Udah? Udah? Belum!!!

1278
Ananda Sukarlan & Sekjen PSI Raja Juli Antoni

Kemenangan PSI yang Tertunda

Pemilu sudah selesai, dan Jokowi- Ma’ruf Amin sudah jelas akan menjadi pemimpin kita semua untuk 5 tahun mendatang. Saya juga salut kepada PSI sebagai partai pilihan saya, dan perjuangannya untuk mewakili suara & aspirasi kita semua yang mendambakan kebebasan, toleransi dan kemajuan bangsa. PSI memang hanya dapat 2% di pemilu nasional. Tapi kalau kita hanya menghitung jumlah suara dari pemilih yang tinggal di luar negeri, PSI akan jadi partai terbesar bersama PDI-P, mengalahkan partai-partai lain dan di banyak negara dengan telak. Saya tidak tahu persis angkanya, dan memang masih belum resmi terhitung saat ini, tapi anda kan bisa Google saja. PSI memang menampilkan harapan akan Indonesia yang lebih inklusif, pluralistik, kreatif, fokus ke kerja keras dan modern. Indonesia yang lebih baik, pendeknya. Dan yang membuat saya penuh harapan adalah bahwa PSI menaruh perhatian besar ke golongan minoritas: baik dari segi gender, profesi, kaum yang tertindas oleh mereka yang semena-mena maupun kaum difabel baik fisik maupun mental.

Partai yang dibentuk dan dijalankan oleh orang-orang muda ini tampil dengan pandangan politik yang mengundang para ilmuwan, seniman, orang-orang terpelajar dan progresif untuk menaruh harapan di pundak mereka. Demokrasi dalam arti sebenarnya, hampir persis yang dicetuskan di Parthenon 3 milenium yang lalu nampaknya bisa berjalan dengan mulus lewat PSI. Awalnya banyak yang menganggap remeh kehadiran partai anak-anak muda ini, apalagi setelah iklannya yang menampilkan pendirinya, Grace Natalie, yang receh dan selalu berakhir dengan “udah? udah?”. Tapi para pemuda pemudi ini membuktikan bahwa partai ini punya sikap yang bukan saja meneruskan Indonesia yang didirikan oleh para “founding fathers“, tapi juga memodernisasi politik. Ini termasuk mengajak banyak sekali milenials, bahkan yang sudah tidak terlalu muda (seperti saya) untuk melek politik. Partai ini menjanjikan kejujuran dan transparansi (apa? Jujur? Politikus yang jujur itu seperti PSK yang masih perawan, banyak yang berpikiran begitu — termasuk saya, beberapa tahun yang lalu), menjadi bagian dari ’alliance of virtue’ dan mereka tahu benar apa yang mereka (sudah dan akan) kerjakan. Berbeda dengan partai-partai lama yang “mainstream“, partai ini mendobrak dengan sikap politik yang berani dan cerdas, menantang kemapanan. Politik milenial memang mencerminkan warna milenial yang menghargai perbedaan dan kebersamaan, menolak politik identitas.

Baca Juga:  Tantangan dan Peran Pemuda di Era Generasi Millennials

PSI belum berhasil masuk parlemen, tapi ini bukan kekalahan. Sometimes you win, sometimes you learn. But you never lose. Ini adalah kemenangan yang tertunda. Saya berharap PSI sebagai penyeimbang parlemen yg efektif dan bersih. Berharap kader PSI yg duduk di tingkat propinsi dapat membuktikan kinerja yg baik, untuk menyongsong keberadaan PSI yang sangat dibutuhkan rakyat periode 2024. Saatnya PSI tunjukkan sebagai pejuang sejati melalui perjuangannya di luar Senayan. PSI telah berani melakukan apa yang dilakukan Socrates tahun 399 SM, yang dulu dianggap “corrupting the youth” dan dihukum mati dengan cara diracun. Dan racun itu kini lebih poten, bernama Fitnah atau Hoax.

Kini, 2 milenium kemudian, saya seperti menemukan Socrates baru, tapi tidak dalam diri 1 orang, melainkan 1 partai. Atau yang dibilang kubu sebelah, “kecebong satu kolam mah sama semua”.

Beberapa produk gagal delusional juga naik ke permukaan melalui Pemilu 2019 ini. Ada yg merasa jadi presiden bahkan lebih presiden dari presiden, ada yang merasa jadi filsuf dan professor hanya dengan modal mendungukan pendukung capres lawannya. Ada juga pianis dan komponis yang (sebetulnya sih tidak terlalu gagal tapi) tiba-tiba kecemplung ke dunia politik dan jadi sering menulis tentang ide-idenya tentang politik yang sering berbeda dari pandangan dari mereka di dalam dunia politik, karena memandangnya dari segi “rasa” bukan “logika”. Semoga komponis & pianis ini tidak hanya menyampah, tapi bisa menyadarkan pembaca bahwa ada cara memandang lain di dunia politik. Dan cara memandang yang pluralis dan “out of the box” ini bisa diakomodasi sekarang, lewat partai seperti PSI ini.