Connect with us

Opini

Tantangan NU, Antara Ideologis dan Hoaks

Published

on

Ilustrasi: Okezone

Menjadi NU tidak cukup hanya mengamalkan tradisi keagamaan yang sudah diajarkan dan dipraktikkan oleh kiai-kiai NU dulu. Meski ada anggapan bahwa menjadi NU atau disebut NU cukup dilihat dari baca do’a qunut di salat subuh, azan 2 kali di salat Jum’at dan yasinan di malam Jum’at. Yang seperti ini sebenarnya bukan halaman depan NU, tapi semacam ‘arodl (sifat suatu bentuk) bagi ciri khas orang NU.

Tentunya, dengan memasuki rumah besar NU adalah sikap ideologis, bukan pula menjadi beban. Sebab NU menawarkan kemaslahatan dan keberkahan, artinya maslahat dari terhindarnya sikap dan praktik beragama yang mafsadat, dan karena ulama adalah yang diangkat derajatnya oleh Allah SWT maka kita ini mengharap pula keberkahannya para ulama yang dianugerahi itu.

Orang Islam yang ada di garis “radikalisme”, yakni kelompok Wahabi dan Khowarij cenderung menentang praktik-praktik keagamaan orang NU (Nahdliyin). Hal ini sudah lama terjadi dengan alasan berbeda teologis dan syariat, kini bertambah pertentangan itu akibat yang politis.

Agama sudah merangsek menjadi isu politik, seolah tindakan dan sikap politik jauh dari tuntunan agama (syariat), akibat paham agama yang dangkal dan lebih berorientasi pada paham terjemah (tekstualis). Hingga kita pun merasa bahwa ini tantangan ideologis yang memang tak kunjung selesai. Dialektika tersebut masuk ke ruang sempit “klaim paling benar” bahkan lebih ekstrem berbeda sedikit dari satu paham itu berarti musuh dan dicap munafik atau kafir.

Negeri kita ini, ditakdirkan sebagai negeri yang memiliki banyak etnis, suku, bahasa, adat istiadat serta banyak agama. Apa dengan pemaksaan monolitas dengan alat kekuasaan terhadap heterogenitas itu bisa dipaksakan agar melebur menjadi budaya Arab yang disebut paling Islami? Itu saya kira utopis.

Baca Juga:  Pengkhianatan atas Moralitas dan Kemanusiaan

Islam adalah risalah Ilahi yang diperuntukan bagi semua umat manusia bahkan jin (rahmatan lil alamin), dengan komprehensefitas ajaran dan adab menjadikan Islam sebagai agama yang mengajak persatuan umat manusia yang heterogen, mengajak kedamaian dengan saling menghormati dan saling mengasihi. Ini massage Islam dari Rasulullah SAW yang tengah diterapkan oleh umat Islam (NU) di Indonesia. Tauladannya adalah prinsip adab kiai-kiai pesantren (NU) di seluruh peloksok negeri. Jika ada yang bilang bahwa “mereka umat Islam Indonesia beragama tanpa syariat” maka kita memastikan bahwa yang bilang seperti itu sama halnya “mabuk agama”, atau pemeluk yang “gagal paham”. Seperti baru bangun tidur dari lamanya mimpi.

Opini “khilafah adalah solusi” merupakan bentuk sikap dan pemikiran melampaui batas ( غلو ) dari penganut-penganut paham Taqiyudin an-Nabhani yang diprinsipi harokah Ikhwanul Muslimin (dengan orientasi Pan-Islamisme ), yang sebenarnya dan sesuai faktanya penegakan khilafah adalah lemah secara hukum dan cenderung merusak inti ajaran Islam yang menganjurkan musyawarah. Bisa kita sebut Islam rusak bukan dari luar Islam menyerang dan memerangi, tapi lebih kepada pengrusakan terhadap Islam karena kebodohan yang dipertontonkan.

Islam disampaikan tidak dengan perang, tidak dengan pemaksaan, tidak dengan kekerasan. Tapi dengan al-hikmah (bijaksana), mauidhoh al-hasanah (pitutur yang bagus), ajakan yang memberi kebebasan berpikir dan memilih dengan prinsip rasionalitas.

Dalam kitab الاقتصاد في الاعتقاد Hujjatul Islam Imam al-Ghozali telah menegaskan soal khilafah (sejak dulu dipertentangkan), bahwa khilafah tidak penting itu karena bukan rukun Islam dan bukan pula rukun Iman. Soal hukumnya pun masih debatable, pastinya bukan wajib.

:قال الغزالي

النظر في الامامة ليس من المهمات, وليس ايضا من فن المعقولات فيها, بل من الفقهيات , ثم انها مثار للتعصبات , والمعرض عن الخوض فيها اسلم من الخاءض , بل وان اصاب فكيف اذا اخطاء

Baca Juga:  Niqob dalam Fungsi Agama dan Budaya

Artinya: pemikiran tentang imamah (khilafah) bukan hal penting, ia juga bukan termasuk pelajaran yang bersumber aqal pemikiran, tetapi bagian termasuk ilmu fiqih. Masalah imamah berpotensi melahirkan sikap panatik buta. Orang yang menghindar dari menyelami soal imamah lebih selamat daripada yang menyelaminya, mekipun menyelaminya dengan benar, apalagi jika kemudian salah.

Jadi clear (jelas) khilafah bukan lagi sistem aturan yang solutif dalam relasinya negara dan umat, melainkan hal yang tidak penting diterapkan jika kemudian ada sistem yang justru menerapkan prinsip Islam, yakni kemanusiaan, persaudaran sesama umat manusia, keadilan, kebenaran, kesepakatan dan musyawarah, dan itu ada pada demokrasi.

Tantangan yang paling mendesak dan daya efeknya domino adalah “semburan hoaks” yang terus diproduksi oleh mereka-mereka yang secara prinsipil tidak mengakui dasar negara, dan menolak konstitusi karena bagi kalangan (pengusung khilafah) diyakini sebagai produk thoghut (ajaran setan).

Militansi terhadap sebaran hoaks dan hate speech terhadap keajegan ajaran, tradisi baik, keadaban dan kesalehan sosial serta ketokohan adalah doktrin yang berbasis “kedangkalan ilmu agama dan akhlak”.

Bersatu dalam ritme pergerakan dan satu komando menjadi jawaban tegas atas tantangan-tantangan itu. NU satu barisan dalam membela agama, bangsa dan negara. “Jika takut pada gelombang laut, jangan pernah berlayar, dan jika takut pada badai ombak jangan sekali-kali membuat rumah di pantai.” Pertaruhan hidup ini didasari cinta tanah air, pengabdian dan kerja keras, maka di sana bisa kita lihat siapa yang memenangkannya.

Advertisement

Popular