Connect with us

Budaya

Antropolog Sebut Rendang sebagai Identitas Budaya

Published

on

Ilustrasi Pelayan Masakan Padang © Kaskus

SERIKATNEWS.COM – Antropolog Universitas Andalas (Unand) Padang, Dr. Yevita Nurti mengatakan bahwa rendang bukan hanya sekadar makanan klasik Minangkabau. Namun, rendang telah menjadi identitas budaya Minang yang mendunia.

“Rendang bukan lagi sebatas makanan tapi sudah mengglobal dibuktikan ketika seseorang bepergian ke luar negeri atau daerah lain begitu menyebut rendang akan diidentikkan dengan Padang dan Minang,” kata Yevita Nurti di Padang pada Sabtu (4/7/2020), seperti dilansir dari Republika.

Yevita Nurti mengatakan bahwa rendang telah menjadi identitas budaya dan di semua tempat di Tanah Air maupun luar negeri yang namanya rumah makan Padang pasti ada menu rendang.

“Demikian juga bagi orang Minang yang tengah berada di luar Sumbar atau sedang merantau, masakan Minang akan tetap melekat di lidah mereka sebagai salah satu identitas budaya,” katanya.

Menurutnya, bahan yang digunakan untuk membuat rendang penuh dengan filosofi dan simbol yang diolah dengan tahapan tertentu. Hal tersebut menanamkan kesabaran hingga hasilnya pun hadir rendang sebagai makanan yang tahan lama hingga satu bulan.

Akan tetapi, dia melihat rendang yang dibuat orang Minang tempo dulu dengan yang sekarang sudah mengalami banyak perubahan. “Rendang tempo dulu dibuat dengan bahan terbaik dan dimasak dalam waktu lama menggunakan kayu bakar,” katanya.

Sementara itu, rendang saat ini banyak yang sudah instan dan dimasak menggunakan kompor gas dalam waktu cepat. Namun menurutnya, masyarakat sudah lebih kreatif dalam mengolah rendang dengan bahan lain mulai dari belut, ikan, telur, pakis dan lainnya.

Yevita menambahkan, unsur budaya melekat kuat dalam rendang dan tergantung sumber daya lingkungan yang ada di sekitar.

Menurutnya, kompleksnya campuran bumbu rendang tentu dipengaruhi oleh masuknya pedagang asal India ke Minang membawa rempah yang kemudian terjadi akulturasi budaya dalam makanan.

Baca Juga:  Konservasi Lontar Masih Terganggu Sikap Sebagian Masyarakat

Terkait dengan masakan Minang yang identik dengan penggunaan santan dan cita rasa pedas, dia mengatakan bahwa terdapat pepatah dalam adat yaitu “condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak”.

Adapun arti dari pepatah itu adalah kecenderungan mata melihat yang indah dan kecenderungan selera merasakan yang enak.

“Bagi orang Minang yang namanya makanan enak itu betul-betul ada di lidah yang harus kaya dengan rasa,” pungkasnya.

Advertisement

Popular