Cak Nur dan Gus Dur Membangun Sikap Kritis

66
gus dur
Ilustrasi: kajanglako.com

Kepentingan kemanusiaan adalah kepentingan yang menjadi titik balik atas kesejahteraan bangsa. Hal ini menjadi salah satu grand-desaign sebuah pemikiran yang dibangun oleh Nurcholis Madjid (red. Cak Nur) bahwa kemanusiaan adalah tujuan akhir dari hubungan sosial. Kerukunan menjadi orientasi dari proses konsep kemanusiaan itu sendiri. Di mana menjadi satu keniscayaan ketika kemanusiaan dijunjung tinggi oleh setiap manusia, tanpa melihat baju agama, ras, dan budaya.

Di samping Cak Nur, Gus Dur selalu lantang dalam membela kemanusiaan. Humanism adalah proses perjalanan Gus Dur. Ia memberikan pelajaran yang sangat penting yaitu tentang rasa hormat kepada siapa pun. Maka tidak heran ketika ia dicintai oleh khalayak luas. Gus Dur memberikan sumbangan cakrawala berpikir tentang adab atau moral yang sepatutnya dimiliki oleh setiap manusia. Hal ini tentu bukan saja menjadi tanggung jawab personal tetapi menjadi tanggung jawab pendidikan bangsa.

Cak Nur dan Gus Dur adalah sudut pandang yang luas untuk menyikapi sikap pikir dan sikap kritis atas pluralnya kehidupan. Sikap pikir dan sikap kritis yang seharusnya dimiliki adalah dinamisasi dalam hubungan manusia. Harapannya adalah mampu melebur dengan kehidupan yang plural, dari berbagai kondisi kehidupan manusia saat ini. Khususnya ketika menyangkut hubungan agama dan hubungan ras.

Bagi Gus Dur, Islam harus aktif membaca serta tanggap menghadapi kehidupan yang semakin modern. Sedangkan Cak Nur dengan konsep Islam moderatnya lebih kental akan sikap pluralnya. Keduanya memberi dorongan untuk menemukan kesamaan dalam sikap beragama, sehingga tidak membedakan mana yang lebih baik dan lebih buruk. Kesamaan yang dimaksud adalah ruang kemanusiaan dalam sudut pandang agama formal. Karena tidak mungkin setiap agama memerintahkan untuk berpecah belah.

Baca Juga:  Milenial, Jangan Golput

Sikap saling menghargai dan menghormati inilah yang menjadi satu kampanye kritis atas perkembangan kehidupan beragama yang cenderung tertutup dengan dalih kembali kepada khittah atau pemurnian. Gus Dur menanggapi bahwa Cak Nur berangkat dari keterbukaan dan pola pikir Islam yang ditunjukkan pada puncak kejayaan Islam di masa lalu, begitu juga sebaliknya. Namun perbedaan keduanya ternyata dibangun atas pandangan-pandangan publik. Padahal keduanya memiliki kesamaan dalam sikap kritis atas kemanusiaan. Di mana sikap kritis ini dibangun atas pandangan keduanya terhadap sikap Islam yang cenderung tertutup.

Maka menjadi penting ketika orientasi beragama adalah menjaga kerukunan, khususnya kerukunan antar agama itu sendiri. Hal yang paling objektif adalah ketika sudut pandangnya dibangun atas dasar rahmatan lil alamin. Inilah yang menjadi jalan perjuangan kedua tokoh di atas. Pemahamannya bukan mengajukan keagamaannya melainkan bagaimana bersikap kepada setiap manusia tanpa melihat jubah keagamaannya.

Norma yang dibangun adalah sikap santun atas keberagaman. Keberagaman yang sudah ada sebelum agama datang kemudian. Luasnya sudut pandang Gus Dur dan Cak Nur memberi bimbingan moral dan sikap kritis kepada kehidupan selanjutnya. Di mana banyak benturan yang dibangun atas nama agama dan organisasi sosial, pun terkait ras. Problem yang ada justru menyempitkan Islam itu sendiri, atau agama yang lain, ketika hanya saling memasang sikap keras kepala atas pembenaran masing-masing.

Oleh karenanya masih menjadi satu kepentingan bagi kita untuk selalu me-review dan me-refresh pemahaman kita tentang sikap beragama, karena sikap kritis atas kehidupan yang terus berkembang bukan menitikberatkan atas kepentingan agama secara sepihak, melainkan menjaga hubungan baik antar sesama manusia. Di samping itu menjadi tujuan bangsa Indonesia, yaitu kerukunan—Binneka Tunggal Ika.

Baca Juga:  Kecerdasan Adalah Kunci Keberhasilan dalam Revolusi Industri 4.0

*Tulisan ini saya dedikasikan untuk Guru Bangsa KH. Abdurrahman Wahid, serta menyambut kemerdekaan Republik Indonesia.