Catatan Kehidupan Ulama Sufi di Serang Utara Th. 1950

46
sufi
Ilustrasi: Net

Figur Sufi

Suatu hari di masa normalisasi kehidupan berbangsa dan bernegara tahun 1956 setelah satu tahun usainya Pemilu 1955. Kehidupan umumnya bangsa Indonesia merasakan aman dan terjaganya ketertiban. Di tahun itu (1956) ada peristiwa yang menjadi catatan khusus buat kita simak dan kita maknai sebagai perjalanan spiritual (rihlah bathiniyah), bermula pada sosok tua yang punya kebiasaan aneh, sering dikatakan “khoriqu al ‘adat” (di luar kemampuan dan nalar biasa), satu waktu ia menghilang entah di mana, namun tiba-tiba muncul tanpa diduga, sungguh memang kebiasaan sufi umumnya yang sudah meninggalkan dunia (uzlah). Pada saat yang bersamaan sosok tua itu ditemani anak muda yang jadi muridnya, anak muda yang tampak cerdas, pemberani, namun tubuhnya kurang begitu kekar, hanya sedikit kencang (kengkeng), tinggi badannya sedang (dampak). Anak muda yang masih berumur 30 tahun itu rupanya adalah santri orang tua tersebut, meski tak tampak ada bilik-bilik pesantren yang mengelilingi, cuman ada satu joglo yang dipakai untuk pengajian umum masyarakat seputar Rancalang dan Tanara.

Sosok tua yang mukim di Rancalang itu adalah figur ulama yang wara’ dan sufi yang nyentrik, masyarakat Rencalang memanggilnya Yai Umar dan masyarakat luas mengenalnya dengan Kiai Umar Rencalang. Ia adalah guru sufi tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiah yang pernah menerima kedatangan Menteri Agama RI KH Wahid Hasyim tahun 1951. Kekaguman sang Menteri Agama ini terhadap orang tua ini begitu luar biasa. Bahkan seringnya Residen Banten berkunjung ke orang tua yang kharismatik ini meskipun tampilannya tak layak disebut ulama besar, karena kesehariannya yang mengenakan baju hitam dengan celana setengah lutut (celana komprang) tanpa ada simbol sorban dan jubah ulama, percisnya memakai pakaian petani yang hendak menggarap sawah.

Baca Juga:  Kalender Dalam Tinjauan Madilog

Pengkaderan Ala Sufi

Hari itu pula di tahun 1956, Kiai Umar mengajak muridnya yang tengah mengisi pengajian kepada santri-santrinya di Joglo untuk pergi ke Mandaya Carenang menemui sahabat Kiai Umar yang kebetulan ia juga seorang sufi yaitu Kiai Nawawi Mandaya yang tenar sebagai penulis kitab Murod ‘Awamil al-Jurjani dan Murod al-Jurumiyah Imam Sonhaji. Konon Kiai Nawawi Mandaya ini sering didatangi Presiden Soekarno di tahun 60-an. Beberapa catatan bahwa era itu Bung Karno cenderung lebih dekat dengan Kiai-kiai NU.

Hasil percakapan dua guru sufi tersebut memutuskan untuk menemui seorang sufi, sahabat dari keduanya yang bermukim di Kp. Ketiban Pontang, masyarakat sering memanggilnya Abah Ibrahim atau Kiai Ibrahim. Dari Mandaya rombongan itu menaiki Delman hingga sampailah ke rumah yang dituju, rupanya kiai sufi yang dituju sudah menantinya dengan pakaian yang bersih dan rapi. Beberapa jam kemudian rombongan Delman sudah memasuki tempat tinggal sang mantan Residen Banten yang mukim di Banten Lama, masyarakat Banten mengenalnya Abah Entus KH. Tb. Akhmad Hatib.

Dari Banten Lama, rombongan guru-guru sufi itu telah melewati jalanan Cilegon menuju Anyer, dan telah memasuki Jalan Raya Deandles grote posweg. Hingga pada saat jelang Ashar mereka tiba di kediaman Ajengan KH. Khadim Asnawai. Mereka pula sejenak beristirahat di pondokan dekat kediaman Ajengan.

Ijazah Tarekat

Ajengan Khadim Asnawi adalah ulama besar yang tenar di masyarakat Banten sebagai Mursyid Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, Ia adalah anak pertama Kiai Agung Asnawi seorang ulama besar Banten musryid dari Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah yang wafat tahun 1937. Kiai Asnawi satu angkatan dengan Hadrotus Syaikh KH. Hasyim As’ari Tebuireng Jombang Jawa Timur sama-sama sebagai santri Syaikh Nawawi Al Bantani. Ajengan Khadim pulalah yang meneruskan tradisi tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah sebagai al-Mursyid, dan menggantikan Kiai Agung Asnawi Caringin. Murid-muridnya tersebar ke seluruh pelosok penjuru Nusantara.

