Fungsi Musik(us) Klasik Itu Apa Sih?

236

Anda mungkin tahu bahwa Finlandia investasi besar dalam pendidikan dan berhasil gemilang. Atau yang dekat saja, anda memasukkan anak anda ke sekolah Montessori yang kini bertebaran di Indonesia? Anda puas kan dengan hasilnya?

Ada satu orang Indonesia yang ikut memformulasikan metode pendidikan di Finlandia dan Montessori itu. Ia bernama Soewardi Soerjaningrat, atau lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) yang ulang tahunnya sekarang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ia sempat dibuang ke Belanda, dan di sanalah ia berkenalan serta bertukar-pikiran dengan Maria Montessori dan Rabindranath Tagore. Montessori memformulasikan idenya yang kemudian mendunia, tapi KHD juga memformulasi metode Sariswara yang tidak jauh berbeda dengan Montessori dan metode pendidikan di Finlandia untuk Sekolah Dasar saat ini.

Metode Sariswara adalah metode pendidikan karakter yang menggabungkan musik, pengetahuan dan sastra yang diterapkan langsung di Perguruan Tamansiswa. Kita mungkin mengenalnya dengan Tembang Dolanan Anak, atau yg lebih rumit Langencarita (operet anak berbahasa Jawa).

Memerdekakan jiwa adalah penting setelah bangsa kita dicekoki doktrin sebagai manusia terjajah ratusan tahun. Kesenian sebagai hal terdekat dengan kebudayaan dimanfaatkan untuk mengubah jiwa-jiwa itu dengan memacu kreatifitas dan imajinasi agar mandiri – tak terperintah – sekaligus tertib. Kesenian memerdekaan cara berpikir, yang sekarang mulai ditakut-takuti dengan istilah kafir, tidak bermoral, dsb. Manusia cerdas tidak bisa disetir namun tahu benar apa yang harus dilakukan. Lagu/musik/suara dimanfaatkan untuk mendidik pikiran dan emosi yang tak terlihat itu, karena suara menyasar langsung ke emosi, tidak mampir ke otak dulu untuk dicerna secara logis.

Hasil penelitian Herry Chunagi (1996), Siegel (1999), yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antar neuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak (Ilham Zamil, S.Pd., M.Pd.; Program Studi S3/Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang; Oktober 2016).

Baca Juga:  Menyegarkan Kembali Pemahaman Dialog Agama

Prinsip KHD adalah: Ing Ngarasa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, di belakang guru harus memberikan dorongan/arahan). Dengan prinsip ini, kalau anda mengirim anak anda untuk les musik (klasik), cobalah sekali-kali lihat cara guru musik mengajarnya. Apakah benar cara mengajarkannya membuat anak anda lebih merdeka, kreatif dan imajinatif? Ternyata banyak yang akan menjawab “tidak”. Banyak sekolah musik (termasuk yang berkualitas) yang hanya mengajarkan anak anda bagaimana menjadi seorang musikus yang jari-jarinya bergerak cepat, terampil akurat dan bisa memainkan repertoire musik klasik yang semuanya didikte oleh gurunya. Intinya, ia diharapkan nantinya fasih memainkan karya-karya komponis “Barat” dan sudah lama mati, seperti Bach, Tchaikovsky, dll. seperti layaknya seorang pianis Eropa. Pengembangan karakter? Kreativitas? Apalagi sensitivitas terhadap lingkungan sekeliling? Maaf, guru musik tidak dibayar untuk hal-hal tersebut …. atau?

Pendidikan seni tidak bisa dilakukan dengan cara dan pendekatan yang sama dengan pendidikan ilmu eksak. Dalam berekspresi, langit tidak hanya biru dan daun tidak hanya hijau di kanvas sang pelukis. Simfoni Beethoven atau siapa pun tidak harus dimainkan dengan tempo yang persis sama setiap kali. Kesedihan, kesepian dan semua perasaan memiliki spektrum yang sangat luas yang tidak bisa diekspresikan dengan akurat dengan kata-kata, dan dialami berbeda oleh orang yang berbeda.

Masalahnya, musik di zaman ini sering dianggap sebagai “bunyi-bunyian latar belakang” saja, sama seperti lukisan seperti “hiasan biar dinding tidak polos membosankan”. Apalagi musik adalah komoditas yang paling mudah dalam hidup kita dengan majunya teknologi. Di stasiun MRT, mol-mol ada campuran pengamen dan sistem pengeras suara yang bertumpukan. Ada di setiap toko, restoran, toko kelontong, kafe, bahkan di jalan ketika mobil melewati dengan jendela mereka terbuka. Di laptop, komputer, telepon, TV, mudah dibeli, dialirkan, diserap secara tidak sadar. Kita menjadi kebal secara emosional terhadap musik. Bayangkan sebelum adanya alat perekam, mendengarkan musik adalah suatu kemewahan, kita harus datang ke konser untuk bisa mendapatkannya. Dengan kondisi seperti ini, musik Tchaikovsky, The Beatles, musik etnik apapun, dangdutan, berkualitas apapun semua berfungsi sama: menjadi “hiasan bunyi” latar belakang.

