SERIKATNEWS.COM – Hari Pahlawan Tahun 2021 diperingati dengan tema “Pahlawanku Inspirasiku”. Tema ini memberikan dorongan dan semangat bagi generasi muda Indonesia untuk dapat meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur pahlawan dalam kehidupan sehari-hari serta memiliki keteguhan yang sama dengan para pejuang yang memiliki sikap pantang menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Drs Sidarto Danusubroto SH, dalam acara peringatan Hari Pahlawan yang digelar Badan POM (BPOM). Acara yang dibingkai dengan Dialog antar Generasi ini berlangsung secara virtual pada Selasa, 09 November 2021.
Dalam kesempatan ini, Sidarto Danusubroto mengungkapkan bahwa sikap pantang menyerah, siap berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri dalam perjuangannya, menjadi watak dan karakter dari para pejuang Indonesia, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan lain-lain. Semenjak muda mereka berjuang untuk bangsanya tanpa memperhitungkan untung-ruginya, padahal mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan jabatan, kehormatan, dan materi. Tapi kesempatan tersebut tidak dipergunakan agar dapat berjuang untuk kemerdekaan bangsanya.
“Setelah Indonesia merdeka, dan mereka menduduki posisi yang terhormat, jabatan itu juga tidak dipergunakan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Karena tujuan mereka berjuang adalah agar bangsanya terbebas dari belenggu penjajahan,” ungkapnya.
Soekarno memang seorang yang sangat idealis, yang tidak pernah mementingkan diri sendiri, melainkan selalu memikirkan kepentingan bangsanya. Semenjak muda, Soekarno telah aktif berjuang melawan Belanda yang bercokol di Indonesia selama ratusan tahun.
“Soekarno sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang menjanjikan penghasilan dan fasilitas materi yang memuaskan. Namun semuanya itu tidak pernah dipergunakan, bahkan Soekarno mengorbankan masa-masa mudanya dan sering keluar–masuk penjara untuk tujuan Indonesia merdeka,” katanya.
Menurut Sidarto Danusubroto, Bung Karno meninggal dalam kesepian dan kesendirian dan menderita penyakit yang parah. Namun, tidak mendapat perawatan dan pengobatan yang memadai sebagai mantan Presiden. Bung Hatta juga hidup dalam kesederhanaan. Kekayaan Bung Hatta yang paling besar adalah koleksi buku yang sangat banyak dan lengkap.
Tantangan dan Perjuangan Bangsa Saat Ini
Pada masa penjajahan, bangsa Indonesia berjuang untuk mengusir penjajah yang sudah berkuasa di Indonesia selama ratusan tahun. Saat ini bangsa kita menghadapi begitu banyak tantangan dan masalah. Ketika menghadapi penjajah, bangsa Indonesia yang sangat pluralistik, multikultural, multietnik, dan multiagama, dapat bahu membahu, bergandengan tangan, berjuang bersama untuk mengusir penjajah. Namun setelah merdeka, kemajemukan bangsa ini justru mendapat tantangan yang demikian berat.
Sidarto Danusubroto menegaskan, bangsa Indonesia yang sangat pluralistik, multikultural, multietnik, dan multiagama adalah suatu keniscayaan yang harus dirawat dan dijaga keharmonisannya. Kemajemukan Indonesia adalah aset berharga yang menyimpan berbagai kekayaan lokal yang menjadi modal kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
“Namun, jika tidak dikelola dengan bijaksana, keberagaman dapat menjadi sumber terjadinya konflik sosial di masyarakat. Masalah kecil dan sederhana dapat menjadi ledakan besar yang akan mengancam keutuhan NKRI jika tidak dijaga dengan baik,” ungkapnya.
Diungkapkan juga, berbagai upaya dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk merusak keharmonisan di Indonesia, dengan cara berusaha mengganti ideologi negara dengan ideologi yang lain. Bentuk negara ingin diubah dengan bentuk yang sesuai dengan keinginan mereka. Demikian juga dengan kebhinekaan dianggap sebagai sesuatu yang harus dihilangkan dari bumi Indonesia.
“Kondisi ini terjadi karena ada kelompok yang mencoba mengingkari perjuangan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan melupakan sejarah berdirinya Republik ini yang dibangun di atas keberagaman suku, etnis, maupun agama. Padahal Bung Karno menegaskan bahwa bangsa Indonesia didirikan, satu untuk semua, semua untuk satu, dan semua untuk semua,” ungkapnya lagi.
Tanpa disadari, lanjut Sidarto Danusubroto, keadaan yang terjadi saat ini menyebabkan intoleransi, radikalisme, dan terorisme (IRT) semakin marak di Indonesia, khususnya beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi tanggung jawab kita bersama dan harus segera diatasi, agar sikap intoleran dan radikalisme tidak semakin meluas di kalangan masyarakat, khususnya kaum muda.
“Agar intoleransi, radikalisme, dan terorisme, tidak semakin meluas, bangsa Indonesia harus memiliki fondasi yang kokoh dan benteng yang kuat, yaitu Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri dari: Pancasila sebagai Dasar Negara dan pandangan hidup Bangsa Indonesia; UUD 1945 sebagai konstitusi negara; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara yang merupakan komitmen seluruh bangsa Indonesia; dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di Indonesia,” katanya.
Perang Melawan Covid-19
Dikatakan oleh Sidarto Danusubroto bahwa pandemi Covid-19 yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dapat dianalogikan dengan perang yang dihadapi oleh para pejuang bangsa pada masa lalu. Hanya bedanya, saat ini kita sedang berperang dengan musuh yang tidak kelihatan, tetapi akibatnya justru lebih parah daripada perang konvensional.
Di tengah merebaknya wabah pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM) memainkan peran yang sangat strategis dan menjadi garda terdepan dalam perang melawan Covid-19 karena berkaitan dengan masalah vaksin, dan obat-obatan yang dibutuhkan dalam mengatasi pandemi ini.
“Sikap rela berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, siap bergotong-royong dengan semua komponen bangsa yang ditunjukkan oleh para pahlawan bangsa, kiranya menjadi contoh dan teladan bagi semua komponen yang ada di BPOM, baik unsur Pimpinan maupun staf, untuk bersama-sama bahu membahu, bergandengan tangan, sehingga bangsa ini mampu lolos dan keluar sebagai pemenang dari perang melawan Covid-19 ini,” kata Sidarto Danusubroto.
Dia menambahkan, Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di BPOM juga sangat beragam. Namun, kebhinekaan ini jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan untuk memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
“Para ASN di BPOM kiranya meneladani sikap para pahlawan yang rela berkorban tanpa memperhitungkan untung ruginya. Berikanlah yang terbaik dari potensi yang dimiliki untuk bangsa dan negara dengan tetap mengedepankan sikap profesional, integritas, dan karakter yang positif serta dilandasi oleh akhlak yang baik,” tukasnya. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...