Oleh: Aliya*
SEBELUM berbicara tentang independensi perempuan, perlu kiranya dibahas sedikit sejarah yang melatarbelakangi munculnya konsep tersebut. Sejak digaungkannya gerakan emansipasi perempuan pada abad ke-18 dan mulai populer di dunia sepanjang abad 20, analisis keperempuanan mulai dipelajari secara masif yang kemudian melahirkan aliran-aliran feminisme bermacam-macam dari yang netral, bahkan feminisme garis keras yang cenderung menentang kodrat dan nilai-nilai sosial keagamaan.
Semua konsep tentang kesetaraan gender awalnya digunakan untuk menyelamatkan hak-hak perempuan dari marjinalisasi patriarki. Namun, semakin lama gerakannya mulai bergeser, sehingga beberapa pihak menilai gerakan feminisme justru menyaingi eksistensi laki-laki.
Padahal kesetaraan dicetuskan bukan sebagai bentuk persaingan, akan tetapi menyamakan kedudukan di sektor masing-masing, perempuan pada tempatnya dan laki-laki pada tempatnya pula. Debat kusir yang membicarakan persaingan antara laki-laki dan perempuan hanyalah provokatif sosial. Bukan kemajuan yang didapat, justru perpecahan dan ketumpulan berpikir, sebab laki-laki dan perempuan berkesinambungan membentuk iklim sosial yang stabil.
Dari sana, godokan perkembangan zaman kemudian membentuk identitas independent women atau perempuan yang mandiri.
Definisi Cantik Independent WomenÂ
Pengetahuan bukanlah hal konstan, perkembangannya memicu hasrat perempuan agar progres dari berbagai aspek. Statement “cantik itu relatif” sudah tidak relevan digunakan hari ini karena justru mendukung terhadap kemunduran berpikir pada perempuan dan dalih untuk stag dalam kondisi yang itu-itu saja. Persentase cantik hari ini minimal harus dibekali dengan kemampuan cerdas intelektual, pintar mengatur emosional, dan seimbang melakukan kewajiban sebagai kebutuhan spritual.
Membuka konstruk berpikir merupakan upaya membentuk mental independen secara dini. Sebab, perempuan berkualitas diperlukan bukan hanya untuk meniti karir, akan tetapi dalam jangka panjang akan mengisi sendi-sendi sosial.
Kebutuhan self improvement tidak cukup didapatkan di bangku pendidikan. Itulah mengapa konsumsi buku yang bernutrisi, bergaul dengan orang-orang yang bervibrasi positif, dan melakukan kegiatan produktif merupakan langkah awal untuk membentuk kepribadian yang cantik.
*Aliya, Koordinator Setara Perempuan/Mahasiswi IST Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...