Ela baru tahu arti skimming setelah beberapa hari terakhir ini berita tentang majikannya berseliweran di televisi dan media sosial. Tak ada instruksi untuknya. Tak ada persiapan apa pun untuknya. Kata-kata terakhir majikannya hanya agar Ela menjaga Hanna, putri sang majikan yang berusia 5 tahun. Istri majikannya masih tampak syok, tak bisa diajak bicara, terus menangis dan menatap nanar kamera wartawan.
Kedua majikannya digiring polisi dari rumah beserta sejumlah barang bukti. Mesin ATM, kartu ATM dari berbagai bank, mesin EDC, laptop dan brankas uang yang dari dalamnya biasa digunakan untuk membayar gaji Ela dan belanja sehari-hari. Haryadi, sang majikan dan istrinya ditahan di Polda Metro Jaya dengan sangkaan melakukan pembobolan ATM yang merugikan nasabah ratusan juta rupiah.
Sebenarnya kata ‘majikan’ hanya ia tujukan kepada Haryadi. Dengan istrinya, Ela hampir tak pernah bicara bahkan kalau bisa tak ketemu. Ia biasa bekerja dari jam 8 pagi hingga 4 sore, dari hari Senin hingga hari Jumat saja. Nasibnya sebagai janda muda, berparas manis membuat majikan-majikan perempuan acap menyimpan curiga kepadanya. Tak terkecuali istri Haryadi yang tak tahu menahu tentang segala hal terkait suaminya. Bukan hanya persoalan kriminal yang sedang dihadapi Haryadi, istrinya juga tak tahu apa yang menjadi kesukaan dan kebiasaan sang suami. Ia hampir tak punya waktu untuk keluarga sejak bergabung di sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang interior design. Dan Hanna? Sejak usia 5 bulan tak lagi mendapatkan ASI padahal anak itu doyan sekali nyusu.
Setiap berada di bawah satu atap, hanya pertikaian yang sering keluar dari mulut pasangan yang menikah beda agama itu. Hanna menangis menjerit jika istri majikannya mulai melempar barang-barang. Paginya, tembok, kain gorden dan semua perabot runut menceritakan kronologi kejadiannya kepada Ela yang turut meringis, sedih.
Haryadi, lelaki kesepian yang bahagia dengan pengembaraan tanpa batas di dunianya yang serba maya itu hanya menampakkan sorot mata minta kasihan. Ela yang digaji 5 juta per bulan, dua kali lipat lebih tinggi dari pembantu yayasan-yayasan ternama di Jakarta tak pernah absen memberikan kasih sayang kepada Hanna, layaknya seorang ibu. Hadirnya di rumah Haryadi yang tingkah lakunya serba misterius membuat rasa kewanitaannya kerap muncul. Ia tak menolak seandainya Haryadi memintanya menggantikan Diana, sang istri yang setiap malam diam-diam menerima telepon di sudut kebun hidroponik yang dirawatnya bersama Haryadi.
Air matanya menetes, bantalnya basah, terdengar langkah kaki kecil-kecil setengah berlari menghampirinya.
“Ibu, obatnya sudah diminum?”
“Oh Hanna, senangnya Ibu melihatmu, Sayang.”
Anak kecil itu hanya mematung menatapnya. Ia bukan Hanna yang selalu ia kucir ponytail. Ia Husni, anak kandungnya yang selama ini tinggal di rumah orang tuanya di sini, di Banjarnegara. Entah sudah berapa lama Ela mendiami bangsal rumah sakit yang berisi 8 tempat tidur itu. Di atas lemari kecil tak jauh dari tempat tidurnya tampak setumpuk surat panggilan dari pengadilan.
Penulis adalah News Presenter BeritaSatuTV dan Tenaga Ahli DPR RI, Jakarta
Mahasiswi Program Doktor Ilmu Kriminologi UI
Baru-baru ini meluncurkan buku Kumpulan Cerpen; Apple Strudel
Chat Nastiti untuk informasi lebih lanjut melalui Twitter/Instagram @nastitislestari
Menyukai ini:
Suka Memuat...