Majelis Nyadran, Mengingat Mati dan Berbakti kepada Orang Tua

253
Foto: Arif Kusuma F
Foto: Arif Kusuma F

BANTUL, Serikatnews.com – Masjid Pathok Negoro Taqwa Wonokromo menyelenggarakan rangkaian puncak Majelis Birrul Walidain Sema’an Al Quran dan Nyadran pada Kamis (4/5). Acara Nyadranan yang diselenggarakan setiap tahun tersebut bertujuan untuk mengingatkan akan kematian dan mendoakan orang tua atau leluhur yang sudah meninggal.

Rois Syuriah PCNU Bantul, KH Abdul Kholiq Syifa mengatakan, suatu saat semua orang bakal meninggalkan dunia ini. “Nyadran ini mengingatkan mati. Saya yakin, orang yang sekarang datang ke sini, tahun depan ada yang sudah gak ada (disadrani),” katanya di Masjid Taqwa Wonokromo, Bantul, Kamis (4/5).

Kholiq menerangkan, manusia yang beruntung adalah saat di akhir hayatnya baik. Dia melanjutkan, orang yang meninggalnya baik disebut khusnul khotimah sedangkan yang buruk disebut suul khotimah.
Kholiq menjabarkan, ada empat tanda orang yang mebinggalnya suul khotimah. Yakni ; menggampangkan shalat, durhaka kepada orang tua, membuat susah atau menyakiti orang lain, dan mabuk-mabukan.

“Majelis ini bertujuan untuk berbakti kepada orang tua (birrul walidain). Berbaiktilah kepada orang tua, maka anakmu akan berbakti kepadamu,” ujar Kholiq.

Diketahui, acara Nyadran biasanya diselenggrakan di bulan Sya’ban atau menjelang bulan Ramadhan. Di Wonokromo, rangkaian acara Nyadran 2017 dimulai sejak hari Ahad/Minggu (30/4) dengan mengadakan lomba Musabaqoh Hifdzil Quran (MHQ) se-kelurahan Wonokromo di masjid Pathok Negoro tersebut.

Wakil Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro Taqwa Wonokromo, Mahrus Hanafi menjelaskan, pada Rabu (3/5) diadakan acara Semaan Khataman Al Quran 30 Juz dari habis subuh hingga habis isya, dilanjut penyerahan lomba Musabaqoh Hifdzil Quran (MHQ) dan pengajian akbar oleh KH Syarif Rahmat. “Hari Kamis (4/5) acara puncaknya yakni diselenggarakan mejelis dzikir dan tahlil serta pengajian oleh KH Abdul Kholiq Syifa,” katanya.

Baca Juga:  Pernyataan Sikap Perkumpulan Kita Semua Bersaudara atas Perppu Pembubaran Ormas Anti Pancasila

Mahrus menerangkan, lomba MHQ baru pertama dilakukan di Majsid Taqwa. MHQ tersebut, kata dia, bertujuan untuk menggali potensi penghafal Al Quran yang ada di Kelurahan Wonokromo.

Potensi penghafal Al Quran di Wonokromo cukup banyak, sehingga harus ditumbuh kembangkan. Agar generasi penghafal Al Quran terus tumbuh, sehingga ada inisiatif adanya MHQ ini.

Diketahui, acara MHQ ini diinisaisi oleh KH Syarif Rahmat dari Jakarta. Dia juga menginisiasi rencana adanya Nyadran Nasional yang berasal yang dimulai dari Wonokromo. KH Syarif tidak lahir di Wonokromo tapi punya leluhur (ahli waris) di Wonokromo.

“Total hadiah MHQ berjumlah Rp 10 juta. Itu bantuan dana dari KH Syarif dan para donatur. Beliau ,” ujar Mahrus.

Mahrus juga menerangkan, kedepan MHQ rencananya akan diaelenggarakan setiap tahun. Dia melanjutkan, selain katagorinya ditambah, rencananya lombanya akan ditambah seperti qiroatul kutub (membaca kitab kuning), MTQ, dan lomba adzan.

Bila tahun ini peserta lomba dari hanya se-kelurahan Wonokromo, maka tahun depan juga direncanakan diselenggarakan se-kecamatan Pleret. (Arif Kusuma Fadholy)