Connect with us

Opini

Wabah Korona dan Tragedi Kebahasaan yang Mengiringinya

Published

on

Corona
Ilustrasi Pandemi Corona © Expost News

Beberapa waktu lalu, saya amati publik media sosial kerap diramaikan dengan berbagai komentar bahkan nyinyiran atas penampilan wawancara Presiden Joko Widodo bersama Najwa Sihab. Salah satu hal yang paling banyak menuai komentar adalah pembedaan sang presiden atas istilah mudik dan pulang kampung. Kala itu beliau menuturkan bahwa mudik itu berbeda dengan pulang kampung. Menurut beliau mudik itu hanya terjadi saat lebaran, sementara pulang kampung bisa kapan saja.

Video wawancara tersebut ternyata tayang di depan publik nyaris bersamaan dengan diumumkannya larangan mudik oleh pemerintah. Tak ayal, pembedaan Jokowi atas istilah mudik dan pulang kampung ini pun memantik banyak komentar. Salah satu komentar yang bagi saya menarik adalah pembedaan presiden atas pengertian dua istilah tersebut pada akhirnya akan membuat aturan larangan mudik menjadi dilematis dan tidak akan efektif. Ini misalnya terlihat dari banyaknya meme yang beredar, yang menggambarkan tengah ada rombongan dalam sebuah mobil diberhentikan karena mengantar pemudik. Kemudian muncul komentar dari salah satu penumpang yang mengatakan, “Kami tidak mudik pak, kami pulang kampung.”

Pembedaan Jokowi atas istilah mudik dan pulang kampung ini secara kebahasaan memang membedai definisi yang disampaikan oleh kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Pembedaan istilah ini juga rentan menghadirkan tafsir yang beragam atas kebijakan larangan mudik. Dalam hal ini bisa jadi waktu itu Jokowi melakukan pembedaan itu karena keseleo lidah, dan ini merupakan hal wajar dalam sebuah tradisi wicara.

Bisa jadi juga Jokowi membedakan istilah mudik dengan pulang kampung itu karena dalam praktiknya ada latar belakang yang berbeda dari kedua istilah itu. Mudik dilatarbelakangi oleh tradisi, kerinduan, dan kesenangan, sementara pulang kampung itu dilatarbelakangi oleh kecemasan, keterpaksaan, dan kelaparan. Dilihat dari ini, maka sebenarnya bisa jadi pembedaan Jokowi atas dua istilah tersebut mengandung sisi positif, karena di situ terkandung pesan setidaknya pemerintah masih memikirkan nasib perantau yang tengah hidup sengsara di perantauan.

Baca Juga:  Karena Mendukung Jokowi, Rhenald Kasali Dikambinghitamkan

Namun, terlepas dari itu sebenarnya masih ada realitas kebahasaan lain yang tidak kalah memprihatinkan selain itu. Seiring dengan terjejalinya ruang informasi publik Indonesia dengan perbincangan tentang Korona, ada realitas mencemaskan yang muncul di tengah lalu lalang bahasa. Realitas itu bukanlah soal kabar bahwa korban wabah Korona semakin banyak dari hari ke hari, melainkan soal kemerosotan budaya berbahasa para penguasa ruang informasi publik. Bersamaan dengan semakin bergairahnya khalayak akan kabar tentang wabah Korona, semakin bergairah juga para penguasa ruang informasi publik menggunakan istilah-istilah asing di sela-sela kabar tentang Korona.

Istilah-istilah seperti Covid-19 (sering dibaca: Covidnineteen), suspect, social distancing, physical distancing, lockdown, dll. mulai sering digunakan oleh pejabat, pewarta, hingga cendekiawan yang menguasai lalu lintas informasi publik. Seringnya penggunaan istilah-istilah baru tersebut menggambarkan secara nyata bahwa kebudayaan Bahasa Indonesia tengah mengalami kemerosotan yang cukup mengecewakan. Mengapa demikian?

Mari kita lihat sepintas bagaimana leluhur Nusantara mewariskan kebudayaan bahasa kepada bangsa kita. Sejauh sejarah bangsa dimati, leluhur Nusantara telah menunjukkan betapa kreatifnya mereka meramu kebudayaan Bahasa Nusantara. Ciri kreatif perumusan kebudayaan bahasa leluhur Nusantara itu terletak pada kemampuan luar biasanya untuk membiarkan dirinya dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan bahasa asing dan dalam banjir tersebut, kebudayaan bahasa leluhur Nusantara itu tetap mempertahankan keasliannya, bahkan semakin menemukan keistimewaannya. Kebudayaan bahasa leluhur Nusantara, menerima pengaruh dari kebudayaan bahasa yang dibawa oleh Agama Hindu, Budha, dan Islam. Namun, dalam proses penerimaan tersebut, yang terjadi bukanlah sekedar pelokalan bahasa (vernakularisasi) atau akulturasi, melainkan kebangkitan kebudayaan Bahasa Nusantara dengan memanfaatkan unsur-unsur kebudayaan bahasa Hindu, Budha, maupun Islam.

