Connect with us

Cerpen

Kaca Mata

Published

on

Ilustrasi: Hello Sehat

Jam 05.00 ia dibangunkan suara alarm yang bising, tak segera beranjak dan mematikan alarm, ia memilih untuk membuka mata kemudian merangkai kembali ingatan-ingatan yang hilang ketika tidur. Lalu menyusun rencana apa yang harus ia lakukan hari ini.

Mematikan alarm, merapikan tempat tidur, mandi, salat subuh. Setelah itu ia bergegas ke dapur menyiapkan bekal untuk berangkat ke kantor.

Jam 06:30 ia berangkat menggunakan motor, lalu beberapa menit kemudian ia sampai. Tapi tunggu bukan itu yang mau aku ceritakan, ini sesuatu yang lain, dan aku akan memulainya dari sekarang.

Pada akhir September tiga tahun yang lalu, ia sedang duduk di sebuah cafe, di sana ia tidak sengaja bertemu dengan seorang kolektor buku lawas. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan buku lama, tetapi kolektor itu yang membuka pembicaraan dan menawarinya beberapa buku bekas/lawas.

Kolektor buku lawas itu membawa sekeranjang buku, ditawari pada pelanggan café, mungkin ada yang tertarik dan membelinya. Ia menyebut orang orang aneh yang orang jarang kenal, Hemingway, Borges, Tolstoy, Maxim Gorki, Gabriel Marquez, Camus, Chairil, Sitor, Rendra sampai Dostoevsky.

Hampir setiap pelanggan di café itu yang ia temui berkata “tidak” atau “maaf”. Kolektor itu sempat bergumam, “apakah karena dunia ini sudah maju, mereka tidak mau melihat ke belakang?” Kolektor terus berkeliling dan sampailah ia pada meja terakhir, seorang perempuan yang sedang duduk sendiri.

“Permisi mbak, barangkali mau melihat buku-buku lawas?”

“Dijual atau baca gratis mas?” kata si perempuan.

“Sebenarnya buku-buku ini sudah ingin aku jual mbak, tapi kalau mbak berminat untuk membacanya saat ini, gak papa, aku persilahkan,” kolektor itu menyodorkan keranjang sambil tersenyum.

“Oh terima kasih mas, saya lihat-lihat dulu ya.”

Perempuan itu mulai mengambil satu persatu buku yang ada di keranjang, sambil membaca judul atau memerhatikan gambar sampul. Ia terus membongkar seisi keranjang kemudian menarik satu buku tipis.

Baca Juga:  Cah Ayu, Cah Kae

“Bagus mas?” perempuan itu mengacungkan buku sambil bertanya.

“Semua buku bagus, tergantung dibaca atau tidak?”

“Hehe masnya ngece ya, aku tidak terlalu sering baca buku mas, seingatku aku dulu rajin, itu pun buku pelajaran.”

“Itu juga bagus mbak, kan membaca juga.”

“Rumah kertas? lucu judunya,” kata perempuan itu, sambil membalikkan buku, dan membaca sinopsis di belakang buku.

“boleh aku baca mas?

“Boleh mbak, buku tipis itu memang direncanakan untuk dibaca sekali duduk”

“Oh iya, emang mas mau menunggu aku menyelesaikan satu buku ini?”

“Aku akan menunggu, dan tidak akan merugikan waktuku.”

“Oke, aku baca ya.”

Perempuan itu pun langsung membaca, awalnya ia sering mengerutkan dahi, mungkin ia menemukan kata-kata asing, nama asing, tempat asing, atau suasana asing. Waktu terus berjalan, dan perempuan itu sama sekali tidak melepaskan satu pandangannya dari buku, kadang tersenyum sendiri, dan kadang sambil berkomentar “gila”.

Ketika suasana hening, sang kolektor kembali teringat ketika ia pertama kali membaca buku rumah kertas itu, suatu sore di café yang menyediakan perpustakaan kecil, lelaki itu meminjam buku kecil, tujuannya ingin melepas penat setelah beraktifitas seharian, ketika itu ia masih seorang pimpinan suatu organisasi mahasiswa, cukup sibuk, tapi ia selalu meluangkan waktu untuk membaca, meski sebentar. Ia menyelesaikan buku itu dalam dua jam, memang bahan bacaan yang ringan, novel yang plotnya tidak rumit. Kemudian lelaki tersebut berucap tanpa sadar “buku yang bagus ialah buku yang membuat pembacanya terus membaca meski buku itu sudah ditutup”.

“Gimana mas?” perempuan itu tiba-tiba menanggapi.

“Eh enggak, tadi hanya celetukan.

“Walah, eh mas apa artinya bibliofil, apakah sama dengan pedofil?

Baca Juga:  Sepi

“Enggaklah, bibliofil itu orang yang tergila-gila atau sangat terobsesi dengan buku.”

“Owh, pantes ada tokoh yang sampai bercerai dan menjual rumah demi membeli buku.”

“Sudah sampai mana bacanya? Tanya sang kolektor.

“Brauer membangun rumah dari buku di tepi pantai mas.”

“Hampir selesai ya, lanjutkan saja.”

Perempuan itu terus membaca dan sekarang menyisakan beberapa lembar saja, sebentar lagi selesai, dan sang kolektor pun berusaha mengingat kembali alur cerita buku rumah kertas, sang kolektor mengira nanti setelah perempuan itu selesai membaca akan ada pertanyaan atau diskusi menarik, dan menurutnya itu lebih berharga daripada menjual buku hari ini.

“Selesai, Carlos Maria Dominguez” perempuan itu menutup buku dan membaca pengarang buku rumah kertas itu.