Baca Juga:  Dari Madilog ke Merdeka 100%: Revolusi belum Selesai

Pada kesempatan yang telah diatur oleh orang tua dari Rancalang, anak muda yang jadi muridnya itu diperintahkan untuk menghadap Ajengan Khadim Asnawi untuk menerima ijazah tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah. Tak lama anak muda tersebut telah berhadapan dengan Ajengan Khadim Asnawi. Ajengan telah memastikan bahwasannya yang akan diberi ijazah adalah orang yang betul-betul telah siap lahir batin. Butiran-butiran ucap dan kata-kata Ajengan Kahdim Asnawi mulai mengheningkan suasana, maka rangkaian kalimat-kalimat tarekat terucap lirih dengan sambil memegangi tangan kanan murid Rencalang yang telah duduk bersimpuh, Ajengan menghentakkan kalimat “laa ilaaha illallah” dengan hentakan keras lafadz “Allah” disertai tangan Ajengan yang menempeli tangan sang murid semakin kuat memegangi. Dan ia pun mengikuti kalimat tahlil tersebut yang dituturkan oleh Ajengan, maka spontan tubuhnya mendadak mau roboh, namun dari sampingnya duduknya sudah ada orang tua dari Rencalang dan sang Residen Banten yang mendampinginya hingga kedua ulama besar ini memegangi tubuh sang murid itu dengan sekuat tenaga karena kondisinya dalam keadaan tak stabil. Situasi tersebut disebutkan sebagai pengijazahan tarekat Qodiriyyah Wa Naqsabandiyah.

Generasi Sufi

Beberapa tahun setelah wafatnya para kiai sufi tersebut seperti Kiai Umar yang wafat sekitar tahun 1964, disusul kemudian Kiai Akhmad Khatib, Kiai Gafar Lempuyang dan seterusnya Kiai Nawawi Mandaya, Kiai Ibrahim Ketiban, dan Kiai Daud Teras, terdapat pula beberapa figur ulama sufi sebagai generasi setelah Kiai Umar dan Kiai Khatib, antara lain Kiai Fakhri Aslam, Kiai Payumi Thowil, Kiai Syanwani Kalapian, Kiai Maulud Lempuyang, Kiai Zuhri Pontang, Kiai Mas Sulaiman, Kiai Alqomah Lebak Bojong dan tak ketinggalan sang murid dari 4 kiai sufi yaitu Kiai Syanwani Sampang.

Baca Juga:  Jalur Rempah

Kiai-kiai sufi yang rerata meninggal di tahun 80-an sebagai pelanjut dari generasi era 60-an, tak banyak mengader generasi kiai sufi berikutnya, meski kita dapati Kiai Sufi seperti Kiai Marsyad Singarajan, Kiai Nabhani Syanwani Dukuh, Kiai Mufti Asnawi Cakung, Kiai Jarnudi Laban dan yang masih hidup seperti Kiai Humed Endol, Kiai Asy’ari Jamplaon, Kiai Ahmad Royani Lebak Bojong.

Awal abad 21 generasi kiai-kiai sufi sulit kita jumpai. Putusnya generasi tersebut akibat dari keengganan kiai-kiai generasi berikutnya untuk mau menjalankan tradisi sufisme yang kental dengan praktik tarekat, ini patut menjadi perhatian bahwa putusnya sanad tarekat ini justru akan semakin mudahnya arus paham baru yang terus menggerus ajaran dan tradisi yang telah diwariskan para kiai sufi terdahulu.

Catatan ini menjadi tolak ukur betapa pentingnya mata rantai sufisme itu tetap terjaga, sebab keberlangsungan kehidupan beragama masyarakat Serang Utara tanpa adanya figur-figur kiai sufi sulit diikat oleh kekuatan (haibah) secara batiniyah, sebagai hikmah dari keberkahan doa kiai sufi yang kesehariannya hanya zikir, untuk kemudian keberkahan tersebut menaburi kehidupan masyarakat.

Sumber Tulisan

Wawancara dengan Hj. Afifah Afifah puteri Kiai Syanwani Sampang di kediamanya di Bolang Lebak Wangi, tahun 2013.

Wawancara dengan Kiai Abdul Aziz Muin, cucu Kiai Umar Rancalang di kediamannya di Rancalang Tanara, tahun 2013.

Wawancara dengan Kiai Syakirin ( santri Kiai Syanwani Sampang ) di kediamanya di Puyuh Koneng Kenacana Harapan, Lebak Wangi, tahun 2013.

Wawancara dengan Kiai Ahmad Royani di kediamannya di Lebak Bojong, Lebak Wangi tahun 2016.