Connect with us

Opini

Menguak Sastra, Melestarikan Budaya

Published

on

sastra

Sastra dapat dibagi menjadi, dua yaitu sastra tulis dan sastra lisan. Dengan bahasa yang mudah dipahami saya mendefinisikan sastra sebagai hasil proses kreatif manusia yang menghasilkan karya dengan media bahasa yang memenuhi unsur estetika atau keindahan. Alat untuk menyampaikan sastra atau disebut moda itu sebenarnya hanya dua, yaitu sajak dan prosa, sedang genrenya adalah puisi, esai, fiksi, dan drama. Dengan berbagai genre sastra ini, kebudayaan yang mempunyai cakupan yang luas dan kompleks dapat tercermin dalam karya sastra.

Salah satu hasil dari kebudayaan adalah karya sastra, tetapi secara garis besar sastra merupakan hasil karya dari individu hanya saja objek yang disampaikan tidak akan terlepas dari kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian dapat juga dinyatakan bahwa kebudayaan yang mempunyai cakupan yang luas dan kompleks dapat tercermin dalam karya sastra.

Sastra merupakan pencerminan budaya suatu masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan sering kali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya. Dalam hal sastra sebagai cermin budaya masyarakat tentu kita harus juga melihat konteks ruang dan waktu. Karena ciri-ciri suatu masyarakat, kondisi sosial, adat istiadat, dan budaya-budaya masyarakat lainnya yang ditulis dalam karya sastra tentu sesuai dengan situasi dan kondisi saat karya sastra tersebut lahir.

Selain sebagai cermin budaya masyarakat, maka hal lain yang menarik untuk dibahas adalah sastra dalam hal ini Sastra Indonesia diciptakan, tumbuh dan berkembang dari budaya Indonesia yang beraneka ragam. Oleh karena itu, keberadaan sastra di Indonesia pun beraneka ragam, mulai keragaman gaya ungkap bahasa, tokoh, mitologi, hingga ke masalah sosial, politik, dan budaya etnik. Moda dan genre sastra di Indonesia yaitu prosa, sajak, puisi, esai, drama dan fiksi menjadi lebih kaya tema dan gaya ungkap bahasa yang spesifik karena ada dongeng, legenda, mitos, epos, tambo, hikayat, syair, pantun, gurindam, macapat, karungut, mamanda, dan geguritan. Keberagaman moda dan genre sastra tersebut juga menyebabkan keberagaman dalam hal gaya ungkap, tokoh yang ditampilkan, semangat mitologi yang mendasari, serta masalah sosial, politik, dan budaya etnik dari sastrawan daerah yang menuliskan karya tersebut.

Baca Juga:  PKI dan Reinkarnasi HTI

Keberadaan sastra Indonesia yang beragam ini tentu tidak terlepas dari adanya keberagaman bahasa daerah di Indonesia. Memang kalau kita lihat dan analisa Bahasa Indonesia merupakan sarana utama pengucapan sastra Indonesia, meskipun Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua, setelah bahasa ibunya. Hal ini memberikan sebuah konsekuensi bahwa dalam karya sastra yang mereka tulis terdapat sejumlah kosakata, frasa, dan kalimat bahasa daerah. Hal itu dimungkinkan karena masyarakat Indonesia berada dalam tataran situasi bilingual atau multilingual.

Bahasa ibu yang dikuasai secara intuitif adalah bahasa daerah sehingga konsep pemahaman tentang alam semesta, lingkungan tempat tinggal, sistem kekerabatan, tata ekosistem kemasyarakatan, dan falsafah hidup yang diajarkan oleh leluhur atau nenek moyangnya akan terasa kental dengan bahasa daerahnya ketika pengarang menulis dengan bahasa Indonesia. Bahasa daerah tersebut mewarnai bahasa Indonesia. Bahasa daerah itu sengaja digunakan karena bahasa Indonesia tidak mampu mewadahi konsep, tujuan, dan maksud bahasa daerah. Ada semacam hambatan atau kesukaran menerjemahkan beberapa kosakata khas bahasa daerah itu ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika pengarang begitu saja mengambil kosakata bahasa daerah sebagai khazanah bahasa Indonesia. Hal itu terjadi pada beberapa pengarang sastra Indonesia, seperti Ahmad Tohari, Umar Kayam, YB. Mangunwijaya yang banyak mengambil kosakata Bahasa Jawa pada karya-karya novelnya. Penyair Amir Hamzah dengan kosa kata Melayu Arkais pada kumpulan sajaknya Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu, dan Bokor Hutasuhut dengan kosa kata bahasa bataknya.

