Hadiah

603

Lelaki itu berusia awal enam puluhan. Itu adalah usia dugaan karena seperti kebanyakan orang kampung, ia tak benar-benar mengetahui tanggal lahirnya sendiri.

Ia mengenakan jaket untuk melindungi tubuh rentanya dari dinginya AC mobil. Seperti kulit wajahnya, kulit tangannya yang memegang kemudi dipenuhi keriput. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya ia menghabiskan waktunya menjadi seorang sopir taksi. Pekerjaannya sama sekali tidak buruk, pikirnya. Ia mengantar orang-orang agar sampai ke tujuannya masing-masing. Telepon genggamnya yang murah bergetar di saku bajunya. Ia sampai tidak merasakannya karena bayangan masa lalunya datang.

Belakangan, ia sering terbayang masa lalunya. Entah karena usia tuanya, atau mungkin kalau menurut kata orang tertentu, sebentar lagi ia akan mati.

Serangan masa lalunya sering datang apalagi ketika ia menyetir dengan terdiam, memandangi pemandangan jalanan dan lalu lintas di depannya, baik ketika jalanan sedang lancar, maupun macet.

Potongan demi potongan kenangan mengitarinya.

***
Ia lahir di keluarga sederhana. Dulu ia hidup dengan bapak, ibu, satu kakak perempuan, dan satu adik lelaki. Mereka semua tinggal di sebuah rumah sederhana di pedesaan yang rangkanya terbuat dari kayu, berdinding anyaman bambu, beratap jerami, dan beralaskan tanah. Hidup mereka sederhana dan bahagia mereka hanya memiliki sedikit pakaian untuk sehari-hari, sedikit perabotan dan perkakas di rumah mereka, dan mereka makan dengan seadanya. Bapak dan ibunya adalah jenis orang-orang desa yang baik, lugu, dan sederhana. Mereka selalu menasehatinya agar ia menjadi orang yang orang baik dan berguna. Bapak ibunya juga selalu menasehatinya agar ia berhati-hati dengan segala perkataan maupun tindakannya agar tidak menyakiti orang lainnya.

Ketentraman di keluarganya mulai diuji saat ia berada di kelas 4 SD, bapaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik meninggal dunia dalam tidurnya. Ibunya yang hanya ibu rumah tangga kini harus mencari cara agar dirinya bisa menghidupi tiga anaknya. Teringat percakapan dirinya dengan ibunya pada suatu malam setelah ayahnya dimakamkan.

“Nak, mulai besok ibu akan berjualan kue keliling kampung. Kamu akan berhenti bersekolah untuk membantu ibu berjualan,”

“Tapi aku suka bersekolah Bu, bagaimana dengan pelajaran sekolahku? Bagaimana dengan teman-temanku?”

Baca Juga:  “Jam 2.45”)

“Maafkan Ibu Nak, tapi uang kita kan tidak banyak. Kakak perempuanmu sekolahnya sudah tinggi, sayang untuk berhenti, dia sudah kelas 2 SMP sekarang, dan adik lelakimu masih terlalu kecil untuk bisa membantu ibu,”

Ibunya beranjak masuk kamar dan menutup kain yang dijadikan gorden penutup kamar. Ia tidak beranjak dari menatap tungku. Ia tidak percaya bahwa ibunya lebih membela pendidikan kakak perempuannya dibandingkan dirinya. Mulai keesokan harinya, setiap pagi hingga sore ia menggerutu membantu ibunya, mulai dari mencari kayu bakar di hutan, menumpuk persediaan kayu bakar, hingga menemani ibunya berjualan kue mengitari kampung. Adik lelakinya biasanya mereka titipkan ketika mereka berjualan. Kakak perempuannya juga membantu membuat kue. Makin lama, karena pada dasarnya ia memang baik hati, gerutunya makin berkurang digantikan kerelaan, hatinya kembali melunak. Tetapi hampir setiap harinya juga secara bersamaan ia menyesali nasibnya, bahwa ia harus berjualan kue keliling kampung bersama ibunya, sedangkan kakaknya akan berangkat ke sekolah dan mendapatkan pelajaran serta pengetahuan disana.

“Nak, kau jangan kuatir, pengetahuan bisa kau dapatkan dimana saja, tidak hanya di sekolah. Orang-orang yang berada disana kadang tidak jauh lebih bijak daripada yang tidak berada disana,” kata ibunya pada dirinya saat mereka sedang menghitung uang hasil berjualan.

***
Kakak perempuannya pergi dari rumah terlebih dahulu. Ia merantau ke ibukota negara, mencari pekerjaan disana.

Ia tumbuh menjadi seorang pemuda kekar dan pemberani. Ia juga memiliki kekasih yang cantik, seorang kembang desa yang polos dan ceria, tubuh kekasihnya montok dan buah dadanya ranum. Ia benar-benar senang mendapat kekasih seperti itu.

Kebahagiaan sepasang kekasih itu ada masanya. Ketika adik lelakinya mampu menggantikannya untuk membantu ibunya berjualan, ia pamit untuk pergi merantau ke ibukota negara. Meninggalkan keluarga serta kekasihnya di kampung halamannya, berjanji untuk kembali, tapi ia tak pernah benar-benar kembali. Tak tahu persis apa yang harus dilakukannya, selama seminggu ia berada terminal, makan, dan tidur disana hingga menjadi akrab dengan para penghuni terminal. Ia pun ditawari pekerjaan dari para sopir angkutan umum. Mereka mengajarinya menyetir selama seharian, lalu esoknya ia mulai bekerja sebagai sopir angkutan umum, menyetir dengan ugal-ugalan, menabrak beberapa mobil pribadi, dan ditilang polisi. Kemampuan menyetirnya lama-lama membaik. Tak sampai setahun, di Jakarta ia memperisteri seorang mantan pekerja seks komersial untuk menemani hidupnya, ia membentuk keluarga baru. Beberapa tahun berlalu, ia mendapat kesempatan menjadi sopir taksi sementara istrinya kini bekerja sebagai tukang cuci rambut dan tukang make up di salon. Dari zaman jalanan lengang dan bentuk mobil terlihat bagaikan kotak sabun hingga zaman jalanan penuh sesak dan terlihat deretan mobil Avanza dimana-mana, ia hanya pulang setahun sekali.

Baca Juga:  Rahmat

***

Lebaran merekatkan mereka setiap tahunnya sejak mereka hidup berpencar satu sama lain. Ia, kakak perempuannya, dan adik lelakinya akan berkumpul di rumah ibunya. Nasib mereka begitu berbeda, kakak perempuannya meneruskan pendidikan hingga sarjana di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor dan menjadi pengajar disana. Adik lelakinya, yang entah darimana mendapatkan bakat bisnis, menjadi pemilik sebuah toko mebel di Bogor. Sedangkan ia, yang memilih untuk hidup agak berjauhan dengan kakak, adik, dan ibunya, menjadi sopir taksi.

Kakak beradik itu tak memiliki kesempatan tuntas berkompetisi satu sama lain, hingga bahkan ketika mereka tua, bergelambir, dan berkeriput, mereka masih berlomba memenangkan perhatian ibu mereka yang jompo. Mereka akan datang ke rumah ibu mereka, membawa anak-anak mereka, dan membawa hadiah. Setahun sekali mereka berlomba memberikan hadiah lebaran pada ibu mereka.

Kakak perempuannya biasanya memberikan ibunya tas dan pakaian.

Adik lelakinya biasanya memberikan ibunya tas, pakaian, dan perabotan baru.

Ia tak tahu harus memberikan apa. Biasanya ia memberikan ibunya hadiah yang dipilihkan oleh istrinya dan tiga anak perempuannya. Itu bisa berupa pakaian, atau hanya oleh-oleh camilan sederhana yang sedang menarik.

Berbeda dengan kedua kakaknya maupun adiknya, selalu, setiap ia memberikan hadiah lebaran pada ibunya, raut wajah ibunya selalu tidak puas dan menunjukkan sesuatu yang mengganjal.

“Ibu tidak butuh ini,” begitu gumam ibunya saat menerima hadiah terakhirnya.

Kali itu, ia benar-benar geram dihantui kekesalan mendalam, kekesalan sama seperti dimana ia baru mendengar permintaan ibunya agar ia berhenti sekolah.

“Apa sih yang ibu inginkan dari saya?!” ia bertanya dengan nada begitu geram pada ibunya yang dianggapnya tidak tahu terima kasih. Ia telah mencoba untuk memberikan sesuatu padanya meskipun tidak sebagus yang diberikan kakaknya maupun adiknya. Ia tidak mengerti apa yang ibunya inginkan. Ia begitu geram sehingga cepat-cepat mengajak anak istrinya pergi dari tempat itu sesegera mungkin.

Baca Juga:  Memahami Pelajaran Bu Oka

***
Telepon genggamnya bergetar lagi di saku bajunya. Membangunkannya dari lamunan. Istrinya menelepon.

“Ya, Bu,” sapanya singkat.

“Pak, kau sedang bekerja? Menepi dulu Pak,” suara istrinya terdengar terdesak sekaligus menahan emosi.

Ia cepat-cepat memberi sen kiri dan menepi di depan toko buah. Seorang lelaki di ujung jalan melangkah ke arahnya dan terlihat ingin naik taksinya, namun ia melambaikan telapak tangannya memberi isyarat “tidak”.

“Sudah menepi. Kenapa Bu?”

“Pak…. Ibumu meninggal. Aku baru dikabari adikmu,”

Ia langsung merasa lemas. Tangan kanannya melorot dari kemudi.

***
Baru semalam, ibunya datang dalam mimpinya untuk pamit.

Dalam mimpinya, ibunya belum jompo, sementara ia belum berkeriput. Dirinya dalam mimpi adalah dirinya yang masih anak-anak. Ibunya dalam mimpi adalah perempuan yang baru memintanya untuk berhenti sekolah, ibunya adalah perempuan yang ditemaninya berjualan kue mengitari kampung, berkeringat di panas terik, kehujanan di musim hujan, lalu menghitung uang bersama-sama setelahnya.

Mimpi itu terasa begitu nyata. Mereka berada di rumah sederhana yang asing baginya. Ia merebahkan diri di pangkuan ibunya. Dasternya terasa begitu lembut. Tubuh ibunya menguarkan harum bunga melati. Tangannya yang bersih dan berkilauan membelai kepalanya.

“Bu..”

“Nak, ibu boleh minta sesuatu lagi darimu?”

“Apa, Bu?”

“Bisakah kau memberikan sekotak maaf untuk ibumu? Ibu hanya butuh itu darimu. Ibu benar-benar membutuhkannya..”

Magister Ilmu Filsafat dari Universitas Indonesia dengan predikat Cum Laude. Menulis buku “Apa Itu Musik?, Marjin Kiri (2014), jurnal “Music’s Critical Function to Social Conditions”, Mengajar Piano Klasik.