Kopri: Perempuan Sebagai Spirit dalam Pendidikan untuk Menjaga Perdamaian

23

SERIKATNEWS.COM – Kopri PMII mengadakan Talkshow dan Bukber di hotel New Idola, pada tanggal 17 Mei 2019 sekitar pukul 15.30 WIB. Adapun talkshow ini mengangkat tema “Perempuan Sebagai Spirit dalam Pendidikan untuk Menjaga Perdamaian”.

Acara dihadiri oleh Luluk Nurhamidah Perempuan Bangsa sekaligus aktivis perempuan, Muhtar Said Tenaga Ahli KPU RI dan dihadiri oleh mahasiswa serta pemuda-pemuda yang ada di jakarta.

Acara ini dibuka oleh sekretaris Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Putri Nurma Ningsih. Pada kesempatan ini, Ningsih mengatakan bahwa acara ini diikuti dari beberapa kampus seperti: UNU, PARAMEDINA, UI, UNAS dan beberapa kampus yang lain.

Ningsih juga melihat dari kejadian beberapa hari menjelang pemilu dan pasca pemilu, yakni bergesernya pola pikir masyarakat. Melihat kondisi saat ini jangan sampai terjadi perselisihan di antara masyarakat khususnya perempuan, setelah dilaksanakan pemilu.

Untuk itu, perlu adanya pendidikan untuk membangkitkan semangat dan spirit perempuan. Ketika masyarakat khususnya perempuan ada perselisihan dengan yang lain akan menjadi pemicu hancurnya negara Indonesia.

“Kita kenal istilah tiangnya negara adalah perempuan, oleh karena itu perlu adanya pendidikan terhadap perempuan,” ujarnya.

Muhtar Said mengatakan posisi perempuan merasa termarginalkan. Ketika termarginalkan perempuan tidak ada di ranah publik. Ketika masyarakat disibukkan dengan politik 01 dan 02 tidak ada rumusan nawacita versi PMII yang diciptakan. Beda dengan muhammadiyah yang sudah punya nawacita walaupun kita belum tahu siapa yang menjadi presiden nantinya.

Muhtar juga mengajak pemuda harus mampu menciptakan Gerakan perdamaian sehingga kita tidak perlu sering-sering turun ke jalan untuk demo, bakar ban dan lain sebagainya yang itu merugikan.

Pada kesempatan yang sama, Luluk Nurhamidah yang juga aktivis perempuan mengemukakan bahwa kondisi politik saat ini sangat tidak mudah kita benahi, seperti contohnya pemilu tahun ini, yang dimenangkan oleh siapa dan diakui oleh siapa. Tidak kemudian memprovokasi, mengajak masyarakat demo di luar, dan menyebarkan berita-berita di media sosial yang belum pasti kemenaranya.

Baca Juga:  Konvensi Rakyat Optimis, Jokowi Dorong SDM Berkelas Premium

“Karna Picuan itu bisa diciptakan dari situasi yang berakibat adu mulut, yang tadinya urusan ringan menjadi urusan suku, ras, agama, dan lain-lain,” imbuhnya.

Luluk menghimbau perilaku intoleran yang lahir dari perempuan sangat bisa menjaga perdamaian dengan melibatkan masyarakat tanpa ada bom molotof dan ribut-ribut di media dan demo terus menerus. perempuan punya kemampuan yaitu komunikasi lobi dan mediasi yang mengedepankan prinsip perdamaian.

Setelah acara selesai pemuda/i dengan berbagai kalangan dan latar belakang yang tergabung di oraganisasi PMII diakhiri dengan deklarasi damai:

1. Kami generasi muda Indonesia mengajak masyarakat untuk tetap tenang, sabar, dan tidak terprovokasi di tengah kondisi politik saat ini.

2. Kami generasi muda Indonesia menyerahkan dan percaya sepenuhnya penyelenggaraan Pemilu 2019 kepada KPU.

3. Kami generasi muda Indonesia sepakat untuk menciptakan situasi yang kondusif demi terwujudnya Indonesia yang damai, sopan, bermatabat, dan demokratis.