Connect with us

Cerpen

1 Suro

Published

on

1986

“Jadi besarmu nanti mau jadi apa, Nduk?”

“Pembaca berita, Pak, seperti yang di Dunia Dalam Berita itu.”

“Wah, bagus. Kamu mau jadi jurnalis? Hebat itu, Nduk. Kamu bisa tahu segala hal yang terjadi di dunia ini. Siapa? Siapa yang jadi idolamu itu sih?”

“Anita Rachman, Usi Karundeng, Yasir Den Has, Yan Partawijaya, Inke Maris, Hasan Ashari Oramahi…

“Hahahaaa iya iyaa, Nduk, semua kok trus disebutkan.”

“Laaah Bapak kan nanya …?!”

“Iya, tetapi ini bukan ujian.”

“Lalu apa dong? Kuis? Hadiahnya uang ya, Pak? Asyik …!”

Suasana bahagia. Jelang perayaan malam 1 Suro mereka nikmati di teras rumah, di atas bangku bambu beralas tikar anyaman daun pandan, jauh di pelosok Karanganyar, 2 jam dari Kota Solo.

“Ini kopinya, Pak. Pisang rebus sekalian mau dibawa? Biar tidak jajan sambil nunggu kirab,” Ibu menyerahkan termos berisi kopi tubruk kesukaan Bapak.

“Tidak usah, Bu, aku bawa kopinya saja,” jawab Bapak sambil mengunyah pisang kepok rebus.

“Melati, kamu jadi dibuatkan mi godok?” tanya Ibu penuh kelembutan.

“Jadi dong, Bu. Mi godok Ibu itu top markotop!” teriak Melati sambil mengacungkan dua jempol.

Sudah menjadi tradisi di leluhur Bapak untuk selalu mengikuti kirab malam 1 Suro di Kota Solo. Bapak, meski masih keturunan Sri Susuhunan Pakubuwono XII, raja Kasunanan Surakarta yang memerintah sejak 1945, namun tidak pernah menyombongkan keningratannya. Kesempatan tinggal di Baluwarti, di mana para keturunan dan abdi dalem keraton tinggal, ditolaknya. Punya rumah di Karanganyar lebih enak. Jauh dari kota. Udara masih segar, Bapak bisa bercocok tanam dan beternak ayam, begitu alasan Bapak.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Bapak pamit dan mengecup kening Melati. Ibu masih di dapur menyiapkan mi godok. Meski tak ikut kirab, biasanya Ibu dan Melati lek-lek an. Melek semalaman. Ibu mengaji dan membacakan tafsir Al-Qur’an, Melati mendengarkan dan bertanya banyak hal.

Baca Juga:  Fancy Nancy

Setiap mengikuti kirab pusaka keraton dan kerbau Kyai Slamet di malam 1 Suro, Bapak pulang mendekati waktu Salat Subuh. Bawa oleh-oleh tlethong alias tahi kerbau. Melihat iring-iringan kerbau Kyai Slamet dipercaya membawa keberuntungan dan tahinya melancarkan rezeki. Bahkan tahi kerbau Kyai Slamet sering buat rebutan. Orang-orang menggunakannya untuk menyuburkan tanaman. Dibungkus kain mori putih kemudian ditanam di lahan perkebunan atau dicampurkan saja dengan tanah seperti layaknya pupuk kandang.

***

Rona merah dan oranye langit mulai tampak di atas horizon. Fajar segera menyingsing. Bapak belum pulang. Ibu gelisah. Ada yang tak beres. Ibu mondar-mandir. Ceret air berbunyi nyaring. Ibu mematung. Pikirannya menggantung. Melati bangun, mematikan kompor.

“Bapak belum pulang, Bu?”

“Mungkin sebentar lagi, Nduk.”

“Ibu jangan menangis. Bapak pasti baik-baik saja. Mungkin … tlethong-nya banyak jadi Bapak pulang terlambat.”

“Ahhh kamu bisa saja menghibur Ibu, Nduk.”

Suara pagar berderit. Bapak datang. Ibu dan Melati menyambut di muka ruang tamu. Namun Bapak tidak sendiri. Ia bersama seorang perempuan.

“Inikah orangnya, Pak?” Ibu berusaha tenang.

“Iya, Bu,” jawab Bapak dengan suara bergetar.

Bapak, Ibu, dan perempuan yang bersama Bapak tadi ngobrol serius di ruang tamu. Melati diminta masuk ke kamar. Sayup-sayup ia mendengar perbincangan mereka. Sesekali ada suara tinggi yang berasal dari Ibu, suara isak tangis dari perempuan itu dan suara bariton Bapak, yang tak ubahnya hari-hari biasa ketika memberikan wejangan untuk Melati.

“Nduk, Ibu pamit. Jaga bapakmu. Ibu akan kasih kabar segera …,” Ibu menjinjing tas tangannya dan tergesa meninggalkan kamar Melati.

Dunia terasa berputar. Ketika Bapak dan tamu perempuan itu masuk ke kamar Melati dan mengajaknya bicara. Ibu pergi, tanpa membawa pakaian ganti. Tanpa memeluk dan memberikan senyum terbaiknya. Bapak meminta izin menikahi perempuan bernama Wiwik yang ternyata telah hamil 4 bulan. Ya, itu anak Bapak, mereka telah menikah siri tanpa sepengetahuan Ibu.

Baca Juga:  Skimming

Hari-hari kemudian berjalan sangat lambat. Bagi Melati, kenyataan ini terlalu sulit ia cerna. Bapak dan Ibu adalah sosok terindah baginya. Sebuah tanya yang tak berujung. Kenapa Ibu memilih pergi. Dan Bapak memilih Wiwik?

Advertisement
Advertisement

Terkini

News2 jam ago

BNPB Gunung Semeru Siapkan Tempat Pengungsian Warga

SERIKATNEWS.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana menghimbau kepada warga yang pemukimannya tidak jauh dari Gunung Semeru untuk tidak melakukan aktivitas...

News2 jam ago

Deformasi Gunung Merapi Ada 6 Periode

SERIKATNEWS.COM – Sumber tekanan magma di Gunung Merapi Yogyakarta, saat ini berada pada kedalaman 1,3 kilometer di bawah puncak. Hal itu...

Pendidikan3 jam ago

Butuh Protokol Tambahan untuk Sekolah Tatap Muka

SERIKATNEWS.COM – Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama mengatakan bahwa keputusan untuk memulai pembelajaran tatap muka di sekolah perlu melibatkan sejumlah...

News6 jam ago

Tak Hadir Saat Dipanggil Penyidik, HRS Muncul di Reuni 212 dan Minta Maaf

SERIKATNEWS.COM – Reuni 212 digelar secara virtual dengan dihadiri oleh puluhan tokoh, baik dari tokoh agama, nasional dan aktivis, Rabu...

Ekonomi9 jam ago

Pengrajin Batik Rahma Yeni Berbagi Ilmu dengan Kaum Perempuan

SERIKATNEWS.COM – Permintaan batik Sampan di Desa Sungai Kasai Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman yang dikembangkan Rahma Yeni semakin banyak....

Hukum11 jam ago

Salah Sasaran, Pendukung Habib Rizieq Geruduk Rumah Ibunda Mahfud

SERIKATNEWS.COM – Puluhan orang mengepung rumah ibunda Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, di Pamekasan,...

Peristiwa13 jam ago

Ratusan Rumah di Jombang Terendam Banjir

SERIKATNEWS.COM – Dua sungai meluap mengakibatkan 474 rumah penduduk Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, Jombang terendam banjir. Sebanyak 60 warga setempat...

Populer

%d blogger menyukai ini: