Connect with us

Sosok

Zainuddin Amali, Sepak Bola, dan Identitas Bangsa Indonesia

Published

on

Zainuddin Amali
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainuddin Amali (Foto: JPNN)

Paska ditunjuk menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) oleh Presiden Joko Widodo minggu terakhir Oktober tahun lalu, nama Zainuddin Amali sontak menjadi sorotan publik. Sosok yang dikenal ‘moncer’ di kancah politik Tanah Air itu dipercaya mengurusi pos pemerintahan ‘seksi’ di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Spekulasi tentang sosoknya muncul ke permukaan, tetapi sepak terjang pria kelahiran Gorontalo itu memang kerap menjadi bahasan publik.

Sebelum menjabat menteri, Zainuddin Amali dikenal sebagai pengusaha dan politisi Partai Golkar. Rekam karier pada dua bidang itu memang diakui banyak orang: di sektor bisnis, ZA adalah pengusaha berhasil; sebagai politisi, ZA dikenal tegas dengan gagasan, tapi santun dalam pergaulan. Kaleidoskop rekam kariernya tersiar di banyak media. Namun begitu, sebagaimana kesaksian kolega, Zainuddin Amali tumbuh bak padi. Dalam kesuksesan bisnis dan politiknya, sosoknya tetap penuh senyum dan tak pernah jemawa.

Meniti dari Bawah

Tentu saja, capaian karier Zainuddin Amali hingga kini tidaklah instan dan bimsalabim. Pengalaman dan pengabdiannya ia susun secara kontinu dan konsisten dari masa ke masa. Bahkan, karakter kepemimpinan dirinya ia tempa sejak mahasiswa. Saat mahasiswa, Zainuddin Amali tidak sekadar menghatamkan potensi akademiknya di kelas. Pengalaman organisatorisnya terbentuk melalui sejumlah lembaga yang ia pimpin.

Pada 1986-1987, Zainuddin Amali menjadi Ketua Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Bakornas LAPMI), satu lembaga PB HMI yang concern pada kajian media dan produk jurnalistik. Ia juga pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa STIE Swadaya Jakarta periode 1988-1990. Tak berhenti di situ, Zainuddin Amali kemudian bergabung dengan organisasi masyarakat sayap Partai Golkar, Kosgoro. Dirinya kemudian terpilih menjadi nahkoda Gema Kosgoro pada 1994-1998.

Baca Juga:  Menjadi Indonesia

Barangkali, Kosgoro menjadi episentrum Zainuddin Amali untuk bergerak di kancah praksis bisnis, sebelum ke politik. Pengalaman dan pengabdian selama bertahun-tahun, juga dipadu dengan kecakapan akademiknya, membuat dirinya yakin mampu berbuat banyak melalui instrumen ini. Zainuddin Amali sadar akan formula jitu yang sebenarnya sederhana: bisnis adalah cara meraup untung, mencari rupiah, sementara politik hanya akan menjadi jalan demi kebajikan dan kemaslahatan publik.

Bisnis menjadi modal kapital Zainuddin Amali untuk melebur di trah politik praktis. Ia mulai membangun bisnis di bidang properti melalui PT Supradinakarya pada 1993-1996. Melalui dedikasi dan kerja kerasnya, nama ZA cukup dikenal dan sukses sebagai pengusaha properti. Hingga, pada 1998-2001, dirinya dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Real Estate Indonesia (REI). Selain itu, ZA juga sempat menjadi Direktur PT Makmur Triagung, PT Surya Terang Agung, PT Putra Mas. Dirinya juga sempat menjabat Komisaris PT Gitrana Sendiko dan PT Wirabuana Dwi Jaya Persada.

Sekali lagi, ZA menganggap bisnis sebagai instrumen untuk mengumpulkan modal kapital untuk terjun di trah politik praktis. Setelah bisnis mapan, ZA makin intens bergerak di kancah politik. Dirinya mulai aktif terlibat di sejumlah kegiatan Partai Golkar. Karier politik di Golkar ia mulai di Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG) sebagai Wasekjen pada 2003-2008. pada periode yang sama, ZA menjadi Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

Sebagai pribadi dengan pengalaman yang lengkap, karier politik ZA di Golkar terus mentereng. Ia lalu menjabat Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Timur 2013-2014. Selanjutnya, ZA ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar 2014-2019. Di wilayah legislatif, ZA empat kali berturut-turut menjadi anggota DPR RI Dapil Jawa Timur XI. Periode pertama pada 2004-2009, lalu 2009-2014, kemudian 2014-2019, dan terakhir 2019-2024.

Baca Juga:  Menteri Susi tertidur kelelahan di VIP Lounge Bandara JFK, New York

Sepakbola dan Masa Depan Indonesia

Zainuddin Amali memang tidak memiliki latar belakang kental dengan olahraga, tetapi karier dan karakternya yang kuat pada akhirnya mematahkan pesimisme khalayak. Karakter leadership kiranya menjadi modal nomor wahid untuk menggawangi sektor kementerian ini. Saat dirinya menjadi DPR RI, ZA pernah fokus pada aset-aset olahraga Indonesia yang pernah dipakai sebagai venue Asian Games 2018.  Dirinya meminta Kementerian Sekretariat Negara, PPK Gelora Bung Karno, dan PPK Kemayoran yang mengelola venue Asian Games agar merawat tempat tersebut sehingga bisa meningkatkan perolehan pendapatan negara bukan pajak.

Olahraga, sebagaimana ditulis Eu Jin Leong dalam Complicated Relationshinps between Sports and National Identity, memiliki peran dalam membangun identitas nasional, terutama negara berkembang seperti Indonesia. Tak banyak orang tahu, ZA pernah mendirikan Liga Mahasiswa pada era 1980-an, bersama tujuh rekannya.

Di samping karena kegemaran ZA bermain sepakbola, Liga Mahasiswa dibentuk sebagai instrumen untuk melahirkan pera pemain sepakbola andal hingga mampu menjadi pemain profesional. ZA waktu itu percaya, sepakbola, sebagaimana juga pernah ditulis Geoff Hare dan Hugh Dauncey dalam The Coming od Age, akan sangat menyumbang narasi identitas kolektif suatu bangsa.

Dalam keyakinan ZA dan beberapa kawannya waktu itu, sepakbola mampu membangun identitas nasional Indonesia. Hipotesa ini bukan tanpa bukti, dekade 1950-1980-an, Perancis membangun identitas negaranya melalui sepakbola. Halyang sama juga dilakukan negara Jerman, Brasil, Skotlandia. Karena itu, melalui sepakbola, identitas dan kesatuan nasional ditampilkan bahkan di muka dunia. Gagasan itu memang tertanam sejak lama dalam diri ZA.

Tentu, tugas ZA menahkoda kementerian ini bukan tanpa tantangan. Setelah periode sebelumnya ada skandal korupsi di tubuh kementerian ini hingga menjerat Imam Nahrawi, banyak orang mulai berpikir pesimistis. Tetapi, dengan sosok ZA yang sejak lama dikenal tegas dan bersih, bukan tak mungkin kementerian ini mampu mencetak kebanggaan nasional melalui regulasi dan capaian prestasi. Semoga!

Advertisement

Popular