Connect with us

Opini

Sains dan Bahasa Kultural di Tengah Pandemi

Published

on

Sains dan Bahasa Kultural di Tengah Pandemi
Ilustrasi Virus Corona © Kumparan

Untuk memberikan deskripsi singkat atas tulisan saya, anggaplah sebagai abstrak, saya akan mengawali tulisan ini dengan sebuah anekdot tentang penumpang “ngeyel” di pesawat terbang. Anekdot ini, walaupun tidak akan ditulis detail, setidaknya menggambarkan miskomunikasi antara saintis dan masyarakat awam di masa pandemi Covid-19.

Alkisah, Sukab yang baru pertama kali naik pesawat duduk di kursi bisnis meskipun tiketnya ekonomi. Tak lama, sang pemilik kursi datang dan meminta Sukab pindah.

Sukab menolak.

Sang pemilik kursi menjelaskan kalau Sukab itu sudah menyalahi aturan karena tidak duduk sesuai dengan tiket.

Sukab tetap menolak.

Tak mau ribut, pemilik kursi memanggil pramugari. Pramugari pun mendatangi Sukab, meminta ia pindah dan memberi penjelasan kalau kursi yang didudukinya itu milik orang lain.

Sukab masih menolak.

Pramugari memanggil pilot. Pilot juga mendatangi Sukab dan memberi penjelasan yang kurang lebih sama seperti sebelumnya.

Ternyata Sukab masih menolak juga.

Ribut tak terhindarkan. Penerbangan ikut tertunda gara-gara keributan itu.

Beruntung segera datang Mukidi menengahi. Mukidi yang kebetulan satu daerah sama Sukab langsung duduk dan berbicara pada Sukab dengan menggunakan bahasa daerahnya.

Tak lama Sukab langsung berdiri dan langsung pindah secara sukarela.

Pilot, pramugari, dan pemilik kursi heran. Mereka bertanya pada Mukidi, “Jurus apa gerangan yang Anda pakai?”

Mukidi menjawab, “Saya tadi tanya, Bapak mau ke mana?”

“Mau ke Jakarta,” jawab Sukab.

“Bapak salah kursi. Kalau mau ke Jakarta kursinya di belakang sana. Kursi yang di sini nanti turunnya di Surabaya,” jelas Mukidi.

Beginilah kira-kira miskomunikasi antara saintis dan masyarakat awam di masa pandemi covid-19 yang baru-baru ini terjadi. Sains memang berperan penting dalam proses penanggulangan pandemi covid-19. Namun, temuan-temuan sains dengan bahasa sains tentu harus berbesar hati meminjam bahasa-bahasa non sains (bahasa kultural) agar ia mudah dipahami dan berpengaruh pada publik.

Baca Juga:  Mari Meriseit Ungkapan Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Hingga kini, meski kampanye penjarakan sosial makin masif, masih banyak orang yang tak memafhumi anjuran tersebut. Menurut survei nasional SMRC, ada sebayak 21% penduduk Indonesia (sekitar 40 juta jiwa) yang tidak setuju dengan aturan PSBB untuk beribadah di rumah. Pusat-pusat perbelanjaan masih penuh sesak, sangat banyak orang yang tetap memaksa mudik, dan orang banyak berdesakan di bandara.

Mengapa demikian? Apa mereka belum tahu bahwa pandemi covid-19 ini hanya bisa diminimalisasi lewat penjarakan sosial, selama para ilmuan masih berupaya menemukan vaksinnya?

Agaknya, tidak mungkin kalau masih banyak orang Indonesia yang tidak tahu soal info pentingnya penjarakan sosial ini. Tak seperti bencana lain, pandemi covid-19 ini berhasil membuat sains begitu gencar mempublikasikan temuan-temuannya dan didukung penuh oleh semesta media massa dan media sosial. Sains begitu terbuka di masa pandemi ini. Nyaris setiap jengkal temuan-temuan sains berkaitan dengan virus yang satu ini, selalu mendapat tempat yang layak di jantung media massa dan media sosial. Lalu-lalang informasi saintis tentang covid-19 berpendar di setiap mata publik. Maka, nyaris mustahil rasanya kalau publik tidak tahu informasi saintis tentang pandemi covid-19.

