Setiap tahun, warga dunia memperingati hari Kesehatan Mental dunia. Bermacam kegiatan juga dilakukan, terutama oleh oleh orang-orang yang memiliki kesadaran dan kepedulian tinggi terhadap isu ini. Sayangnya, pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan ini belum tentu dimiliki oleh setiap orang. Banyak diantara kita yang masih gagap memaknai sehat mental itu sendiri. Secara awam, orang tahu bahwa sehat mental itu “tidak gila”. Apakah benar seperti itu?
Merujuk pada definisi mental health menurut WHO (World Health Organization), sehat mental adalah sebuah kondisi individu yang sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, serta bukan hanya terbebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Sangat jelas bahwa sehat mental tidak hanya sekedar terbebas dari gangguan mental, tetapi secara holistik juga sehat fisik, nonfisik, serta dapat berfungsi secara sosial. Pemahaman mendasar terkait dengan mental yang sehat ini harus dimiliki oleh setiap kader PMII dimanapun berada. Mulai dari bagaimana kader mengenali diri, baik secara emosi, sifat, sikap, sampai bagaimana mereka berperilaku di ogranisasi.
Jika flashback sedikit ke belakang, munculnya WMHD pertama kali pada tahun 1992 yang diinisiasi oleh World Federation for Mental Health (WFMH) membawa misi baik yaitu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai kesehatan mental warga dunia. Hal ini amat penting karena selama ini lebih banyak dari kita yang hanya berfokus pada kesehatan yang sifatnya fisik saja. Oleh sebab itu, marilah sama-sama kita berefleksi “what can we do for our mental health? How to take good care of mental health?”
Sejauh mana kader PMII aware terhadap kesehatan mentalnya sendiri?
Mari kita tanyakan kepada diri masing-masing. Hal ini penting karena berhubungan dengan performasi kita dalam gerakan itu sendiri. Kualitas individu yang unggul tidak hanya sebatas pada kemampuan berpikir saja, tetapi juga skill memahami dan mengelola emosi, skill berempati, dan masih banyak lainnya. Termasuk bagaimana kita bisa menempatkan diri pada bermacam situasi. Lagi-lagi, membangun kesadaran tentang sehat mental harus dimulai dari diri sendiri. Pertama, pastikan kita paham bahwa ada hal-hal yang bisa kita kontrol dan tidak kita kontrol. Hal yang bisa kita kontrol adalah pikiran, perasaan, dan perilaku kita sendiri.
Sementara hal yang tidak bisa kita kontrol seperti respon orang lain terhadap kita dan segala persoalan eksternal diluar diri kita. Di sinilah kita dapat beradaptasi dengan apa yang ada di sekitar kita. Kemampuan menyesuaikan diri ini merupakan salah satu ciri sehat mental itu sendiri. Kader PMII yang memiliki daya adaptasi tinggi pada akhirnya bisa lebih jeli dalam memetakan situasi dan tepat dalam decision making.
Kedua, kita bisa mengenali potensi dalam diri dan memanfaatkannya secara optimal. Melalui analisis diri, kader PMII mestinya bisa memetakan setidaknya empat hal dalam dirinya (strength, weakness, opportunity, dan threat). Keempat hal ini membantu kita mengenali apa saja potensi yang ada dalam diri. Setelah mengetahui, mengenali, dan memahami potensi yang dimiliki,selanjutnya adalah mengembangkannya melalui kerja-kerja pengabdian dan aktualisasi diri, baik dalam konteks pribadi maupun organisasi. Kader PMII dapat berkiprah dalam ruang-ruang privat maupun publik sesuai dengan kapabilitas yang dimiliki,termasuk melalui keilmuan yang selama ini dipelajari di kampus. Melalui gerak-gerak inilah PMII ke depan akan semakin berwarna.
Aspek ketiga seorang individu yang sehat mental adalah dapat merasakan kebahagiaan. Seperti apa kader PMII yang bahagia? Tentu ini sangat subjektif. Meski demikian, kita pasti memahami gerak-gerik orang yang bahagia dengan yang tidak bahagia. Standar kebahagiaan kader diciptakan oleh kader itu sendiri, kesejahteraan psikologis kader juga ditentukan oleh dirinya. Kader yang merasakan kesejahteraan psikologis tentu dapat bertumbuh dan berkembang lebih baik. Disinilah pentingnya PMII sebagai sebuah rumah pergerakan mampu membangun kesadaran tentang sehat mental bagi kader-kadernya. Pun demikian kader harus secara mandiri memperhatikan kondisi kesehatan mental dirinya.
Menjadi kader yang sehat mental adalah upaya menjadi kader yang berdaya. Dengan begitu, PMII sebagai gerakan mampu menjadi wadah aktualisasi diri, bermanfaat, dan memberdayakan.
Direktur Lembaga Profesi Psikolog dan Konselor PB PMII
Menyukai ini:
Suka Memuat...