SERIKATNEWS.COM – Lawang Sewu merupakan objek wisata yang paling keren di Semarang. Sebab, wisata itu merupakan wisata yang cukup angker paska ada film dunia lain. Akan tetapi, sekarang sudah tidak angker lagi.
Sudah dibuktikan oleh Komunitas Semarang Angker (Semarangker) yang juga sempat penasaran karena banyak mengatakan betapa angkernya Lawang Sewu.
“Lawang Sewu dulu dan sekarang beda, dulu mangkrak kayak terbengkalai, berantakan, dan gelap. Otomatis bangsa jin suka. Apalagi setelah penayangan Dunia Lain, tambah tinggi rating (kesan horor) Lawang Sewu, bahkan ada yang mengulas katanya terangker di Asia,” kata Ketua Semarangker, Pamuji Yuono.
Pamuji menjelaskan ia dan komunitasnya memang kerap datang ke lokasi yang konon angker dan membuktikannya. Namun menurutnya sudah tidak ada nuansa angker dan horor lagi di Lawang Sewu Semarang.
“Pernah ke bawah tanah waktu masih dibuka, ya memang lembab, berair, gelap, otomatis lah, kita ngomongin makhluk astral,” ujarnya.
Saat ditanya apakah dulu pernah melihat sosok gaib di sana, ia menjelaskan hanya berupa vorteks yang berwujud seperti asap menggumpal. “Kami lihatnya vorteks, kalau bahasa metafisika. Kayak asap kayak awan menggumpal, kadang hitam, putih, cokelat, jadi tidak kayak di film,” jelasnya.
Ia pun maklum jika ada orang-orang yang mengaku melihat sosok gaib dengan wujud pocong, kuntilanak, dan sebagainya. Selain siapa saja bisa mengaku, menurutnya, bangsa jin memang bisa berwujud sesuai dengan ketakutan atau kekhawatiran orang yang melihatnya.
“Tergantung mindset-nya apa, kalau khawatir kuntilanak maka jin bisa visualisasi dengan apa yang Anda takutkan. Misal si A takut pocong ya dia akan melihat pocong,” katanya.
Namun, ia kembali mengatakan saat ini Lawang Sewu sudah jauh dari kesan horor karena sudah ‘kemanungsan’ atau banyak sekali orang yang sudah berkunjung sejak PT KAI merestorasi dan menjadikannya lokasi wisata.
“Yang sekarang udah bagus, sudah cantik, sudah ribuan orang masuk dalam sebulan. Dulu belum tentu, ini sudah kemanungsan, kecuali bawah tanah, itu memang ditutup untuk hindari kesan angker,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT KA Pariwisata Totok Suryono mengatakan Lawang Sewu memang sempat mangkrak karena PT KAI kala itu mengalami keterbatasan anggaran untuk gedung-gedung non operasional, tidak hanya Lawang Sewu.
“Jadi memang pernah tidak terurus, saat itu PT KAI keterbatasan budget untuk yang tidak fungsional operasional, termasuk yang di Ambarawa juga,” kata Totok.
Reporter SerikatNews di Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...