Connect with us

Opini

Moderasi dalam Dekonstruksi Budaya dan Agama

Published

on

Ilustrasi sedekah laut di Bantul sebagai wujud syukur nelayan (Foto: Pemkab Bantul)

BUDAYA yang diyakini oleh banyak orang sebagai warisan luhur di setiap bangsa, terkadang mengalami keterbatasan makna. Meski di setiap daerah memaknai budaya sangat beragam, tetapi secara global justru hanya disepakati dengan satu istilah dalam bahasa Inggris, yaitu culture.

Belum lagi, jika makna budaya dihadapkan dengan makna agama. Keduanya baik budaya dan agama jika berhadapan satu sama lain, seolah menimbulkan konflik dan tidak dapat harmonis berjalan bersama-sama.

Budaya atau culture dimaknai sebagai produk manusia, yaitu akal budi. Seolah hanya membatasi bahwa budaya memang produk manusia, yang kehadirannya tidak bisa sebanding dengan agama. Dan menurut Koentjaraningrat (1923-1999), makna budaya adalah seluruh sistem gagasan, rasa, dan tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan. Sedangkan agama yang bermakna universal merasa mewakili seluruh agama, bahkan aliran kepercayaan. Sedangkan secara historis, agama memiliki berbagai macam ragam, tidak seperti budaya meski banyak kepercayaan, tetapi dapat disatukan dengan makna ‘budaya’.

Di sini pada akhirnya makna budaya dan agama tidak mampu harmonis saling melengkapi, seolah budaya berdiri sendiri atau lepas dari agama, begitu juga sebaliknya. Di saat seperti ini, maka kita perlu konsep moderasi, yaitu jalan tengah untuk menengahi persoalan budaya dan agama agar dapat berdampingan secara harmonis.

Menengahi budaya dan agama agaknya perlu, mengingat kerap sekali terjadi gesekan bahkan konflik antar budaya dan agama. Moderasi harus hadir menengahi dengan upaya dekonstruksi ‘mengulang’ kembali struktur bahasa terkait makna budaya dan agama itu sendiri. Budaya dan agama harus disusun kembali maknanya. Menurut Jacques Derrida bahwa teks itu tidak lagi sebagai tatanan yang utuh, melainkan arena pergulatan yang terbuka. Sehingga perlu dekonstruksi teks budaya dan agama yang selama ini kerap menemukan kontradiksi, bahkan terjadi gesekan.

Baca Juga:  Intimidasi di Car Free Day adalah Tindakan Barbar

Dekonstruksi makna budaya harus dipahami secara terbuka bukan sekedar akal budi perilaku manusia, yang selama ini dipahami. Menurut kiai Jadul Maula, bahwa budaya sesungguhnya memiliki makna yang luas dan luhur, yaitu terdiri dari dua kata; kata ‘budi’ itu bermakna cahaya, sedangkan kata ‘daya’ bermakna perilaku. Sehingga budaya secara istilah bermakna luas, yaitu segala perilaku manusia yang diilhami oleh cahaya. Cahaya itu sendiri menurut Jadul Maula bermakna ‘Tuhan’ (disampaikan pada acara temu konsultasi pemahaman keagamaan di DIY oleh Bimas Kementrian Agama RI).

Ketika budaya dipahami sebagai perilaku yang didapat dari cahaya ‘Tuhan’, maka ada titik temu yang dapat menengahi kontradiksi makna budaya terhadap agama. Karena agama yang dimaknai secara mainstream pun kurang lebih ada persamaan makna dengan budaya. Yaitu, agama adalah sebuah keyakinan yang hadir dari Sang Maha Pencipta. Sehingga orang yang beragama, yaitu orang yang juga ber’akal’ dan berperilaku baik yang dibimbing oleh ‘Tuhan’ (Harun Nasution, 1973).

Setelah dapat menengahi persoalan budaya dan agama, kiranya kita semua sepakat bahwa budaya dan agama memiliki tujuan yang sama, yaitu perilaku kebaikan. Baik budaya dan agama keduanya juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang harmonis baik sesama makhluk, alam, bahkan hubungannya dengan ‘Tuhan’.

Maka budaya dan agama yang hadir harus disikapi dengan moderasi, yaitu mengambil jalan tengah agar tidak terjadi ekstrimis yang berlebih dengan memihak salah satunya dan menganggap paling baik. Dalam Islam pun mengenal istilah perubahan budaya atau rekonstruksi (tahmil), jika ada hal-hal yang perlu disesuaikan dengan ajaran Islam; dan adakalanya Islam melakukan akomodasi (tahlil), jika budaya atau tradisi tersebut tidak bertentangan sama sekali dengan Islam (Prof. Abdul Mustaqim, 2020).

Baca Juga:  Perspektif Pancasila Kekinian Sebagai Pencegahan Radikalisme Agama

Untuk itu, moderasi terhadap budaya dan agama juga menjadi keharusan yang segera dapat dipahami masyarakat Indonesia, mengingat saat ini Indonesia tidak lagi lahir dari mono-culture atau mono-religius. Namun, lahir dari multiculture dan multireligius. Sudah saatnya moderasi terhadap budaya dan agama juga dapat mengedepankan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Minal ‘adawah ila al-ukhuwwah (dari saling bermusuhan menjadi persaudaraan).
  2. Mina al-ghuluww wa tatharruf ila al-i’tidal wa al-tawassuth (dari sikap ekstrem dan radikal menjadi bersikap moderat dan tengah-tengah).
  3. Minal la’nah ila rahmah wa samhah (dari pandangan yang cenderung melaknat orang lain (intoleran) menuju kasih sayang dan toleran).
  4. Minal in-ghilaq ila al-infitah (dari sikap eksklusif ke arah inklusif.

Kiranya dengan 4 poin di atas, kita dapat menumbuhkan sikap moderasi dan menguatkan kembali pemaknaan ulang atas budaya dan agama yang selama ini sering dimaknai kontradiksi, bahkan sampai terjadi konflik diantara keduanya. Wallahu a’lam bishawab.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Ekonomi2 jam ago

Gus Halim: Santri Berperan Gerakkan Ekonomi Desa

SERIKATNEWS.COM – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menyatakan, santri berperan besar dalam menggerakkan ekonomi desa....

Sosial-Budaya4 jam ago

Ketum PBNU Ajak Para Santri Refleksikan Kembali Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj mengingatkan bahwa Islam di Indonesia pada dasarnya...

News4 jam ago

Kejutan Hari Santri, Kemnaker Luncurkan Seribu Beasiswa Talenta Santri

SERIKATNEWS.COM – Pada gelaran Malam Puncak Amanat Hari Santri 2021, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah memberikan kejutan kepada para santri...

Sosial-Budaya4 jam ago

Peringatan HSN 2021 Banyak Diwarnai Kegiatan Akademik

SERIKATNEWS.COM – Sejak adanya keputusan Presiden nomor 22 Tahun 2015, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) selalu...

Sosial-Budaya4 jam ago

RMI PBNU Targetkan Pemetaan SDM NU yang Lebih Konkret

SERIKATNEWS.COM – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) menargetkan adanya pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM) NU yang...

News4 jam ago

MURI: NU Pecahkan Rekor Dunia

SERIKATNEWS.COM – Upaya tanpa lelah yang dilakukan Rabithah Ma’had Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU) dalam memperingati Hari Santri Nasional...

Sosial-Budaya5 jam ago

Peringati HSN 2021, RMI PBNU Gelar 1000 Khatmil Quran untuk Syuhada

SERIKATNEWS.COM – Dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar...

Populer

%d blogger menyukai ini: