Tak ada koneksi yang masif antara sepak bola dengan perempuan. Perempuan terdistansi dari sepak bola. Sepak bola secara positif terasosiasi sebagai dunia kaum patriat dan sebaliknya teradhesi dengan perempuan. Identitas laki-laki terlanjur masif mendominasi relasi makna dari sepak bola dan perempuan terkucil sebagai subaltern.
Semakin populernya sepak bola, sebenarnya berimplikasi besar pada semakin banyaknya populasi perempuan yang memiliki perhatian terhadap sepak bola. Juga pada perkembangannya, kita sudah mendapati sepak bola yang terdiri dari pemain berjenis kelamin perempuan. Tetapi, citra sepak bola sebagai dunia maskulin tak secara otomatis menjadi bisa diimbangi.
Itu pun, tetap saja tidak banyak perempuan yang bisa mengakses untuk bisa menjadi bagian dari sepak bola dari dekat. Bahkan hingga memasuki abad -20, masih terdapat banyak negara yang berlaku konservatif dengan menutup akses perempuan supaya tak bersinggungan secara langsung dengan sepak bola.
Seorang sineas berkebangsaan Iran, Jafar Panahi berhasil mengangkat isu ini dalam bentuk film drama satir, mengkritik kebijakan ketat otoritas pemerintahan setempat yang tak membolehkan perempuan menonton sepak bola.
Di film yang dibuat tahun 2006 dengan judul “Offside” ini bahkan digambarkan bagaimana sanksi menanti jika didapati perempuan menonton sepak bola dari layar televisi. Namun, daya tarik sepak bola telah terlanjur menyihir tak sedikit perempuan sehingga membuat hasratnya meronta dan menjadikan mereka berontak.
Di antara mereka pun banyak yang melakukan hal-hal nekat demi bisa melihat sepakbola secara langsung dari dekat sekali. Sebuah film yang akhirnya membawa Jafar Panahi dijebloskan ke bilik jeruji besi.
Film ini sebenarnya gambaran riil dari perjuangan panjang perempuan-perempuan Iran yang selama ini kehilangan momentum untuk menyatu dalam atmosfer sepak bola. Di satu sisi, mereka selalu merasa gagal menunjukkan dukungan terhadap timnas sepak bola Iran mengingat aturan terkait berlaku sejak tahun 1987.
Hingga pada puncaknya, sebuah peristiwa tragis terjadi. Seorang pendukung fanatik perempuan klub Estegal, Sahar Khodayary melakukan aksi bakar diri karena kecewa atas sanksi kurungan 6 tahun penjara setelah aksi nekatnya ketahuan saat menyamar menjadi laki-laki demi menonton tim sepak bola kesayangannya berlaga.
kematian Sahar membuat gelombang simpati publik hingga terjadi kerusuhan besar-besaran yang berimbas pada melunaknya pemerintahan Iran mencabut aturan. Otoritas Iran akhirnya membolehkan perempuan menyaksikan pertandingan sepak bola di Stadion dalam kualifkasi Piala Dunia 2022 melawan Kamboja di Stadion Azadi, Teheran. Sebuah tribun khusus wanita disiapkan dan sekitar 3500 tiket langsung habis terjual dalam waktu singkat. Di pertandingan tersebut, Iran menang telak 14-0.
***
Benarkah tak ada perempuan di lapangan hijau? Percayalah, Pep Guardiola memutarbalikkan pikiran semacam itu. Bahkan pelatih asli Catalan ini menunjukkan hampir seluruh dari dirinya dalam dunia sepak bola merupakan representasi dari nilai-nilai kebaikan dan kekuatan perempuan.
Sebuah pengakuan mengemuka yang dinyatakan dari bibirnya langsung. Dia merasa termotifasi sebagai perempuan saat menjalani tugas profesional manajer tim yang dipimpinnya.
Pep guardiola mengaku dirinya mesti mampu mengerjakan seluruh pekerjan dalam satu kesempatan. Karena itu, dirinya merasa bak seorang perempuan.
“Saya seperti perempuan yang harus mengerjakan beberapa hal sekaligus,” ungkapnya kepada wartawan Soccerway saat ditanya tentang bagaimana dirinya mengatur jadwal kepelatihan di Manchester City mengingat kewajiban tugas kontrak melatih Bayern Munchen hingga pertandingan akhir musim.
Ada sebentuk usaha perjuangan bagi penguatan identitas perempuan pada sepak bola. Dan sikap itu bersumber dari seorang pelatih kawakan sekaliber Pep Guardiola. Suatu sikap yang jarang diakui para begawan di mana simbol kesatriaan lebih condong ditonjolkan.
Tak ayal, sejumlah pandit menyebut Pep sebagai seorang feminis. Pejuang kesetaraan hak dan identitas perempuan di dunia sepak bola. Menjadi sorang feminis tak harus seorang perempuan. Seorang laki-laki yang berjuang bagi kesetaraan hak perempuan adalah feminis sejati.
Adakah filosofi tiki-taka sebagai pondasi tak-tik kepelatihan Pep Guardiola dengan gerakan Feminisme multikultural? Ada.
Dalam kesempatan yang lain, pelatih tim juara Liga Inggris 2019-2020 Liverpool, Jurgen Kloop menganggap dirinya masih kecil dibanding Guardiola. Dirinya menyebut Guardiola sebagai pelatih terbaik tahun ini kendati tim yang dilatihnya tak seberuntung Liverpool yang menjuarai Liga Inggris (English Primer League/EPL).
Pandit Bola dan Pembaca Buku
Menyukai ini:
Suka Memuat...