Selain itu, jika kita elaborasi maka banyak karya sastra yang mengangkat budaya lokal daerah. Hal ini dapat disebabkan sejak awal kelahirannya, awal abad XX, sastra Indonesia bersumber pada budaya daerah itu sendiri, misalnya roman Balai Pustaka, Siti Nurbaya (Marah Rusli, 1922, Darah Muda (Adinegoro, 1927), Salah Asuhan (Abdoel Moeis, 1928), dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Hamka, 1938) mengangkat unsur adat masyarakat Minangkabau.

Baca Juga:  Longsor Masih Mengancam

Penggalian nilai-nilai budaya daerah juga ada pada pengarang-pengarang di Jawa seperti Linus Suryadi A.G. (Pengakuan Pariyem, 1981), Umar Kayam (Sri Sumarah dan Bawuk, 1975; Para Priyayi, 1992), Y.B. Mangunwijaya (Burung-Burung Manyar, 1983; Roro Mendut, 1984, Genduk Duku, 1987), dan Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk, 1980), menghadirkan persoalan-persoalan dalam adat istiadat dan budaya Jawa. Sedang pengarang-pengarang yang sering menulis dengan tema budaya Sunda, Jawa Barat misalnya Ajip Rosidi, Ramadhan K.H., dan Achdiat Kartamihardja melalui novel dan cerita pendek yang ditulisnya.

Dalam puisi, budaya lokal atau daerah Madura juga sering digunakan sebagai gagasan atau tema oleh si Penyair Celurit Emas D. Zamawi Imron. Dalam buku-buku kumpulan puisinya seperti: Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996). Sedangkan budaya “suroboyoan” juga menginspirasi dan kemudian dieksplorasi oleh sastrawan Shoim Anwar, seperti sebuah judul dari kumpulan cerpen “Perempuan Terakhir” yang menceritakan kesenian Ludruk, dengan judul Awak Ludru. Dalam cerpen ini, penulis memberikan gambaran tentang pementasan ludruk dengan sejarah-sejarahnya.

Dari daerah lain di luar Sumatera dan Jawa pun kita temukan, misalnya dari Bali kita temukan Oka Rusmini dalam novelnya Sagra (1996) dan beberapa cerpennya yang dimuat dalam Horison, seperti “Sang Pemahat” (2000), menggali nilai budaya Bali ke dalam karya sastra Indonesia modern. Pengarang lain dari Bali, yaitu Rasta Sindhu (Sahabatku Hans Schmitter, 1968), Faisal Baraas (Sanur Tetap Ramai, 1970), Putu Wijaya (Tiba-Tiba Malam, 1972), dan (Dasar, 1993), Ngurah Persua (Tugu Kenangan, 1984), dan Aryantha Soethama (Suzan, 1988). Dari daerah Nusa Tenggara kita menemukan Putu Arya Tirtawirya, Gerson Poyk, dan Otto J. Gaut, yang juga mengekspresikan nilai budaya, yaitu nilai budaya Nusa Tenggara.

Baca Juga:  Menguak Tabir “The Science of Happiness"

Dari paparan di atas bisa kita tarik benang merah bahwa karya sastra bisa mendokumentasikan unsur-unsur kebudayaan yang ada dalam masyarakat, budaya suatu masyarakat di daerah-daerah dalam kurun waktu tertentu yang tidak dicatat dalam buku-buku sejarah dapat diabadikan dalam sastra. Apabila telah terdokumentasikan dalam sebuah karya sastra, pasti tidak akan pernah hilang suatu kebudayaan itu oleh waktu. Selain itu, budaya suatu masyarakat di sebuah daerah adalah sumber inspirasi yang bisa terus digali oleh para sastrawan untuk dijadikan tema atau gagasan dalam menulis karya-karyanya.

Dari dua hal di atas yaitu sastra sebagai bagian dari dokumentasi budaya yang tak bisa hilang ditelan waktu dan budaya sebagai sumber inspirasi dalam karya sastra, maka dapat kita simpulkan bahwa sastra Indonesia sangat penting untuk digunakan sebagai media melestarikan dan membangun budaya bangsa.

Ketiga, perlunya menggalakkan budaya gemar membaca di seluruh lapisan masyarakat, dengan meningkatkan jumlah perpustakaan yang representatif. Gerakan budaya gemar membaca tidak hanya di institusi-institusi sekolahan, tetapi di semua institusi pemerintah harus secara sadar ikut terlibat aktif dalam gerakan gemar membaca, karena majunya peradaban sebuah bangsa selalu tergantung pada bagaimana bangsa tersebut membangun literasinya.

Advertisement

Popular