Connect with us

Opini

Hubungan Antara Budaya dan Agama

Published

on

Ilustrasi (Google)

Ada seorang teman yang menyuguhkan pada saya sebuah tulisan Bangsa Indonesia Bukan Bangsa Pendendam. Tulisan itu dianggapnya sangat menyudutkan sekali warga keturunan Cina di Indonesia hingga teman tersebut. meminta pada saya untuk menanggapi tulisan itu. Inti dari tulisan yang bermasalah itu adalah ketika si penulis mengatakan,”ketika orang meniru tradisi China, Jepang dan lain-lainnya tidak disebut kecina-cinaan, tapi ketika orang meniru tradisi Arab seperti memakai cadar dianggap ke arab-araban“, sehingga seolah-olah si penulis menempatkan orang-orang keturunan Cina di Indonesia itu sejajar dengan bangsa-bangsa penjajah Indonesia seperti Inggris, Belanda, Jepang dan lain- lainnya. Lalu bagaimana saya menanggapi hal tersebut.?

Menurut saya, orang Indonesia yang mengikuti tradisi Cina, Jepang ataupun Barat (Amerika dan Eropa) sepertinya mereka sangat bisa membedakan mana yang budaya atau tradisi dan mana yang tuntunan atau ajaran agama, sehingga mereka tidak ada yang dicap ke Cina-Cinaan, ke Jepang-Jepangan atau ke Barat-Baratan. Misalkan ketika orang Indonesia memakai kostum Barongsai, atau memakai baju berwarna merah saat memperingati hari Imlek, mereka semua mengerti bahwa hal itu hanyalah sebatas budaya atau tradisi Cina dan bukan tuntunan dari agama mereka yang di Indonesia mayoritas beragama Katolik, Kristen, Budha ataupun Konghucu.

Namun uniknya, disisi lain orang Indonesia yang mengikuti tradisi Arab yang dianggapnya menarik, seringkali tidak bisa membedakan mana yang budaya (Arab) dan mana yang tuntunan agama (Islam), akibatnya mereka sendiri telah mencampur adukkan budaya itu dengan tuntunan atau ajaran agama, sehingga mereka akan marah jika ada orang yang mentertawakan budaya itu karena dianggap mereka telah menghina ajaran agamanya, padahal sebenarnya tidak ada yang bermaksud mentertawakan apalagi menghina ajaran agama (Islam) melainkan sekedar mentertawakan budaya atau tradisi Arab yang dianggapnya janggal atau lucu.

Baca Juga:  Pandangan Obyektif atas Fatwa Darurat¬†

Tertawaan ini mungkin saja terjadi karena antara budaya yang lucu tersebut. dirasa tidak berbanding lurus dengan ajaran agama mayoritas orang Arab yang dikenal sangat luhur karena sangat memperhatikan nilai-nilai kesopanan. Contohnya dalam Islam dilarang untuk mengumbar aurat namun dalam tradisi Arab ada kesenian Tari Perut yang memperlihatkan pusar perut perempuan dan pinggul serta pantatnya yang bergoyang-goyang di hadapan para lelaki yang melihatnya.

Jika orang Islam tidak bisa membedakan Tari Perut itu tradisi kesenian Arab dan bukan merupakan bagian dari ajaran Islam, maka bila ada orang lain di luar Islam yang mentertawakannya, maka ia akan dianggap telah menghina atau melecehkan Islam. Persis dengan maraknya perempuan bercadar di Indonesia selama ini yang akhir-akhir ini dijadikan sebagai bahan tertawaan orang, maka orang Islam pendukung perempuan bercadar akan marah dan menganggap yang mentertawakannya adalah pembenci Islam.

Kesalah fahaman terhadap hal-hal seperti di atas haruslah segera diakhiri, sebab jika dibiarkan terus berlarut-larut maka selamanya akan terjadi pertikaian yang tiada guna. Bagi saya sendiri, baik itu keturunan Cina maupun keturunan Arab telah sama-sama berjasa untuk memajukan negeri ini. Kedua-duanya juga merupakan warga negara Indonesia yang sah, setelah memenuhi berbagai persyaratan untuk menjadi warga negara Indonesia. Dan hak keduanya juga sama dengan hak kami yang diluar keturunan dua negara tsb. (Cina dan Arab), kecuali di daerah tertentu seperti DIY yang agaknya beberapa peraturannya memerlukan perubahan. Misalnya mengenai status kepemilikan tanah di DIY.

Zaman sudah berubah, jangankan antar sesama penduduk warga negara Indonesia, bahkan penduduk antar bangsapun sekat-sekat pembatasan itu sudah perlahan-lahan nyaris menghilang. Banyak orang asing yang sudah berganti menjadi warga negara Indonesia, dan banyak pula warga negara Indonesia yang sudah berganti pula menjadi warga negara asing. Jangan lagi bertikai hanya karena perbedaan keturunan, karena tidak ada satupun dari kita yang bisa memilih kita inginnya dilahirkan dari keturunan negara atau bangsa apa.

Baca Juga:  Peran Generasi Milenial dalam Menjaga Kedaulatan Maritim Indonesia

Manusia satu sama lain harus saling hormat menghormati dan menjunjung tinggi adat istiadat di negara mana mereka tempati. Memperagakan tradisi negara asal di negeri ini adalah hal yang manusiawi, asal semua bisa memahami, menyadari dan mengerti mana yang budaya atau tradisi dan mana yang tuntunan atau ajaran agama, agar tidak terjadi kesalah fahaman yang menimbulkan malapetaka. Kita semua sama dalam pandangan Tuhan.

Advertisement

Terkini

News36 menit ago

Edy Mulyadi Dilaporkan Aliansi Pemuda Kalimantan ke Bareskrim Polri

  SERIKATNEWS.COM – Aliansi Pemuda Kalimantan melaporkan Edy Mulyadi terkait pernyataan Edy yang dilontarkannya melalui video yang menyinggung Kalimantan ke...

News7 jam ago

55 Tahun Hubungan Diplomatik, Indonesia-Singapura Perkuat Kerja Sama Bilateral

SERIKATNEWS.COM- Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri (PM) Singapura, Lee Hsien Loong, menggelar pertemuan bilateral di Ruang Dahlia, The Sanchaya...

News9 jam ago

Dua RT di DKI Masuk Zona Merah Covid-19

SERIKATNEWS.COM – Sebanyak dua Rukun Tetangga (RT) di Jakarta masuk zona merah Covid-19 karena ada lebih dari 10 kasus aktif....

News9 jam ago

Antisipasi Omicron Masuk Desa, Gus Halim: Jangan Kendor Terapkan Protokol Kesehatan

SERIKATNEWS.COM- Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengajak seluruh elemen desa untuk intensifkan Pemberlakuan...

News9 jam ago

Penyusunan UU Cipta Kerja Libatkan Partisipasi Publik

SERIKATNEWS.COM – Penyusunan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja secara khusus klaster ketenagakerjaan dilakukan secara terbuka. Bahkan, telah...

News1 hari ago

Sekolah Polisi Negara Berperan Besar dalam Penanaman Nilai-nilai Pancasila

SERIKATNEWS.COM – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Prof. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D mengapresiasi Kapolda Papua Barat dan Kepala SPN serta...

News1 hari ago

Munas KMNU Ke-8: Revitalisasi Peran Mahasantri untuk Bersinergi Menuju Era Society 5.0

SERIKATNEWS.COM – Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama (KMNU) telah menyelesaikan Musyawarah Nasional ke-8 di pondok pesantren Diponegoro, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta....

Populer

%d blogger menyukai ini: