Connect with us

Literasi

Jerat Rentenir dan Tengkulak

Published

on

ilustrasi istimewa

Rentenir dan Tengkulak adalah kearifan lokal masyarakat tradisional yang menyimpang seiring jalan. Mulanya, seseorang yang kaya atau berkecukupan mungkin terpanggil untuk membantu tetangga-tetangganya yang kesulitan biaya. Pengembalian dana cukup sebesar dana pinjaman tanpa embel-embel bunga, namun mereka yang merasa terbantu dan merasa tidak enak hati pasti akan memberikan buah tangan atau dana lebih sebagai tanda terima kasih. Penyimpangan mulai terjadi ketika proses pinjam meminjam ini menjadi bisnis yang menggiurkan.

Bagaimana tidak menggiurkan, kalau penerapan bunga bisa setinggi-tingginya. Awalnya mungkin masih bersifat sosial, agar bunga bisa menjadi modal bagi peminjam lain. Namun kemudian, nampaknya bisnis rentenir bisa menjadi sumber pemasukan bagi si pemberi pinjaman. Pinjam meminjam tidak lagi berdasarkan pada prinsip saling membantu, namun sudah bersifat kapitalis, untung dan rugi.

Rentenir memberikan pinjaman berdasarkan kesepakatan bahwa si peminjam harus membayar dengan bunga tertentu. Bunga akan berlipat ganda bilamana peminjam tak sanggup membayar pada tenggat waktu. Bunga akan semakin berlipat ganda seiring dengan waktu tunggakan, sehingga tidak heran hutang yang semula hanya jutaan rupiah menjadi puluhan hingga ratusan juta.

Aktivitas tengkulak juga serupa dengan rentenir, memberikan pinjaman dengan jaminan ijon pada petani. Para tengkulak ini seharusnya hanya berfungsi untuk mempermudah petani mendistribusikan hasil taninya. Mereka membeli dalam jumlah besar pada para petani (perkulakan), lalu dijual kembali ke kota dan sekitarnya. Namun dalam praktiknya, tengkulak memeras keringat para petani dengan memberikan hutang terlebih dahulu. Petani dapat menebus hutang dan bunganya dengan memberikan hasil panen mereka dengan harga jauh lebih rendah dari pasarannya.

Kasus Penganiayaan oleh Preman Bayaran Rentenir di Bantul, Yogyakarta

Seorang ibu rumah tangga berinisial EI yang berdomisili di wilayah Bantul, Yogyakarta, mengalami penganiayaan pada Minggu dini hari, 10 Oktober 2021. Sekelompok pemuda bergaya preman berjumlah 8 orang mendatangi rumahnya pukul 24.00. Para preman itu kemudian menggelandang Ibu EI menuju rumah rentenir yang berjarak +/- 5 KM dari kediamannya. Ia berada di sana hingga pukul 02.30 untuk menandatangani kontrak perjanjian pembayaran hutang di bawah ancaman samurai dan golok.

Baca Juga:  Mengenang 20 Tahun Tragedi Mei 1998

Penandatanganan kontrak tersebut sebenarnya termasuk dalam kategori pemaksaan dan cacat hukum karena dilakukan bukan pada saat serah terima pendanaan pada Februari 2021, melainkan 8 bulan setelahnya. Pokok pinjaman sejumlah Rp. 2.500.000 membengkak dengan sistem bunga berbunga hingga Rp.90.000.000, dan sudah terbayarkan sejumlah Rp.38.000.000. Peminjam yang juga merupakan korban penganiayaan wajib membayar sisanya paling lambat Kamis, 11 November 2021.

Ibu EI tidak berani melaporkan penganiayaan yang terjadi padanya karena para preman mengancamnya secara verbal. Para preman akan melakukan mutilasi pada Ibu EI dan keluarganya bila ia melibatkan pihak penegak hukum. Mereka juga bahkan berani menyatakan bahwa akan percuma melapor karena para penegak hukum merupakan kawan-kawan mereka.

Pinjaman Online Ilegal

Pinjaman online (pinjol), atau  fintech adalah bisnis finansial serupa dengan rentenir dan tengkulak, namun aturannya mengikuti aturan pemerintah. Mereka tidak bisa menentukan bunga sendiri yang berkembang hingga mencekik peminjam. Pinjol yang resmi memiliki legalitas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang akan memvalidasi aktivitas mereka untuk menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya sebagai pinjaman seperti yang dilakukan oleh dunia perbankan.

Pinjol ilegal tentunya tidak terdaftar di OJK, dan aktivitasnya biasanya tidak resmi melalui aplikasi, melainkan melalui SMS langsung oleh pihak-pihak pemasarnya. Pinjaman online ilegal ini biasanya merupakan perwujudan dari rentenir tradisional yang merambah ke dunia daring. Mereka masih mempergunakan aturan bunga sesuka hati dan proses penagihan menggunakan para preman.

Solusi Mengatasi Keterjeratan Hutang

Banyaknya anggota masyarakat yang terjerat lingkaran setan hutang yang diberikan rentenir, tengkulak dan pinjol ilegal seyogyanya menjadi perhatian pemerintah. Baru-baru ini pemerintah memang telah melakukan penertiban penyedia pinjol ilegal, namun hal itu belum cukup mengingat rentenir dan tengkulak bersama para preman masih bebas berkeliaran menebar jerat dan ketakutan. Para penegak hukum harus bergerak aktif memberantas para pelaku kekerasan yang meneror masyarakat ini.

Baca Juga:  Gerakan Ekstremisme ISIS dan Geopolitik Timur Tengah

Peraturan-peraturan tentang penagihan hutang untuk memang sudah berlaku sejak kejadian pembunuhan nasabah Citibank yang menunggak hutang kartu kredit oleh preman yang berlaku sebagai penagih hutang. Namun demikian, tanpa pengawalan ketat dari pihak berwajib dan pemerintah, kegiatan meneror nasabah atau peminjam dana akan terus berlangsung. Teror seperti yang terjadi pada ibu EI di Bantul, Yogyakarta akan menimbulkan ketidaknyamanan hingga trauma di dalam masyarakat.

Ketidakpastian ekonomi selama masa pandemi telah menyebabkan masyarakat menjadi serba kekurangan. Kebutuhan tetap atau meningkat sedangkan pendapatan menurun bahkan tidak ada, menyebabkan masyarakat mengambil hutang dari para rentenir dan tengkulak yang seolah menawarkan bantuan, padahal memasang jerat pada leher para peminjam. Sudah saatnya pihak pemerintah dan penegak hukum menertibkan para pelaku teror hingga ke akar-akarnya sehingga tercipta keamanan yang kondusif bagi masyarakat untuk hidup di negara ini.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Literasi56 menit ago

Metode Praktik dalam Pembelajaran Kreatif dan Inovatif di TK Dharma Wanita Moyoketen

GURU adalah sosok yang berjasa. Jika ada yang memposisikan guru sebagai seseorang yang pekerjaannya sebagai pengajar tentu tidak salah, tetapi...

Sosial-Budaya2 jam ago

Siswa Harus Cinta Tanah Air dan Kuasai Iptek

SERIKATNEWS.COM – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi menyebut kekhasan lokasi geografis menjadikan Indonesia negara subur dengan...

News2 jam ago

Presiden Jokowi Resmikan Pasar Pon di Kabupaten Trenggalek

SERIKATNEWS.COM – Dalam perjalanan menuju Helipad Menak Sopal, Kabupaten Trenggalek, Presiden Joko Widodo menyempatkan untuk singgah di Pasar Pon, Selasa,...

Politik2 jam ago

Fahri Hamzah: Pemerintah Buka Dong Peluang Bagi Daerah Ajukan Calon Presiden

SERIKATNEWS.COM – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah meminta pemerintah membuka peluang kepada daerah untuk mengajukan...

News2 jam ago

Lebih Hemat dan Aman, Ini Sederet Keunggulan Kompor Induksi

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) terus mendorong electrifying lifestyle atau gaya hidup baru dengan menggunakan peralatan serba elektrik yang bebas...

Opini2 jam ago

Nasib Dosen Tetap Non PNS, Pemerintah Bisa Apa?

Oleh: Adil Rahmat Kurnia (Ketua Bidang Perguruan Tinggi PB PMII) BERBICARA tenaga pendidik di lingkungan perguruan tinggi maka akan mengenal...

Ekonomi8 jam ago

Kemendag Dirikan Pusat Promosi Ekspor di Entikong

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendirikan pusat promosi ekspor di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Ditandai dengan penandatanganan nota...

Populer

%d blogger menyukai ini: