Puisi-Puisi B.B. Soegiono

94
Wiji
Ilustrasi: i.ytimg.com

Tambang Tanah

Tambang-tambang makin luas
pengusaha makin saja
makin enak, makin nyaman
direkturnya, manajernya
tidak melihat sekelilingnya
tanah bengkak, tanah rusak
jadi kubangan dewa
tempat bermandikan mayat-mayat
kolam renang hantu-hantu
reklamasi tak jadi-jadi
ditimbun janji-janji
rakyat bawah dibiarkan menunggu
sengaja tidak ditemui
takut ditagih-tagih
janjinya yang palsu.

Dibiarkan
ditinggalkan
tanah digeruk makin dalam
makin lebar, makin bahaya
makin-makin saja
tanah subur jadi lumpur
surat tanah dibawa kabur
ke dalam gedung
orangnya dipanggil-panggil
tidak datang diseret paksa
dituduh-tuduh, dituding-tuding
diintimidasi, dianggap kriminalisasi.

Itu tanah kita
jangan seenaknya main rampas
tanah leluhur, tanah gembur
bukan tanah pemilik loak
kami tidak mau menjual
jangan dipaksa-paksa
jangan diseret-seret
kami butuh tanah
bukan butuh penjara
lepaskan!
jangan main tindak
kembalikan kami ke rumah
halaman sudah menanti
teras sudah menunggui
tetangga pada antri
ingin melihat kami keluar dari bui
tempat orang-orang jahat
bukan orang-orang memperjuangkan hak.

Para-para polisi jangan jadi bisu
jangan jadi komplotan orang-orang
penghakiman karena bayaran
jangan jadi budak dalam kebusukan
biarkan ulat-ulat memakan mayat
rayap-rayap memakan kayu
jangan ikutan memakan rakyat
sebab sudah melarat
mari bantu kami
mari-mari-mari bantu
kami sudah lelah
keringat sudah pada habis
tenaga sudah terkuras
nyawa kami diombang-ambing
dalam mempertanahkan tanah
yang dirampas dan dibawa lari.

Singaraja, 22 April 2019

Tanah Rembang

Tanah air jangan rusak
tanah rembang pun dijaga juga
tanah… tanah… tanah….
kenapa selalu ingin dibuat kepentingan
perut bumi terus ingin dibedah
dioperasi ditanami besi-besi
usus-usus dipotong
ibu bumi menangis tidak berhenti
takut anaknya pergi
dengan duit
jadi melarat
jadi rusak.

Tanah kita punya
pertahankan!
hak-hak kita jaga
tunjukkan!

Baca Juga:  Kepada Tuan Besar

Jangan biarkan perampok-perampok
makin lama makin liar
makin seenaknya saja
merampas membangun
memakan gaji-gaji besar
menanam benih-benih saham
tanah kita punya
jangan mau mundur
meski satu langkah.

Ingat anak istri
ingat istri anak
ingat cucu anak
ingat anak cucu
semua punya warisan
di atas tanah yang ingin dijadikan pabrik semen
maka tolak! tolak! tolak!
meski mereka galak! galak! galak!
jangan takut, jangan jinak
tetap maju, kita lawan!

Orang-orang

Semangat pagi Wiji Thukul
pasti kau masih gelisah,
melihat orang-orang waras
kini sudah jadi pencuri beras,
jika tidak ada,
gabah dicarinya,
jika tidak ada,
orang-orang mencuri tanah

Orang-orang yang katanya berhasil,
orang-orang yang katanya sukses;
banyak pengetahuan, banyak pengalaman,
banyak uang, dan banyak korban
yang ditindak secara sepihak,
tanpa keterangan dan dalil kesalahan

Tanah hilang, rumah hilang, orangnya juga hilang,
raib secara gaib
katanya orang-orang ditelan
perut-perut buncit orang-orang lapar
yang terus merasa lapar
akibatnya, hutan-hutan juga dilahapnya, dilalapnya,
dan orang-orang hanya melihatnya dari jauh
tidak berani lebih dekat
takut dengan mata pistol yang terus mengintai.

Ingin membobol dada
yang macam-macam
yang sedari tempo diinjak-injak
diperlakukan tidak enak
namun mesti bagaimana lagi?
tuhan murah kasih kepada mereka
orang-orang yang bersembunyi di balik jubahnya.

Singaraja, April 2019

Sajak untuk Wiji Thukul

Wiji….
kau masih hidup….
kau masih hidup….
kau masih hidup….
masih hidup dengan kegelapan kata-kata
yang mencuci otak-otak kami yang kotor
dan miskin informasi dan sejarah.

Wiji….
kau tidak mati….
kau tidak mati….
kau tidak mati….
tidak mati dalam pikiran orang-orang
yang peduli kebenaran
bahkan menjadi darah dan daging
menyusup di saraf-saraf yang tidak ‘kan putus
digunting kebusukan orang-orang zalim.

Baca Juga:  Untuk Pak Tua

Nyawamu yang hilang ditelan militer
tubuhmu yang pergi dimakan rekayasa
sajak-sajakmu yang berjuang telah selesai tugas
menjadi anak-anak panah yang bertumpukan
menunggu untuk dipakai lagi
melawan senapan
dan todongan pistol.

Wiji….
kau masih hidup
kau masih utuh
tidak ‘kan mati
tidak ‘kan remuk
ditikam sutradara
dalam permainan drama
yang mengotak-ngatik
hak-hak
peran-peran
orang lain
dari atas kursi kedudukan yang empuk.

Singaraja, Maret 2019