Tayamum Di Air Yang Keruh

54
Tayamum
Ilustrasi: nu.or.id

“Idza Ja’a Nashrullahi wa al fath.”

Jangan khawatir wong gusti Allah menjaga manusia dengan berbagai hal di sekitarnya, dalam hal apa pun. Entah disebut sebagai kekuatan alam semesta, kekuatan di luar kehendak manusia, kekuatan luar biasa, hal yang tak terhingga, atau apa pun istilahnya. Dalam pandangan manusia yang beriman disebut Tuhan, sang pemilik berbagai sikap dan sifat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia, kecuali kesadaran dan ilmu pengetahuan.

Hanya melalui ilmu pengetahuan, tidak sedikit yang memiliki pikiran rumit, saat melihat bendera terbakar tidak hanya dahinya yang mengernyit, tangan-tangan terkepal dengan suara yang memekik. Kalimah tauhid tiba-tiba mendapat tempat yang dirasa arif, padahal sejak suara azan memekik di telinga kanan dan iqamah menjerit di telinga kiri. Kalimat tauhid menempati sanubari di hati yang sangat tinggi. Jadi jangan lupa bahwa simbol hanya sekedar simbol, yang terkadang tidak mewakili sama sekali terhadap substansi.

Di saat terbuka dan terkuak jeruji pengetahuan yang dangkal. Sekelompok orang berbaris sejengkal demi sejengkal. Menyuarakan titah yang sakral. Di sisi lain benar, namun tidak di sisi lain, karena Tuhan menebar nilai yang harus dijaga, disiram dan diberikan buahnya kepada sesama manusia. Agar tertanam tali Tuhan yang selalu menjaga manusia dan seluruh alam. Sehingga beribadah di masjid-masjid, pesantren, bahkan majelis-majelis kurang begitu diminati ketimbang aksi bela ini dan itu. Agama serasa barang baru yang diperjualbelikan dengan sangat murah, di loak-loak bahkan di media-media online yang berjubel dewasa ini.

Maka tidak heran jika simbol agama lebih meriah ketimbang substansinya. Seperti halnya menjual barang, dijual ibarat tanaman, manusia memiliki tugas menanam dan merawatnya, apa pun itu, dan Tuhan yang menolong menumbuhkannya, Tuhan yang memberi kesuburan dan menebarkan buahnya. Tuhan adalah cahaya langit dan bumi—pasti akan menghapus kegelapan dari alam luas ini, lebih-lebih alam mikro yakni manusia.

Baca Juga:  SUMPAH PEMUDA DAN INDONESIA RAYA TIGA STANZA

Meminjam ungkapan Rumi bahwa “Kami adalah non-eksistensi, hanya menampilkan ilusi keberadaan; Engkau Wujud yang Mutlak dan satu-satunya eksisten kami.” Oleh karenanya, setiap manusia memiliki masanya masing-masing. Setiap masa memiliki waktunya masing-masing, termasuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan makhluknya begitu saja. Apalagi membiarkan masa dalam keterpurukan dan dipenuhi dengan awan hitam kedunguan.

Maka dari itu, kesadaran, ilmu pengetahuan dan akal budi yang nantinya menggiring manusia untuk berlaku sebagai semestinya manusia. Dalam hubungan sosial menghadirkan Tuhan dalam komunikasinya adalah warna dari moral etis yang dibawa Muhammad SAW.