SERIKATNEWS.COM – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bangkalan mendatangkan pendiri PMII dalam acara Pembukaan Seremonial Pelatihan Kader Lanjut (PKL) di Aula MAN Bangkalan, Sabtu, 29 Januari 2022.
Dalam pelatihan ini mengangkat tema Rekonstruksi Gerakan PMII dalam Mengawal Percepatan Pembangunan Daerah.
Syamsul Hadi, Ketua Panitia menjelaskan bahwa PMII harus mereformulasi gerakan dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Konten gerakan dulu tampak sudah usang dan sudah tidak begitu relevan, sehingga harus ada formulasi baru agar gerakan PMII lebih masif dan mencapai tujuan secara optimal,” paparnya.
Pasalnya, lanjut Syamsul sapaan lekatnya, upaya reformulasi gerakan ini mulai muncul sejak era reformasi di mana PMII dihadapkan pada perubahan mimbar demokrasi secara masif.
“Perubahan ini suatu keniscayaan. Pasca orde baru, kita masuk pada era reformasi yang sampai saat ini tidak berkesudahan, PMII ada pada posisi transisi sebagaimana tertuang dalam buku PMII di Simpang Jalan karya Malik Alharomain,” tukasnya.
Adapun Kholil, Ketua Umum PC PMII Bangkalan mengatakan bahwa gerakan kekinian yang harus digalakkan adalah gerakan kolaboratif dan pemberdayaan masyarakat akar rumput.
“Gerakan paling efektif saat ini harus berbasis data dan harus mampu berkolaborasi lintas sektor tanpa menghilangkan nilai kritis dan idealissme sebagi kekayaan terakhir yang dimiliki kader PMII,” tuturnya.
Demikian yang menjadi alasan PMII Bangkalan mendatangkan pendiri PMII, Kiai Munsif Nahrowi yang termasuk dalam salah satu dari 14 pendiri PMII.
Menurut Kholil, Kiai Munsif adalah icon atau simbol kritis dan idealisme kader PMII seluruh Indonesia. Ia berharap momen tersebut dapat mendongkrak dan meramu sikap kritis dan idealisme kader PMII khususnya di Bangkalan.
“Dengan datangnya beliau diharapkan menjadi semangat baru untuk kader PMII Bangkalan, sebab beliau merupakan simbol kritis dan idealisme PMII yang masih dapat kita saksikan secara langsung,” jelasnya.
Kholil menjelaskan bahwa selama ini kader PMII terbuai dengan kuantitas kader dan lupa untuk menguatkan kualitas. Maka, kata Kholil, pandangan semacam ini harus diubah dan beralih pada upaya penguatan kualitas kader.
“Seyogyanya, pembeda kader PMII dengan yang lain adalah pada kapasitas dengan begitu akan tampak identitas sebagai kader PMII yang katanya NDP sebagai landasan reflektif,” paparnya.
Demikian Kholil menegaskan bahwa kader PMII Bangkalan harus mampu muncul ke ruang publik baik regional bahkan nasional dengan nilai tawar kualitas yang mempuni.
“Isi atau kualitas kader ini lah identitas pembeda daripada kader PMII. Yaitu harus kritis, idealis dan mampu memberi solusi persoalan baik kebangsaan atau pun keindonesiaan sesuai tujuan PMII,” ungkapnya.
Kholil optimis bahwa kader PMII Bangkalan mampu bersaing di kanca nasional, bahkan internasional.
“Kami yakin PMII bisa. Tinggal didorong secara sistemik dalam kaderisasi mulai dari PB dan PKC yang kemudian dapat dilaksanakn oleh Komisariat dan Rayon,” pungkasnya. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...