Connect with us

Sosok

Sindrom Asperger’s, Disabilitas atau Superpower?

Published

on

Pianis Ananda Sukarlan (Foto: Istimewa)

Oleh: Dr Cindy Chen

Di film “The Predator” yang rilis tahun 2018, sang Predator akan membunuh semua manusia di bumi, kecuali anak dengan Asperger’s Syndrome. Para pengidap Asperger’s Syndrome, atau biasa disebut “Aspie” adalah “the next stage of the human evolution” jadi harus dibawa hidup-hidup untuk bahan penelitian demi menyelamatkan kelangsungan hidup mereka di planet mereka.

Dr. Hans Asperger, seorang dokter Nazi kesayangan Hitler, pertama kali mengidentifikasi sindrom yang termasuk dalam spektrum autisme ini tahun 1944. Saat Hitler sedang sibuk-sibuknya melakukan experiment euthanasia pada anak disabled, autistic, di dalam kamar gas, anak-anak dengan high fuctioning autism justru diselamatkan, dan seperti nama sang dokter, mereka disebut sebagai anak dengan “Asperger’s Syndrome”.

Michael Fitzgerald (Profesor psikiatri anak dan remaja pertama di Irlandia) menyatakan: “Proses evolusi manusia didorong oleh orang-orang dari spektrum autisme khususnya Asperger’s Syndrome”.

“Umat manusia masih akan tinggal di dalam gua jika bukan karena mereka,” kata Profesor Tony Attwood seorang Psikolog Australia. Ia membutuhkan waktu 30 tahun untuk menyadari bahwa anaknya adalah seorang Aspie, setelah anaknya kecanduan narkoba, dan masuk penjara.

Berdasarkan pengalaman pribadi, dia menulis buku yang berjudul “Asperger’s Syndrome and Jail”. Atwood menjadi orang pertama yang menyatakan bahwa Asperger’s Syndrome bukanlah suatu masalah yang harus “disembuhkan” tetapi justru adalah sebuah anugerah.

Greta Thunberg, seorang aktivis lingkungan berusia 16 yang tahun yang terpilih sebagai “Person of the Year” majalah TIME yang juga memiliki Asperger’s syndrome, merasakan adanya perbedaan, tapi bagi dia perbedaan itu justru adalah superpower baginya.

Missdiagnosed, undiagnosed, sering kali terjadi banyak potensi “Gifted People”, “People with Super Power” tidak tergali dengan baik. Awareness orang tua menjadi sangat penting. Sindrom Asperger memang langka, tapi beberapa orang ternama di dunia justru mengidapnya. Statistik terakhir menyebut bahwa di Amerika Serikat, 1 dari 250 orang mengidapnya.

Baca Juga:  Gus Dur dan Agamawan “Kemrungsung”

Di dalam buku Asperger’s and Self-Esteem: Insight and Hope through Famous Role Models, karangan Norm Ledgin mengklaim bahwa “thirteen giants of history” adalah orang-orang yang memiliki Asperger’s syndrome. Dipercaya bahwa: Marie Curie, Albert Einstein, Mozart, Shakespeare, Jane Austen, Charles Darwin, Galileo, Pablo Picasso, Benjamin Franklin, Margaret Mead, Aristoteles adalah orang-orang yang mengubah dunia justru karena mereka memiliki Asperger’s syndrome.

Di Indonesia, pianis dan komponis Ananda Sukarlan serta pakar neurologi dan spesialis bedah syaraf Dr. Ryu Hasan adalah pengidap Asperger’s Syndrome. Lengkapnya, para pesohor dunia yang juga memiliki asperger’s sydrome bisa dibaca di sini: https://health.detik.com/fotohealth/d-4036989/seperti-ananda-sukarlan-para-pesohor-ini-juga-idap-sindrom-asperger

Ananda Sukarlan bahkan tidak tahu dia memiliki Asperger’s Syndrom hingga umur 28 tahun. Sindrom Asperger telah membantu menjadikannya sebagai seorang pianis yang disebut Sydney Morning Herald sebagai “salah satu pianis terkemuka dunia… di garis depan memperjuangkan musik piano baru”, tapi tentu akan berbeda ceritanya apabila pianis ini tidak memiliki kesempatan untuk belajar piano.

Bayangkan, seorang Ananda Sukarlan jika saja tidak berkesempatan untuk belajar piano, melainkan dicekoki rumus matematika, kimia, fisika, mungkin, bisa jadi, akan menjadi bagian dari orang-orang yang hari ini dianggap bodoh dan tidak berguna.

Sebagai orangtua, sekali lagi awareness itu penting sekali. Kalau anak kita cenderung pasif dan sulit berinteraksi dengan lingkungan, bisa jadi dia mengalami Asperger’s syndrome. Orangtua harus bisa membantu mencari minat dan bakatnya, “karena berlian pun indah karena diasah”.

Advertisement

Popular