Connect with us

Cerpen

Merdeka?

Published

on

Merdeka

“Jika kita telah merdeka, kenapa setiap hari aku harus berjalan kaki 2 jam lebih ke sekolah?”

~ Prasasti, siswi kelas 2 SDN 03 Tegalwaru, Purwakarta.

 

***

Bendera merah putih setengah basah menggantung di tiang bendera yang terbuat dari bambu bercat putih. Tak terlalu tinggi, tak sampai 2 meter. Mungkin menyesuaikan ketinggian atap bagian depan rumah bernomor 18 Kampung Cilanggohar, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru itu. Lumpang, sebuah batu besar berlubang tengahnya yang pada masa lalu digunakan untuk menumbuk jagung menjadi tempat berdirinya. Yang membuat Merah Putih semakin bersahaja.

“Bu, kenapa kita harus merdeka?”

“Karena kita tidak mau terus-terusan dijajah oleh bangsa asing.”

“Bangsa asing itu jahat ya, Bu?”

“Waktu itu, iya, mereka paksa kita kerja tanpa istirahat. Mereka tembak siapa saja yang melawan.”

“Mereka itu …?”

“Ya Belanda, Jepang, Inggris. Semuanya.”

Azan subuh baru berlalu, burung-burung belum berkicau, seorang gadis kecil berjalan bergandengan dengan ibunya. Menyusuri kebun tanaman karet yang gelap, hanya mengandalkan cahaya obor. Langkahnya mendadak gontai. Kerikil mulai usil bermain di sela-sela jari kakinya. Dari kelingking, pindah ke tengah, pindah lagi ke jempol agak sedikit lama, sekarang bermukim di telapak kaki tengah. Yang semula geli sekarang terasa menusuk. Ia hentikan langkahnya. Ia lepas genggaman ibunya.

“Kenapa, Nak?”

“Ada batu. Nakal.”

Dengan sigap ia buka tali sepatunya dan …. Puk! Puk! Puk! Ia pukul-pukulkan sepatu kanannya ke tanah. Merasa sudah hilang si kerikil nakal itu, ia intip lubang kecil di bagian kelingking sepatunya yang kini tampak semakin lebar.

“Besok, pas kamu libur kita tambal sepatunya yah. Kalau ada rezeki baru beli sepatu baru.”

“Nambal sepatu cepat kan, Bu? Sasti mau tungguin biar jadinya bagus.”

“Cepat, paling 2 hari. Boleh kalau mau nungguin.”

“Ahh lama nggak mau ah.”

“Hahaaa ….”

Waktu telah menunjukkan pukul 6 lewat. Mereka masih harus berjalan kaki sejauh 4 kilometer lagi menuju SDN 03 Tegalwaru. Matahari sudah tampak penuh. Sinarnya belum menyengat, tetapi cukup mengirim gelisah.

Baca Juga:  Sepi

Sasti dan ibunya tak sadari, sepasang mata mengikuti langkah mereka sejak meninggalkan rumah subuh tadi. Menatap tajam, mencuri dengar segala percakapan dengan kecurigaan teramat penuh.

“Bu, kenapa Belanda menembak Eyang? Apa salah Eyang?”

“Karena Eyang dan semua pemuda di Yogyakarta tidak mau Belanda menduduki kota mereka.”

“Memangnya di Yogyakarta ada apa?”

“Tidak hanya Yogyakarta, semua pulau di Indonesia ingin dikuasai penjajah karena kita kaya.”

“Kalau kita kaya, kenapa sekolahan Sasti jauh?”

“Kamu capek?”

“Iyaa.”

Tak ada jawaban yang enak untuk didengar selain mengalihkan perhatian anak semata wayangnya. Yogyakarta, kenangan ibu melayang pada kisah Agresi Militer Dua, Desember 1948. Ia masih di kandungan, di rumah orang tuanya di Maguwoharjo, Sleman. Almarhum ayahnya seorang mantri yang sedang bertugas di bandar udara.

“Bu guru bilang, kita bangsa yang mandiri dan merdeka. Tetapi, apa enaknya merdeka kalau Bapak sebulan hanya pulang 2 kali. Kalau kita makannya itu-itu terus. Kalau rumah kita jauh dari mana-mana.”

“Makanya kamu sekolah yang pintar, supaya bisa bekerja, menerima gaji yang besar dan hidup di kota.”

“Tetapi, hidup di kota tidak enak kata Pak Asep, guru IPS. Macet, banyak polusi, banyak maling.”

Baru kali ini, Sasti yang kelas 2 SD berkata sekritis ini. Rambutnya yang dikepang dua, tampak lepek karena keringat.

“Nanti pulangmu sama Dedeh dan Okta lagi, kan?”

“Pipin juga, Bu. Dia sudah sembuh.”

“Oh sakit apa?”

“Habis dipatuk ular kebun di kampungnya, di Bojong.”

“Ya Allah, kapan?”

“Minggu lalu. Jalanan becek, kami semua lepas sepatu biar nggak basah. Sepertinya Pipin tak sengaja menginjak ular itu. Untung rumahnya Dedeh dan Okta di Galumpit, dekat kampungnya Pipin. Jadi langsung diantar pulang sama mereka.”

“Aduh, Nak, hati-hati kalian.”

Sepasang mata yang sedari tadi mengintai kini tak setajam sebelumnya. Mungkin karena tak biasa menyusuri jalanan berbukit. Ini belum apa-apa. Masih 2.5 kilometer lagi jarak ke sekolah dan masih harus melewati jembatan gantung yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Sinar matahari mulai menyilaukan. Hari ini upacara bendera, tak boleh telat. Sasti dan Ibu setengah berlari. Sementara sepasang mata dengan sorotan yang tak lagi tajam itu, menyerah kalah. Giliran ia kini yang berjalan gontai tak lagi punya curiga, apalagi tenaga.

Baca Juga:  Pergi

 

SD Negeri 03 Tegalwaru

Murid-murid kelas 1 hingga kelas 6 sudah berbaris rapi di muka sekolah. Petugas upacara 17 Agustus bersiap dengan perlengkapan masing-masing. Gulungan naskah proklamasi, bendera merah putih yang terlipat licin, map warna kuning berisi naskah Pancasila, dirigen tampak menarik-narik sarung tangan putihnya yang mengkeret, kekecilan.

Di sekolah ini momentum 17 Agustus tak hanya diperingati dengan upacara bendera. Setelah lomba-lomba antarkelas, nanti pukul 10.00 WIB tepat saat detik-detik Proklamasi tahun 1945 kala itu dibacakan oleh Bung Karno, sekolah akan membunyikan sirine, semua murid dan guru berdiri di kelas masing-masing. Kemudian melalui pengeras suara yang tersambung ke semua kelas, kepala sekolah akan memimpin doa diiringi rekaman lagu mengheningkan cipta. Mengharukan. Atmosfer perjuangan sangat terasa.

Waktu hampir menunjukkan pukul delapan. Pak Abdul kepala sekolah yang akan menjadi pemimpin upacara belum kelihatan juga. Tak biasanya. Guru mulai resah, saling tunjuk siapa yang bisa menggantikan pemimpin upacara. Wakil kepala sekolah menolak, ia tak pandai berpidato, ia juga mengaku sedang sakit gigi. Murid-murid gelisah, selain panas, sebagian dari mereka belum sarapan. Petugas pengibaran bendera mulai membetulkan peci hitam yang tak rapi lagi, petugas paduan suara tampak bosan, memainkan hand flag merah putih dari gagang sedotan.

Tepat ketika wali kelas 6 berjalan menuju mimbar upacara, Pak Abdul yang dibonceng motor berhenti di pagar sekolah. Semua lega, semua tepuk tangan. Tak ada yang mengaduh karena keterlambatan sang pemimpin upacara. Sasti dan anak-anak kelas 2 lainnya yang tertutup badan kakak-kakak kelas lompat-lompat berusaha melihat apa yang terjadi di gerbang masuk sekolah. “Maaf anak-anak semua, Bapak terlambat. Siap dihukum lari keliling lapangan,” seru Pak Abdul. Tepuk tangan dan siulan murid-murid pun semakin tumpah meriah.

