TAPANULI TENGAH – Di tengah hiruk-pikuk penanganan bencana dan situasi darurat yang masih menyelimuti Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), ada kisah keteguhan seorang mahasiswi Universitas Terbuka (UT) Medan semester 9 Fakultas PGSD. Ia adalah Eska Laurensia Sinabutar, warga Kecamatan Tukka, yang tetap berjuang menyelesaikan tugas akhir meski hidup dalam keterbatasan pascabencana.
Banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tempat tinggalnya membuat akses listrik padam total dan jaringan telekomunikasi terputus. Namun, di tengah kondisi itu, Eska tetap harus mengirimkan tugas akhir kuliah yang sudah mendekati batas waktu pengumpulan.
“Jaringan hilang sama sekali. Rumah juga gelap. Tapi tugas harus tetap dikumpulkan, mau tidak mau saya harus cari sinyal,” ujar Eska seperti dikutip dari infopublik.id, Jumat, 5 Desember 2025.
Dengan tas ransel berisi laptop, charger, dan dokumen kuliah yang ikut basah akibat bencana, Eska memutuskan berjalan keluar dari kampungnya. Kondisi medan tidak mudah. Jalan masih tertutup lumpur, beberapa titik licin, dan akses banyak yang terputus.
“Saya berjalan kurang lebih empat jam. Kadang harus berhenti karena capek, kadang karena jalannya rusak. Tapi saya harus terus maju supaya bisa kirim tugas,” ujarnya.
Tujuannya hanya satu, yaitu menemukan sinyal. Ia sempat singgah di beberapa titik, tetapi tidak ada jaringan yang bisa digunakan untuk mengunggah dokumen tugas akhir yang ukurannya cukup besar.
Perjalanan panjangnya membuahkan hasil ketika ia tiba di GOR Pandan, lokasi yang kini dijadikan Pusat Informasi dan Media Center oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Fasilitas tersebut dilengkapi jaringan internet dan akses komunikasi yang disiapkan untuk kebutuhan darurat penanganan bencana.
Saat melihat banyak warga, relawan, dan petugas sedang menggunakan fasilitas komunikasi, Eska sempat tidak percaya bahwa ia akhirnya menemukan tempat yang tepat. “Begitu lihat ada Wi-Fi dan listrik, saya langsung menangis pelan. Rasanya seperti nemu harapan,” katanya.
Petugas di pusat informasi membantunya menghubungkan perangkat dan memastikan ia bisa mengirimkan tugas dengan lancar. “Terima kasih banyak untuk pemerintah dan Kemkomdigi. Saya benar-benar terbantu. Kalau tidak ada pusat informasi ini, saya tidak tahu bagaimana menyelesaikan tugas kuliah,” ujar Eska.
Meski sedang menghadapi situasi sulit, Eska tetap bertekad menyelesaikan studinya di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka Medan. “Saya ingin jadi guru. Itu cita-cita saya. Biar pun sekarang sedang susah, kuliah tetap harus jalan. Ini juga cara saya bangkit dari musibah,” tuturnya.
Bagi Eska, pendidikan adalah harapan, dan tugas akhir yang ia kirimkan dari tengah pengungsian menjadi simbol keteguhan semangatnya.
Kisah Eska menunjukkan bahwa fasilitas yang disediakan Kemkomdigi itu juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menjaga asa di tengah musibah. “Saya bersyukur masih bisa melanjutkan tugas. Semoga semua cepat pulih,” kata dia.
Dalam situasi darurat yang penuh keterbatasan, kisah Eska menjadi gambaran keteguhan dan harapan bahwa pendidikan tetap dapat berjalan, bahkan dari tengah bencana. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...