Connect with us

Opini

Pancasila: Sebuah Kemestian yang Menyatukan

Published

on

Ilustrasi Pancasila (Dok. Kompas)

SERANGAN bom bunuh diri gerakan terorisme beberapa waktu lalu di Makassar mengejutkan dan menyentak nurani dan kesadaran kita. Kita terkesiap, lengah, dan terhenyak. Upaya untuk merubuhkan ke-Indonesia-an kita sontak hadir kembali di depan mata. Gerakan terorisme berupaya untuk membuyarkan apa yang sudah dibangun susah-payah oleh para pendiri bangsa, yakni Indonesia yang berbeda tapi satu: Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan dan keragaman kita semua dipayungi sekaligus didasari oleh Pancasila. Sebuah ikatan yang menyatukan kita semua. Sebuah kemestian bagi kemajemukan kita dalam berbangsa.

Frasa “Bhinneka Tunggal Ika” terpampang di bagian bawah lambang negara Burung Garuda (Pancasila). Arti umumnya adalah “berbeda tetapi satu”, sebagaimana secara terus-menerus pengetahuan mengenai pengertian ini diturunkan semenjak kita duduk di bangku sekolah dasar. “Berbeda tetapi satu” adalah wajah Indonesia sebagai suatu bangsa. Berbeda dalam hal berbahasa, budaya, kebangsaan, agama, kepercayaan, berpakaian, berperilaku, dan lain sebagainya. Keterbedaan inilah yang oleh Bung Karno dinilai sebagai sesuatu yang terberi saat ikatan negara-bangsa Indonesia diproklamirkan. Keterbedaan ini merupakan mutiara yang memperkokoh ikatan kebangsaan dalam satu negara. Jadi kata “Bhinneka”, merupakan simbolisasi penanda sifat majemuk yang menjadi keseluruhan konstruksi negara-bangsa Indonesia.

Maka, kebangsaan Indonesia sekarang ini adalah benar-benar didasarkan pada suatu rumusan politik yang sedemikian rupa sebagai rasa senasib dan sepenanggungan dalam sejarah. Jadi pertanggungjawaban tertinggi atas sejauh mana dan sedalam apa warga “meng-Indonesia” atau tidak, bergantung pada rasa solidaritasnya dan keterlibatannya dalam perasaan tersebut. Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya, kemudian memberikan sebuah pengukuhan terhadap dasar identitas nasional yang terbentuk itu dengan memancangkan sebuah prinsip politik yang melengkapi rasa kebangsaan: yakni Pancasila.

Baca Juga:  Mari Ikhtiarkan Pancasila Sebagai Ide Penuntun

Dengan demikian, Soekarno meletakkan Pancasila sebagai semacam perspektif, yakni cara kita melihat dan memandang dunia. Sebagai perspektif, maka Pancasila berfungsi secara positif yakni memberikan instrumen untuk memahami realitas, semacam obor penerang atau peta yang memberi arah dan orientasi, semacam jendela di mana dari bidangnya yang terbatas kita mampu menjangkau cakrawala atau horizon yang jauh lebih luas. Dengan menyebut Pancasila sebagai falsafah dasar, maka Bung Karno sekaligus hendak meletakkan Pancasila tidak hanya sebagai nilai-nilai yang memberikan orientasi tetapi juga pijakan untuk memandang dan mentransformasi dunia luar.

“Bhinneka” adalah rujukan dalam sistem pembeda antara satu bangsa dengan yang lain. Tetapi juga dirujuk bagi keterbedaan lainnya, baik agama, gender, budaya dan lainnya. “Bhinneka” bukan lagi semata-mata penanda rujukan bagi keterbedaan (suku) bangsa, melainkan keseluruhan tatanan sosial-budaya. Dalam keterbedaan inilah Indonesia sebagai bangsa hidup dan berkembang. Di sinilah Pancasila menjadi payung yang menjamin bahwa keterbedaan itu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolak, sekaligus juga menjadi fondasi tata kehidupan masyarakat-bangsa sehingga bukan pula menjadi sesuatu yang harus diseragamkan.

Pancasila adalah payung yang “satu” untuk mengayomi yang “beragam” atau yang bhinneka. Bhinneka ini adalah representasi dari wajah negara-bangsa yang didasarkan pada sejumlah perbedaan tata-sosial dan kultural. Pancasila merupakan titik temu dari keterbedaan dan keragaman ini. Titik temu yang memayungi dan memberi pijakan, bukan titik temu yang mensub-ordinasi. Relasi sub-ordinasi bukanlah relasi yang ditampilkan oleh bhinneka dan Pancasila, melainkan relasi yang mutualis, yang saling memperkaya, bukan saling meniadakan yang lain. Gerakan terorisme yang banyak muncul justru bertentangan dengan prinsip bhinneka. Yang ada adalah bahwa yang lain harus disingkirkan, demi yang satu.

Baca Juga:  Pelanggaran Hak dan Tanggung Jawab dalam Pernikahan Anak

“Ke-Indonesia-an” adalah keterbedaan. Klaim moral, identitas primordialisme tidak boleh mengurangi perbedaan ini. “Ke-Indonesiaan” dan “Ke-bhinekaan” adalah dua soal yang tak terpisahkan. Keduanya ada karena satu dengan lainnya. Logika identitas menyempitkan ruang-ruang ini, bahkan kerap berupaya meruntuhkan dinding-dinding pembatasnya. “Ke-Indonesiaan” dipancangkan dengan dua fondasi, yakni Pancasila dan Bhinneka.

Jadi Bhinneka bukanlah mantra, tetapi lebih merupakan state of being dari tatanan sosial dalam negara-bangsa Indonesia. Bhinneka diciptakan dari keterbedaan yang terbentuk dan ada, dan beroperasi dalam konstruksi diskursus mengenai Indonesia. Bhinneka bukan indikator moralitas, melainkan variabel dalam demokrasi. “Ke-Bhinneka-an” dalam “Ke-Indonesia-an” yang didasari oleh Pancasila dan dijaga oleh UUD 1945. Penolakan terhadap “Ke-bhinneka-an” berarti penolakan terhadap “Ke-Indonesia-an”, dan berarti pula penolakan terhadap Pancasila dan konstitusi.

Dalam kerangka itu kita meletakkan Pancasila. Sebagai gagasan rujukan dalam membangun politik kebangsaan dan kewargaan kita. Pancasila menjaga nilai-nilai publik sebagai wadah bersama yang menampung keberagaman. Pancasila adalah pedoman untuk menuntun yang “beragam” atau yang bhinneka. Bhinneka ini adalah representasi dari wajah negara-bangsa yang didasarkan pada keragaman dan perbedaan politik, sosial dan budaya. Pancasila merupakan titik-temu dari perbedaan dan keberagaman. Titik temu yang memayungi, bukan menyubordinasi. Relasi subordinasi bukanlah relasi yang ditampilkan oleh prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila, melainkan relasi mutualisme, yang saling memperkaya, bukan saling meniadakan.

PROJO mengajak seluruh komponen bangsa untuk kembali mengikhtiarkan diri kepada Pancasila sebagai pedoman, sebagai leitstar, sebagai ide penuntun, yang akan memperkukuh fondasi dan peradaban kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat. Dengan berpedoman pada Pancasila, PROJO meyakini bahwa bangsa Indonesia akan berkembang dan maju, serta memberikan sumbangan besar bagi peradaban dunia sekaligus peradaban kemanusiaan, karena dalam keragaman, kita secara bersama-sama bisa memajukan kehidupan rakyat menuju masyarakat yang maju, adil, makmur, sejahtera, dan berkepribadian.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Olahraga2 jam ago

Isran Noor Yakin Atlet Kaltim Dapat Meraih Prestasi di PON XX Papua

SERIKATNEWS.COM – Gubernur Kaltim Isran Noor melepas kontingen Kalimantan Timur yang akan berlaga di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX...

Ekonomi3 jam ago

Tingkatkan Produktivitas, PLN Bantu Mesin Produksi UMKM Opak Ketan di Sumedang

SERIKATNEWS.COM – Makanan atau jajanan kuliner Indonesia di masing-masing daerah cukup beragam. Tak melulu soal tahu, jika berkunjung ke daerah...

News3 jam ago

Momentum Hataru 2021: PLN, KPK, dan Kementerian ATR/BPN Terus Bersinergi Amankan Aset Negara Lewat Sertifikasi Tanah

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional...

News4 jam ago

Sinergi Makin Kuat, PLN Siap Pasok Listrik 678 MW ke Kilang Tuban Pertamina Rosneft

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) siap memasok listrik sebesar 678 megawatt (MW) untuk mendukung produksi bahan bakar minyak (BBM) di...

News10 jam ago

PLN Rampungkan Kabel Listrik Bawah Laut Sumatera-Bangka Akhir 2021

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) menargetkan sistem kelistrikan Sumatera dan Bangka bakal terhubung kabel listrik bawah laut pada Desember 2021....

News13 jam ago

Presiden Dukung PROJO dan GAPKI Laksanakan Vaksinasi 7 Juta Warga

SERIKATNEWS.COM – Presiden RI Joko Widodo mengatakan bantuan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk percepatan dan perluasan vaksinasi Covid-19. Menurut...

News14 jam ago

Dukung PON XX 2021, Kominfo Siapkan Layanan Jaringan Telekomunikasi dan Fasilitas Media Center

SERIKATNEWS.COM – Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 Papua tinggal hitungan hari. Untuk mendukung ajang olahraga empat tahunan itu,...

Populer

%d blogger menyukai ini: