Bu Guru Kurnia dan Gerobak Literasi

11
Ilustrasi (Kompas)

SERIKATNEWS.COM – Kurnia Astuti, seorang guru SDN 003 Tenggarong, Kalimantan Timur, sejak bulan April 2019 secara rutin berkeliling kompleks perumahan tempat ia tinggal menawarkan warga untuk membaca buku.

Tidak sendiri, Ibu Guru Kurnia ditemani tiga anaknya yang masih kecil; Bilqis (kelas empat SD), Yasmin (TK) dan adiknya Asifa (3 tahun). Buku-buku milik pribadi berbentuk komik, novel, majalah dan lain-lain tersebut dibawa dengan gerobak dorong yang biasa digunakan untuk membawa galon air.

Jadwal Ibu Guru Kurnia berkeliling kompleks menawarkan buku dilakukan setiap hari Jumat pukul 16.30-17.30. Mereka tidak hanya keliling kompleks perumahan mereka sendiri, tetapi juga kompleks tetangga.

Gerobak Literasi

“Bersama anak-anak saya, saya dorong gerobak menawarkan pada siapa saja membaca secara gratis, terutama anak-anak. Saya merasa terpanggil setelah melihat besarnya kecenderungan anak-anak disini buang-buang waktu bermain gadget,” ujar bu Kurnia, dikutip dari kompas.com.

Lewat berkeliling mendorong ‘gerobak literasi’ Ibu Guru Kurnia menyampaikan harapannya bahwa ingin anak-anak di kompleksnya lebih mampu memanfaatkan waktunya dengan rajin membaca buku.

Orang tua dan anak-anak pun menyambut gembira kegiatan bu Kurnia. Bahkan, menurut Bu Kurnia beberapa orang tua memerintahkan anak-anaknya gabung membaca, daripada bermain gadget saja.

Pada bulan Mei ini, karena puasa ia tidak keliling melainkan mempersilakan pembaca datang langsung ke perpustakaan mininya di rumah.

“Buku saya belum begitu banyak. Tapi saya nanti akan pasang banner rumah baca di rumah saya. Saya mempersilahkan siapa saja menyumbang buku dan akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk gerakan literasi,” ujar salah satu fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation ini.

Sambangi TPS Pemilu

Patut diacungi jempol keberanian dan semangat Ibu Guru Kurnia beserta keluarga saat Pemilu 17 April 2019 lalu. Dibantu suami, Syamsul Efendi, ia membawa gerobak baca keliling tersebut ke tempat pemungutan suara (TPS) dan membuka lapak baca di situ.

Baca Juga:  Jokowi dan Model Baru Kampanye Pilpres 2019

“Saya amat prihatin dengan tingkat literasi di Indonesia. Jadi saya mencoba menggugah semua orang untuk tergerak mau membaca,” ucapnya.

Pada awalnya hampir tak ada orang yang menggubris lapaknya di TPS tersebut. Kebanyakan orang-orang asyik bermain Hp sambil menunggu waktu mencoblos.

“Saya sampai tawarkan ke tempat duduk mereka. Saya katakan tidak dipungut biaya, tapi tetap tak ada yang menggubris,” kenangnya.

Orang-orang baru perhatikan lapak membaca tersebut, saat tiba-tiba pejabat provinsi dan kabupaten datang berkunjung ke TPS tersebut, di antaranya Kasi Perpustakaan Kabupaten Idmansyah, dan Pejabat Dinas Kebudayaan Daerah Pak Yuyun.

Ternyata para pejabat tersebut tidak langsung menuju ke TPS, tapi ke lapak baca yang didirikan ibu Kurnia. Melihat hal tersebut, orang-orang baru ikut-ikut mengapresiasi kegiatan bu Kurnia.

Awal Bukan Pembaca

Menurutnya, karena kegiatan buka lapak baca di tempat pemungutan suara tersebut, akhirnya ia cukup dikenal dan diminta untuk menjadi narasumber literasi di beberapa tempat.

“Melihat saya gigih membuka lapak pakai buku-buku pribadi di tempat umum, Kasi Perpustakan mengundang saya jadi narasumber kegiatan literasi di perpustakaan daerah dan juga mengisi kegiatan di Taman PINTAR. Saya juga akan mendapat hadiah tambahan buku dari Rumah Budaya Kutai,” ujarnya.

Menurut Ibu Kurnia, awalnya ia bukanlah pembaca buku rutin. Ia baru tergerak rutin membaca setelah ia membaca banyak artikel tentang pentingnya gerakan literasi dan ikut pelatihan budaya baca Tanoto Foundation.

“Walaupun saya suka menulis diary. Bahkan diary saya sampai 30 buku. Saya awalnya bukan pembaca yang baik,” ujarnya.

Kini ia selalu luangkan diri setiap hari untuk membaca buku. Bahkan bersama suaminya, ia sepakat untuk membuat program khusus membaca bagi keluarga tersebut.

Baca Juga:  Pengamat: Andika Bisa Lahirkan Paradigma Baru TNI AD

Setiap pagi, anaknya yang SD setelah salat subuh diwajibkan membaca selama 10 menit. Sedangkan tiap malam, ia dan suaminya bergantian membacakan pada anak-anaknya buku cerita.

“Karena kegiatan ini, anak saya yang usia tiga tahun sekarang sangat menyukai buku. Untuk tiga buku favoritnya, walaupun Ia belum bisa membaca, ia sudah hapal isi buku kecil tersebut tiap halaman,” ujarnya.

Sedangkan anak paling besar, menurutnya Bilqis sudah pandai menceritakan kembali isi buku.

“Selain saya minta menceritakan isi buku bacaan lewat lisan, saya juga gunakan kertas bekas untuk membimbingnya menceritakan buku yang ia telah baca lewat tulisan. Hasil karyanya kemudian ditempel di kotak membaca seperti kotak kado dan jadi hiasan di rumah kami.“

Ibu Guru Kurnia juga mengaku saat ini sedang menyusun sebuah buku dan sudah dihubungi oleh penerbit.

“Semoga saya benar-benar bisa menerbitkan buku,” harapnya.