“Bagaimana menarik bukan?” tanya sang kolektor.

“Menarik, tapi apakah orang yang mencintai buku itu tidak pernah mencintai perempuan, atau ia pernah sakit hati kemudian lebih memilih mencintai buku?”

“Aku tidak tahu, tapi mungkin.”

“Apakah mas juga seorang bibliofil?”

“Ya bisa dibilang begitu, aku sekarang baru sadar, betapa bahayanya membaca buku, karena itu di beberapa negara, ada buku yang dilarang, atau pendidikannya sengaja tidak diprioritaskan untuk tekun membaca, supaya populasi bibliofil tidak meningkat.”

“Lalu kenapa sekarang mas menjual buku kepada orang lain?”

“Buku itu seperti racun, atau virus tapi baik, aku ingin berbagi kepada orang lain.”

“Mas yang aneh” kata si perempuan, dan lelaki kolektor itu hanya tersenyum menanggapi.

“Apa mas punya buku favorit.”

“Tidak terlalu, tapi untuk saat ini aku sedang menyukai Sisifus Albert Camus, meskipun aku sudah lama membacanya.”

“Kenapa mas?”

“Setiap orang mengira sisifus itu menderita, karena ia dihukum oleh dewa, ia mendorong batu besar ke puncak gunung lalu batu itu menggelinding kembali ke bawah, terus menerus, bagi orang lain itu merupakan siksaan, tapi kata Camus, barangkali hidup orang lain atau sisifus yang kita anggap menderita, justru membuat ia senang, mungkin karena ia sering mendapat tantangan dan akhirnya jatuh, ia menjadi lebih kuat, dan lebih kuat dari hari sebelumnya, begitulah kita menghadapi hidup, apa pun keadaannya harus membuat kita senang dan bahagia.”

Baca Juga:  1 Suro

“Menarik ya mas, kalau banyak tahu tentang sesuatu,” balas si perempuan.

“Aku tidak mengetahui apa pun.”

“Oh iya mbak, hari sudah sore, kalau membacanya sudah selesai, boleh saya pamit?”

“Iya mas, silakan terima kasih sudah diizinkan membaca.”

“Santai mbak, sebagai hadiah telah meluangkan waktu membaca bukuku hari ini, buku mitos sisifus ini saya berikan kepada mbak.”

“Wah terima kasih mas, semoga setelah ini saya rajin membaca buku.”

Lelaki sang kolektor buku lawas itu pun pergi, dan perempuan itu melihat buku yang baru saja diberikan kepadanya, jam 17.15 ia melihat ke jam tangannya, dan ia bergegas pulang.

Hampir tiga tahun berlalu, sejak kejadian itu, si perempuan teringat kembali pada buku yang diberikan kepadanya, ia melihat Sisifus berdiri tegak di rak buku. Sebelum tidur ia mengingat obrolan bersama sang kolektor, malam itu ia baru saja putus dengan pacarnya, ia sangat bersedih, namun kisah sisifus menguatkan dirinya, ia tersenyum, dan berkata “tidak apa-apa”.

Di kantor ia bersemangat seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa, meski terasa berat, ia tetap tegar, dan kembali teringat pada ucapan sang kolektor, “justru sisifus menjadi lebih kuat karena tantangan yang ia hadapi.”

Advertisement
Advertisement

Terkini

News29 menit ago

Program Kartu Prakerja Sudah Jalani Audit Inspektorat Kementerian, BPK, BPKP, hingga Taati Saran KPK

SERIKATNEWS.COM – Pelaksanaan Program Kartu Prakerja telah menjalani audit, reviu dan evaluasi oleh Inspektorat Jenderal Kemenko Perekonomian, Inspektorat Jenderal Kementerian...

Ekonomi39 menit ago

Program Kartu Prakerja Atasi Tiga Masalah Utama Ketenagakerjaan Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Kondisi ketenagakerjaan Indonesia sebelum masa pandemi Covid-19 ditandai dengan tiga hal yang sangat menonjol. Yakni, rendahnya produktivitas kerja,...

News58 menit ago

Kesiapan UGM Sambut Peserta CBT UM

SERIKATNEWS.COM – Sebanyak 36.470 peserta mengikuti Computer Based Test Ujian Masuk Univeritas Gadjah Mada (CBT-UM UGM) 2021 hari pertama yang...

News21 jam ago

Brigjen Pol Sukawinaya Jabat Sestama BNN, JARRAK: Sosok Penuh Prestasi

SERIKATNEWS- Sebanyak 12 pejabat Badan NarkotikaNasional (BNN) RI yang terdiri dari pimpinan tinggipratama, administrator, dan penyidik madya dilantiksekaligus melakukan sumpah...

News22 jam ago

PLN Apresiasi Ditjen Minerba dan 48 Pemasok Batu Bara Jaga Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN mengapresiasi dukungan pemerintah dan 48 mitra pemasok batu bara dalam penyediaan bahan bakar pembangkit demi menjaga keandalan pasokan...

News1 hari ago

Sanggar Belajar: Tingkatkan Semangat Literasi Desa melalui Edukasi Alternatif

SERIKATNEWS.COM- Pemuda Jatiurip menyelenggarakan edukasi Alternatif dunia literasi. Program Dunia literasi yang dijalankan ini sesuai dengan program Karang Taruna Desa...

Olahraga1 hari ago

Dukung Ajang PON XX di Papua, PLN Siapkan Perkuatan Keandalan Listrik 

SERIKATNEWS.COM- PLN siap menyukseskan gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang akan digelar Oktober mendatang. Progres pekerjaan kelistrikan untuk...

Populer

%d blogger menyukai ini: