlah kemenangannya yang berbeda. Sometimes you win, sometimes you learn. Dari yang sering disebut “kekalahanlah” kita justru kita bisa memperbaiki diri, dan “kemenangan” malah memberi bahaya karena kita bisa terlena dan merasa bahwa kita sudah OK. “Kekalahan” juga seringkali adalah kemenangan yang tertunda, jika kita menganggapnya demikian. Kalau kita bersikap “ya udah” dan kemudian tidak bangun dari “kekalahan” tersebut, itu akan menjadi “ya udah” yang terealisasi.

Baca Juga:  Prahara Partai Golkar, Catatan Kecil untuk Yang Mulia Pak JK

Dunia seni yang sangat menjunjung tinggi kualitas produknya tidak dapat lagi berkembang melalui nepotisme atau persahabatan semata. Betapa pun cintanya anda terhadap istri atau anak anda (dan seringkali kasusnya merembet ke keponakan, sepupu bahkan tetangga), belum tentu ia dapat menjamin kualitas pertunjukan yang prima, betapa pun besar usahanya dan niat baiknya selain untuk memberikan yang terbaik, juga untuk membahagiakan anda. Mengambil bagian dalam kompetisi dan bagaimana mempersiapkan diri untuk itu sekarang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan musik, dan manfaatnya sekarang bahkan lebih bermakna, mengingat bahwa ada begitu banyak bisnis sekolah musik yang menawarkan pendidikan “instan”, memenuhi banyak harapan orang tua kepada anak-anak mereka untuk menjadi “jenius ” dalam bermain piano dalam waktu beberapa bulan. Kualitas seorang musisi hanya dapat dibuktikan dengan konser “live” atau rekamannya. Ekspresi yang ingin disampaikannya harus cukup dalam, sehingga tidak dapat disampaikan dengan kata-kata, ucapan atau tulisan. Hanya melalui sebuah kompetisi atau audisi seseorang dapat menyajikan kualitasnya baik kepada masyarakat luas ataupun ke para ahli yang bertindak sebagai juri. Hanya melalui kualitas tinggi para musisilah, musik sastra kita akan tumbuh dan berkembang, dan dalam jangka panjang itu membuat musik sastra diterima, “dipahami” dan akhirnya dicintai.

Sebetulnya, dengan perkembangan politik di negara saat ini, ada satu pertanyaan yang harusnya sudah disiapkan jawabannya oleh semua peserta kompetisi piano (siapa tahu, nantinya ada yang jadi calon presiden): “Siapkah anda untuk tidak menang kali ini?” Kalau anda tidak menang dan kemudian berusaha menghancurkan kompetisinya, itu sama saja seperti membunuh ayam bertelur emas. Kompetisi itulah yang justru bisa menjadi modal anda di masa depan!