Betapa pun leluhur Nusantara tercebur dalam arus globalisasi bahasa dunia, tapi mereka tidak hanyut, bahkan justru bertindak aktif. Mereka secara aktif memolakan istilah-istilah bahkan konsep-konsep asing dari tradisi kebahasaan Hindu, Budha, maupun Islam, dalam batas masyarakat Nusantara. Ketika menyerap istilah-istilah asing, mereka cenderung menggunakan bahasa yang paling alamiah. Mereka memakai suatu ragam bahasa yang paling akrab bagi sesama mereka ketika berjumpa dengan istilah-istilah asing, sehingga mereka menekan seminimal mungkin penghadiran istilah-istilah baru (neologisme).

Baca Juga:  Kebutuhan Paradigma Ekologi dalam Dinamika Tafsir Kontemporer

Selain itu, harus diakui juga bahwa cendekiawan leluhur nusantara itu tertarik mengupayakan dengan sekeras-kerasnya bukan hanya pemudahan pemahaman istilah asing tersebut, melainkan juga kemestian dari sikap yang mereka perlihatkan. Mereka ingin menunjukkan bahwa kebudayaan Bahasa Nusantara merupakan bagian dari kebudayaan bahasa dunia yang berkepentingan untuk menggambarkan realitas semesta melampaui wilayahnya, sehingga perlu dilengkapi juga dengan kebudayaan-kebudayaan bahasa lain, seperti Hindu, Budha, dan Islam. Tugas ini hanya dapat dilakukan jika ragam bahasa yang digunakan dalam berbagai tradisi bahasa tersebut sama.

Sisi kreatif dari pembentukan kebudayaan bahasa leluhur Nusantara itu secara jelas tampak dalam karya-karya hebat cerdik pandai Nusantara di masa lalu. Cerita tentang Ajisaka yang datang ke pulau Jawa misalnya, cerita ini menggambarkan keberhasilan cerdik pandai Nusantara dalam mengubah huruf-huruf atau aksara-aksara Hindu menjadi huruf-huruf Jawa (Nusantara), yaitu aksara hana caraka

Contoh yang lain dari kreativitas kebudayaan bahasa leluhur Nusantara adalah penggunaan istilah Gusti, Pangeran, atau Gusti Pangeran sebagai istilah ganti dari istilah Allah; penggunaan istilah sembahyang sebagai ganti dari istilah salat; penggunaan istilah puasa sebagai istilah lain dari shaum, dan seterusnya. Penggunaan istilah bahasa lokal untuk menggantikan istilah-istilah asing (Arab) tersebut menunjukkan bahwa leluhur nusantara telah mempribumikan istilah-istilah atau konsep-konsep asing tersebut dalam rangka memperlihatkan istilah-istilah tersebut sebagai istilah yang sesuai, menarik, sekaligus mudah dicerna dengan baik oleh masyarakat setempat dan sezaman. Pribumisasi istilah seperti ini merupakan asimilasi yang kuat sekaligus lentur bagi perkembangan kekayaan dan kreativitas kebudayaan Bahasa Nusantara.

Sayangnya, kreativitas kebudayaan bahasa leluhur Nusantara tersebut, saat ini tampaknya kurang diwarisi secara baik oleh pejabat, pewarta, bahkan cerdik pandai yang menguasai jagat informasi publik Indonesia. Di tengah wabah Korona yang berlangsung beberapa bulan ini saja, sudah ada beberapa istilah asing yang “terserap” secara kurang kreatif menyesaki ruang publik informasi Indonesia. Istilah-istilah seperti, Covid-nineteen, suspect, social distancing, self-isolating, lockdown, dll. mulai bertebaran luas di media-media sosial, di televisi-televisi, media-media massa cetak dan online, Youtube, dll.

Baca Juga:  Siapa Pemuda Sekarang untuk Masyarakat Sekarang?

Entahlah, di tengah wabah Korona yang mengancam banyak nyawa ini, mestinya mereka para penguasa lalu lintas informasi itu mengupayakan pribumisasi istilah-istilah asing terkait Korona, agar khalayak, terutama kalangan awam, lebih mudah menangkap pesan yang terselip di balik istilah-istilah tersebut. Sayangnya, pribumisasi semacam itu belum ramai dilakukan. Kurang tahu pasti apa penyebabnya. Bisa jadi, ini terjadi karena mereka sedang terkejut akibat gerak wabah Korona yang menyebar begitu cepat, sehingga penggunaan istilah-istilah itu merupakan spontanitas belaka. Bisa jadi juga, ini terjadi lantaran kebudayaan bahasa kita saat ini tengah menghadapi wabah penyakit “keminggris”, yaitu rasa bahwa menggunakan istilah-istilah asing—terutama istilah-istilah dari Bahasa Inggris—itu lebih bermartabat daripada menggunakan bahasa lokal (Bahasa Indonesia atau bahasa daerah).

Jika kemungkinan yang kedua yang benar, maka kita sebagai pengguna sekaligus pemilik Bahasa Indonesia harus waspada. Wabah “keminggris” ini secara perlahan tapi pasti telah membunuh daya kreatif kebudayaan bahasa yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur Nusantara. Jika daya kreatif kebudayaan bahasa kita telah terbunuh, maka tinggal menunggu waktu saja bahasa kita menjadi fosil.

Advertisement

Popular