Baca Juga:  REFLEKSI HARI ANAK NASIONAL DAN PERGESERAN PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK

Bagaimana mengembalikan fungsi musik ke aslinya, untuk menyentuh bahkan mendefinisikan emosi manusia? Bulan lalu saya mengumumkan syarat-syarat para peserta untuk mengikuti kompetisi piano Ananda Sukarlan Award 2020 (ini sudah kompetisi piano yang ke-7 kalinya sejak 2008), dan ada, bahkan cukup banyak guru-guru piano yang resah. Kali ini saya menuntut mereka untuk BERPIKIR! Kini mereka tidak lagi mengambil mentah-mentah bahan yang sudah ditentukan, tapi justru harus mengenal murid-murid mereka, musik apa yang cocok untuk mereka mainkan. Coba deh cek https://kitaanaknegeri.com/ananda-sukarlan-award-ke-6-23-26-juli-2020/. Kalau tidak begini, maka para pianis itu semua akan seragam, tidak lagi beragam: dikasih partitur, baca, mainkan, selesai. Dia tidak bisa memilih. Membosankan? Nah, itu sebabnya musik itu hanya menjadi bunyi-bunyi latar belakang. Habisnya tidak ada esensinya, tidak ada yang harus didengarkan dengan saksama sih! Semuanya sama!

Kenapa para musikus klasik saat ini 95% bahkan lebih menjadi seperti ini? Ya tentu karena sistem pendidikan musiknya. Yang berarti, kesalahan sekolah musik, dari awal sampai tingkat pendidikan tinggi (conservatory of music, kalau di Eropa). Sekolah kini tidak lagi mengajarkan kreativitas. Mereka hampir secara eksklusif mengajarkan re-kreativitas. Musikus tugasnya hanya membaca partitur, dan mereproduksinya. Istilah kerennya memang “menginterpretasi”, tapi apa yang diinterpretasi kalau kita semua sudah bisa mendengarkan segala jenis rekaman musiknya Rachmaninov, Prokofiev, Benjamin Britten oleh ribuan musikus bahkan dimainkan oleh komponisnya sendiri?

Sebagai siswa musik, kami semua diajarkan bahwa jika kami rajin, kami akan berhasil. Ketika saya masih menjadi mahasiswa di Royal Conservatory of Music, Den Haag, saya adalah satu dari sekitar seratus siswa piano di seluruh program sarjana dan pascasarjana. Hari-hari kami dipenuhi dengan jumlah minimal kelas praktik dan teori musik. Adalah hal yang cukup surealis jika kita berjalan melalui lorong ruang latihan. Kita bisa mendengar Hungarian Rhapsodies-nya Liszt, Etudes-nya Chopin, Beethoven sonatas, semua dalam eksibisi teknis tingkat tinggi. Kami semua berlatih seperti budak; untuk mendapatkan nilai ujian segitu, menangkan kompetisi itu, mendapatkan kontrak rekaman ini, memainkan gedung konser yang terkenal di dunia itu. Kini saya mengingat-ingat, kemana saja teman-teman saya itu. Memang ada yang sukses menjadi musikus profesional, tapi kebanyakan menghilang, paling banter menjadi guru piano. Bayangkan, dari ratusan, yang “mencapai cita-citanya” bisa dihitung dengan jari satu tangan. Ada yang salah kan dengan sistem pendidikan musik ini?

Baca Juga:  Pancasila Ideology Feminis Nasionalis, Saling Memperkuat

Buat saya, istilah “conservatory” saja sudah salah. “Conserve” adalah mengawetkan, melestarikan. Bagaimana produk seni harus diawetkan? Dalam dunia musik klasik, ini berarti dibekukan seperti dimasukkan freezer, karena musik yang dimainkan adalah dari komponis yang itu-itu saja, bahkan dari 32 Sonata Beethoven, kita bisa bilang hanya sekitar 5 Sonata yang terus menerus diajarkan di konservatori. Benar-benar dibekukan, kan? Kalau demikian, apa yang terjadi jika listrik mati? “Freezer” itu tidak berfungsi deh. Tidak bisakah musik itu tetap awet? Apakah Beethoven sendiri menyukai konsep pengawetan seperti itu?

Semoga Ananda Sukarlan Award 2020 bisa sedikit memberi solusi. Catat, saya bilang “sedikit”. Kita harus mulai dengan pengenalan diri, bukan dari “memainkan karya yang itu-itu lagi dan berusaha memainkannya lebih baik dari ribuan pianis yang lain”. Apalagi komponisnya dari negara nun jauh di sana, dan sudah tiada ratusan tahun lalu. Kalau sang pianis tidak merasa dekat dengan konsep polifoni Johann Sebastian Bach, kenapa dia harus memainkannya? Ada ribuan lainnya yang bisa lebih baik memainkannya kok. Ini contoh saja, dan semoga Indonesia akan memulai konsep baru dalam dunia musik klasik. Memang masih tahap sangat awal, dan pasti banyak yang tidak setuju, tapi …. perjalanan mengarungi benua kan harus dimulai dengan langkah pertama?