Connect with us

Opini

Uji Kebenaran Hoax

Published

on

hoax

Jelang dilaksanakannya pemilu serentak 17 April 2019 ini, masyarakat tidak berhenti dihadapkan dengan serangan pemberitaan hoax yang diperoleh melalui jejaring media sosialnya. Terheboh menyoal hoax adalah berita terkait dengan aktivis sekaligus aktris senior, Ratna Sarumpaet yang diberitakan dipukuli oleh orang tidak dikenal bahkan sampai pada ranah politik pencalonan presiden. Faktanya, Ratna Sarumpaet tidak mengalami pukulan dari siapa pun, akan tetapi Ia menjalani operasi plastik dan menghindari kemarahan anak-anaknya. Kasus Ratna Sarumpaet ini bukanlah kasus pertama dan satu-satunya, karena sudah terdapat berbagai kasus sebelumnya yang juga melibatkan orang-orang terkemuka di negeri ini. Dari kasus Ratna Sarumpaet ini, kita harusnya belajar akan arti pentingnya “uji kebenaran” terhadap segala informasi yang kita peroleh sehingga tidak mudah terpapar berita hoax.

Sayangnya, perkembangan teknologi smartphone, media online dan media sosial yang memberikan kemudahan dalam berinteraksi dan mengakses berbagai informasi belum disertai dengan kemampuan literasi digital dan kejelian para penggunanya. Sehingga, para pengguna tidak dapat membedakan dan mencari tahu tentang kebenaran dari informasi yang diperolehnya. Efeknya adalah para pengguna dengan mudah dapat mengonsumsi informasi dan berita hoax tanpa disadarinya. Merebaknya hoax ini, juga tidak terlepas dari adanya sikap untrust (ketidakpercayaan) masyarakat terhadap pemberitaan dari media arus utama dalam menyampaikan informasi. Komersialisasi industri media yang kerap digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu ataupun pemiliknya menjadikan informasi yang disampaikan tidak menjadi sumber informasi acuan lagi. Dengan kemajuan teknologi, berkembangnya media sosial kemudian seolah-olah menjadi solusi dalam mendapatkan dan mencari informasi yang dapat diyakini kebenarannya. Tanpa kita sadari, upaya tersebut akhirnya membuat hoax tumbuh subur dan bahkan dapat diyakini sebagai sebuah kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.

Baca Juga:  Kartini, Islam, dan Kolonialisme

Rendahnya tingkat literasi digital dan munculnya untrust masyarakat terhadap media arus utama, menjadi penyebab hoax berkembang subur saat ini. Terlebih kemudian adalah “uji kebenaran” terhadap informasi yang diperoleh juga sangat minim. Efeknya adalah perang pemberitaan hoax yang berujung pada perdebatan dan pertikaian opini di dunia maya bahkan sampai ke dunia riil yang bertele-tele. Pertanyaannya, bagaimana upaya kita dalam menyikapi setiap informasi yang kita peroleh sehingga tidak diserang oleh informasi hoax?

Upaya memerangi Hoax

Hal utama yang dapat kita lakukan dalam menyikapi setiap informasi yang diperoleh dan terhindar dari hoax adalah menghindari sikap malas. Malas menjadi penyebab dari mudahnya masyarakat baik dari kalangan intelektual maupun masyarakat biasa dalam melakukan “uji kebenaran” dalam menanggapi pemberitaan yang diterimanya. Sumber yang diyakini dapat dipercaya, baik tokoh publik terkenal maupun media-media tertentu sudah dianggap menjadi sebuah sumber kebenaran dan dipercaya, sehingga berita apa pun diterima dengan mudahnya. Uji kebenaran berita sebenarnya dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip 5W1H, Apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana berita tersebut. Tidak ada salahnya prinsip membuat berita justru menjadi prinsip menguji kebenaran sebuah berita.

Guna menghindari sikap malas, sikap skeptis harus dimiliki dalam mendapatkan informasi melalui pemberitaan dari media mana pun. Sikap skeptis terhadap pemberitaan adalah rasa yang memandang bahwa segala sesuatu tidak pasti benar atau salah. Sikap skeptis yang dimiliki membantu kita dalam meragukan atau mencurigai setiap informasi yang kita peroleh. Keraguan dan kecurigaan yang dimiliki terhadap setiap informasi yang diperoleh melalui media sosial akan membuat kita melakukan berbagai upaya dalam melakukan uji kebenaran informasi. Sehingga, dengan keraguan dan kecurigaan tersebut sikap tabayyun pun muncul. Melalui sikap tabayyun ini, kita akan berusaha mencari kejelasan tentang informasi yang kita peroleh tersebut. Dengan tabayyun pula, kita dapat menyeleksi dan meneliti informasi yang kita peroleh dari berbagai sumber. Sehingga, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan informasi tersebut benar atau salah. Bahkan membuat kita berpikir ulang dalam menyebarluaskannya.

Baca Juga:  PKI dan Reinkarnasi HTI

Sikap tabayyun ini dapat dilakukan dengan membandingkan berita yang kita peroleh dengan berita di media-media lainnya, baik media online, cetak, maupun televisi. Selain itu, di era digital ini, mesin pencarian Google dapat memudahkan dan dimanfaatkan dalam melakukan uji kebenaran terhadap informasi yang diperoleh. Sekarang ini, berbagai upaya turut dilakukan dalam menyoal membandingkan informasi berita. Dalam setiap debat Capres dan Cawapres belakangan ini, berbagai media telah melakukan uji kebenaran terhadap data-data yang disampaikan oleh masing-masing capres. Sehingga dengan mudah seharusnya masyarakat dapat mengetahui mana data yang fakta atau yang bersifat hoax.

Selanjutnya, yang perlu diingat bahwa memerangi hoax adalah tugas semua orang. Secara umat beragama dan bernegara, MUI dan Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dalam rangka memerangi Hoax. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 24 Tahun 2017 telah disebutkan bahwa hoax dapat dikategorisasikan dalam bentuk ghibah, fitnah dan namimah. Sementara itu pemerintah melalui UU ITE juga turut memerangi pemberitaan hoax ini. Pasal 28 ayat 1 UU ini menyebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan akan diancam dengan pidana enam (6) tahun dan denda maksimal Rp1 Miliar. Lantas, akankah kita akan malas dalam melakukan uji kebenaran terhadap setiap pemberitaan yang sampai ke tangan kita?

Kemalasan kita dalam melakukan uji kebenaran dalam setiap berita yang kita peroleh tidak saja membuat divergensi (terpecah belahnya) kehidupan sosial politik terjadi. Jauh dari itu adalah konflik sosial secara horizontal akan mudah terjadi tanpa adanya uji kebenaran dalam setiap berita. Orang yang dengan mudahnya termakan hoax akan menjadi pribadi yang tidak mampu menerima kebenaran dan berujung pada fanatisme. Sudah seharusnya pendewasaan masyarakat dalam memerangi hoax harus dilakukan. Smartphone sebagai alat komunikasi massa saat ini harus dibarengi oleh prinsip smart people (masyarakat yang cerdas). Sehingga, setiap informasi yang diperoleh melalui smartphone diuji kebenarannya dan tidak mudah untuk menyebarluaskan tanpa tahu kebenaran informasi tersebut.

Advertisement

Popular