Namun, mengapa sampai saat ini informasi-informasi saintis yang didapat khalayak ramai itu masih belum banyak yang berpengaruh pada keseharian mereka?

Mendapati pertanyaan demikian, banyak orang akan segera menjawab bahwa itu semua terjadi karena mereka itu “ngenyel”. Jawaban sederhana ini sekilas cukup membantu, tapi pada prinsipnya jawaban ini masih belum mengurai persoalan. Alih-alih mengurai persoalan, jawaban demikian justru dapat memancing sikap resisten dari publik.

Pasalnya, pelabelan “ngeyel” itu tak berhenti pada eufimisme bahasa. Ia menghadirkan pandangan yang dapat membuat mereka inferior dan merasa tersudut. Orang-orang yang kepadanya istilah-istilah itu dikenakan, tidak akan suka mendapatkan label demikian. Alih-alih akan menyadari bahaya tindakannya, mereka justru akan semakin meradang dan melawan.

Baca Juga:  Media Massa, Sensasinya atau Esensinya ?

Mengedepankan pemaksaan pendapat lewat pelabelan-pelabelan negatif terhadap mereka yang belum paham, tentu kurang bijak. Daripada sibuk melancarkan cap-cap negatif, alahkah lebih bijak jika introspeksi diri. Jangan-jangan, ketakmafhuman mereka itu gara-gara problem kebahasaan kita yang terlalu mengedepankan bahasa saintis dan nalar rasional. Alam pikir masyarakat awam dipaksa masuk dalam selera dan kepentingan nalar sains. Mirip seperti penjelasan pemilik kursi, pilot, dan pramugari pada Sukab dalam anekdot di atas.

Betul bahwa bulan demi bulan berlalu, penanganan pandemi covid-19 ini semakin dituntut untuk bernalar sains. Namun, tidak dapat disangkal bahwa manusia abad ini masih sangat banyak yang haus bahkan terobsesi akan dogma, mantra, dan tradisi. Manusia itu kompleks. Unsur-unsur penyangga diri manusia itu bukan sekedar nalar rasional dan sains, melainkan juga rasa, agama, tradisi, humor, dst.

Realitas banyaknya masyarakat yang kurang mafhum akan pentingnya penjarakan sosial, jelas tidak dapat direduksi menjadi perkara teknis seperti perkara alam. Tak seperti alam yang tunduk pada mekanisme sebab akibat, manusia itu dinamis. Untuk membaca perilaku manusia itu dibutuhkan proses penghayatan dan kacamata manusiawi. Dengan perkataan lain, saintis mesti mengasah kepekaan nurani guna menyimak alasan peristiwa itu.

Banyaknya masyarakat yang melanggar aturan penjarakan sosial itu pastilah muncul dari banyak faktor. Salah satunya bisa jadi adalah faktor komunikasi, seperti anekdot yang saya kutip di awal. Penjelasan-penjelasan rasional saintis akan pentingnya penjarakan sosial itu sudah amat masif digelorakan di muka publik dan mereka pasti menyimak itu. Cuma karena tak semua orang itu dapat mafhum dengan komunikasi rasional saintis, ada baiknya semua pihak yang mengerti mencoba menyampaikan itu dengan cara-cara kultural seperti ditunjukkan Mukidi dalam anekdot di atas.

Baca Juga:  Rasa Takut (Khauf), Pengharapan (Roja') dan Virus Corona

Misalnya, pada orang-orang Islam fanatik yang belakangan tidak terima karena masjid ditutup sementara mall tetap beroperasi. Dalam konteks ini para saintis bisa memanfaatkan lidah para ulama dan menggunakan penyampaian-penyampaian kultural Islam. Ungkapan-ungkapan kultural Islam, apalagi lewat lidah para ulama, tentu akan lebih memberi pengaruh pada masyarakat Islam daripada penjelasan rasional saintifik.

Akhirnya, meskipun dalam menghadapi pandemi covid-19 ini sains merupakan panglima, tapi ia tetap tak boleh menutup mata pada yang lain. Setidaknya, sains masih butuh komunikasi-komunikasi kultural guna menegakkan disiplin penjarakan sosial dan fisik, selama vaksin masih belum ditemukan.

Advertisement

Popular