Baca Juga:  Liburan panjang, berefek fluktuasinya rasa

Sepasang mata itu, yang tajam dan semula penuh curiga, yang mengintip dari sela-sela pohon bambu, yang menjaga langkahnya pelan-pelan agar tak menginjak ranting-ranting kering di sepanjang perjalanan tadi, kini berada di mimbar upacara. Sepasang mata milik Pak Abdul, sang kepala sekolah. Ia ingin membuktikan anak-anak didiknya yang sering datang terlambat, yang seragamnya lecek dan kumal, yang rambutnya tak tersisir rapi adalah benar-benar karena rumahnya jauh di pelosok desa. Ia khawatir anak-anak itu tak terurus atau dipekerjakan oleh orang tua mereka. Sepasang mata yang tak lelah menatap murid-muridnya dengan teduh, dengan penuh kasih dan harapan.

SDN 03 adalah satu-satunya sekolah dasar di Kecamatan Tegalwaru. Lima belas persen murid-muridnya berasal dari Desa Pasanggrahan, Desa Galumpit, dan Desa Cisarua yang jarak ke sekolah antara 6 hingga 9 kilometer. Yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melewati kebun karet, sawah, dan lubang-lubang bekas galian tambang yang dibiarkan menganga. Kabupaten Purwakarta cukup terkenal dengan eksploitasi hasil tambang.

Bagi murid kelas 6 setiap kali tes apalagi Ujian Nasional terpaksa menginap di aula sekolah. Memasak, mandi, dan belajar di sana agar tak terlambat dan tak terlalu capek. Dapur umum atas inisiatif warga sekitar didirikan untuk memasak mi instan dan makanan seadanya sumbangan dari camat dan lurah setempat. Jika musim hujan tiba, jalanan becek, anak-anak memilih nyeker agar sepatunya tak rusak karena basah.

“Ibu, apakah kita sudah benar-benar merdeka?” bisik Sasti kepada ibunya malam itu sebelum terlelap tidur.

Advertisement
Advertisement

Terkini

News29 menit ago

Program Kartu Prakerja Sudah Jalani Audit Inspektorat Kementerian, BPK, BPKP, hingga Taati Saran KPK

SERIKATNEWS.COM – Pelaksanaan Program Kartu Prakerja telah menjalani audit, reviu dan evaluasi oleh Inspektorat Jenderal Kemenko Perekonomian, Inspektorat Jenderal Kementerian...

Ekonomi39 menit ago

Program Kartu Prakerja Atasi Tiga Masalah Utama Ketenagakerjaan Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Kondisi ketenagakerjaan Indonesia sebelum masa pandemi Covid-19 ditandai dengan tiga hal yang sangat menonjol. Yakni, rendahnya produktivitas kerja,...

News59 menit ago

Kesiapan UGM Sambut Peserta CBT UM

SERIKATNEWS.COM – Sebanyak 36.470 peserta mengikuti Computer Based Test Ujian Masuk Univeritas Gadjah Mada (CBT-UM UGM) 2021 hari pertama yang...

News21 jam ago

Brigjen Pol Sukawinaya Jabat Sestama BNN, JARRAK: Sosok Penuh Prestasi

SERIKATNEWS- Sebanyak 12 pejabat Badan NarkotikaNasional (BNN) RI yang terdiri dari pimpinan tinggipratama, administrator, dan penyidik madya dilantiksekaligus melakukan sumpah...

News22 jam ago

PLN Apresiasi Ditjen Minerba dan 48 Pemasok Batu Bara Jaga Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN mengapresiasi dukungan pemerintah dan 48 mitra pemasok batu bara dalam penyediaan bahan bakar pembangkit demi menjaga keandalan pasokan...

News1 hari ago

Sanggar Belajar: Tingkatkan Semangat Literasi Desa melalui Edukasi Alternatif

SERIKATNEWS.COM- Pemuda Jatiurip menyelenggarakan edukasi Alternatif dunia literasi. Program Dunia literasi yang dijalankan ini sesuai dengan program Karang Taruna Desa...

Olahraga1 hari ago

Dukung Ajang PON XX di Papua, PLN Siapkan Perkuatan Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN siap menyukseskan gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang akan digelar Oktober mendatang. Progres pekerjaan kelistrikan untuk...

Populer

%d blogger menyukai ini: