FENOMENA Covid-19 memiliki banyak dampak pada setiap negara dan individu di seluruh dunia. Kesehatan warga negara terancam oleh keberadaan virus tersebut. Dengan munculnya situasi tersebut, dunia terpaksa berhenti sejenak demi menyelamatkan nyawa. Orang-orang dipaksa untuk melakukan pekerjaan mereka, belajar, dan kegiatan lainnya di dalam rumah. Isolasi, jarak sosial, dan pembatasan melakukan aktivitas di luar rumah telah menjadi perubahan besar bagi kesejahteraan semua orang. Namun, solusi sementara ini bukanlah solusi untuk setiap masalah.
Perekonomian setiap negara terkena dampak pandemi. Kekacauan sudah terjadi sejak awal era pandemi. Dimulai dengan harga sanitizer dan masker yang meroket, yang akhirnya berdampak pada harga kebutuhan sehari-hari. Untuk defisit anggaran negara yang signifikan karena pendapatan yang sedikit dan pengeluaran mendadak untuk membiasakan new normal.
Upaya dari pemerintah Indonesia demi mengendalikan penularan dari virus Covid-19 adalah menerapkan kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat dengan memberlakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Oleh karena dampak itu, banyak perusahaan juga mengalami omset yang menurun pesat dan banyak juga dari perusahaan tersebut melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran. Banyak juga di antaranya mempekerjakan karyawannya melalui WFH (Work from Home).
Karena banyaknya karyawan yang di-PHK, maka banyak juga masyarakat yang harus terancam kehilangan pekerjaan mereka untuk mencukupi kehidupannya. Konsumsi rumah tangga dan kegiatan ekspor yang turut menurun dan juga pembelanjaan yang dilakukan kepemerintahan yang difokuskan untuk menangani Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi nasional menurun dengan sangat drastis.
Dengan banyaknya perusahaan yang dinilai para investor memiliki performa yang kian menurun, maka para investor juga banyak yang tidak ingin menginvestasikan atau menarik uang mereka dari perusahaan-perusahaan yang terancam Covid-19. Hal ini menyebabkan menurunnya harga saham di Indonesia yang menjadi salah satu faktor dalam penurunan ekonomi nasional.
Melihat situasi seperti ini, Presiden RI memutuskan untuk menangani pandemi dengan memberikan vaksinasi terhadap masyarakat. Pengembangan vaksin Covid-19 pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 21 Juli 2020. Berita tersebut diterima dengan baik oleh publik hingga memberikan dampak positif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG). Hal ini terjadi karena adanya kenaikan demand atau keinginan para investor untuk membeli saham yang terdorong oleh sentimen positif terhadap pengembangan vaksin tersebut.
Peraturan dari Menteri Kesehatan (Permenkes) No 48 Tahun 2020, menyebutkan bahwa adanya kelompok yang diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin. Pada tahap pertama yang diprioritaskan adalah para tenaga kesehatan. Yang kemudian dilanjutkan untuk disebarluaskan kepada seluruh rakyat Indonesia dengan harapan untuk memperkuat pertahanan terhadap virus itu sendiri sehingga dapat kembali beraktivitas dengan normal.
Tercatat pada 31 Desember 2021, 280 juta dosis vaksin telah didistribusikan di Indonesia (Satgas Covid-19). Yakin dengan jumlah dosis vaksin yang dibagikan, Indonesia berupaya melakukan kegiatan offline dengan praktik new normal. Namun, upaya ini terbukti bertahan dalam waktu singkat. Melihat situasi saat ini, Indonesia telah kembali ke PPKM Level 3. Keberhasilan penurunan jumlah kasus Covid pada tahun 2021 juga terbantu oleh PPKM. Situasi tersebut menunjukkan adanya kemunduran lagi pada PPKM sementara.
Bisa diartikan bahwa vaksinasi Covid-19 menjadi andalan dalam mempercepat proses pemulihan perekonomian nasional, tetapi dengan syarat tetap mematuhi protokol kesehatan walaupun kita tidak dapat memperkirakan kapan ini bisa berakhir dengan cepat. Dengan adanya vaksinasi ini kita berharap bisa berjalan lancar dan sukses dengan dukungan dan juga peran seluruh masyarakat, sehingga efektivitas dalam pemulihan ekonomi dapat kita rasakan.
Dengan jalannya program vaksinasi dan juga protokol kesehatan, dampak terhadap aktivitas sehari-hari dapat dirasakan secara langsung, yaitu mobilitas masyarakat Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan menurunnya kasus Covid-19. Peristiwa ini bisa terlihat secara signifikan pada triwulan IV-2021, dengan kenaikan jumlah penumpang pada transportasi, baik moda udara maupun darat, peningkatan terhadap penghunian kamar (hotel), dan juga berbagai macam aktivitas penjualan. Tak juga lupa dengan adanya penguatan atas realisasi belanja negara dan dukungan kebijakan pemerintah dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Hal ini menyebabkan ekonomi Indonesia meningkat sebesar 5,02 persen year on year (yoy).
Kondisi perekonomian Indonesia dapat dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha dan menurut pengeluaran. Hal ini sangat berkaitan erat dengan program vaksinasi Covid-19 dikarenakan pembatasan kegiatan-kegiatan ekonomi memberi dampak negatif pada produksi dan distribusi.
Perhitungan pertumbuhan PDB Indonesia berdasarkan lapangan usaha terdapat beberapa kategori sumber pertumbuhan, yaitu industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, informasi dan komunikasi, dan sumber lainnya. Tercapainya PDB pada triwulan IV-2021 sebesar 5,02 persen dikontribusikan oleh berbagai macam sumber lapangan usaha tersebut, dengan industri pengolahan sebagai kontributor terbesar, yaitu sebesar 1,01 persen. Industri pengolahan juga merupakan sumber pertumbuhan tertinggi untuk tahun 2021, yaitu sebesar 0,70 persen.
Perekonomian Indonesia berdasarkan PDB pengeluaran juga tak lepas dari berjalannya program vaksinasi. Hal ini bisa dilihat dari tingkat konsumsinya masyarakat Indonesia selama pandemi yang turun secara signifikan untuk masyarakat perekonomian kelas menengah dan kelas bawah atas banyak menahan konsumsi.
Bagi perekonomian Indonesia, program vaksinasi akan mendorong pemulihan konsumsi rumah tangga, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat kelas atas dan kelas menengah sebagai pebisnis atau investor juga sangat berperan dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Tak hanya itu, menaikkan konsumsi rakyat kalangan bawah dan menengah merupakan salah satu prioritas. Dikarenakan, konsumsi rakyat merupakan kontributor Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sangat besar, yaitu 58,60 persen.
Salah satu kontributor terbesar dalam perekonomian Indonesia adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini dikarenakan UMKM memegang peran yang besar dalam masyarakat kalangan perekonmian bawah dan menengah. UMKM memutar ekonomi Indonesia dengan memberikan pekerjaan kepada masyarakat yang kurang mampu sehingga mengurangi angka pengangguran, dan juga menjadi pasar untuk konsumsi masyarakat kelas bawah dan menengah. Dengan adanya pandemi Covid-19, hampir seluruh bisnis, tak terkecualikan UMKM untuk menurunkan jumlah produksi dan juga karyawan yang kemudian akan menyebabkan penurunan konsumsi dan PDB.
Pemulihan sektor UMKM menjadi salah satu hal yang diperhatikan oleh pemerintah dikarenakan, sektor ini berkontribusi sebesar 60,4 persen terhadap PDB nasional. Ada berbagai upaya dari pemerintah untuk memulihkan ekonomi Indonesia melalui sektor UMKM, seperti program PEN, restrukturisasi kredit, rencana pembentukan holding BUMN, dan juga program vaksinasi. Tak hanya itu, digitalisasi aktivitas perekonomian pun menjadi salah satu solusi untuk memulihkan kinerja UMKM selama pemberlakuan PPKM yang membatasi kegiatan fisik.
Upaya untuk pemulihan sektor UMKM dengan berbagai macam program dari pemerintah membuahkan hasil yang cukup baik. Hal ini dapat terlihat saat terjadinya peningkatan konsumsi rumah tangga menaik sebesar 1,91 persen pada triwulan IV-2021 untuk perhitungan PDB menurut pengeluaran year on year. PMTB pun meningkat dengan cukup baik sehingga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi untuk PDB pengeluaran tahun 2021, yaitu sebesar 1,21 persen. Peningkatan yang terjadi dalam sektor PMTB terjadi oleh meningkatnya penjualan semen domestik dan juga meningkatnya produksi domestik.
Selain itu, dari sektor keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terdapat perbaikan yang cukup signifikan. Hal ini didukung oleh adanya akselerasi dan penyebarluasan vaksinasi kepada masyarakat. Dengan pekerja (masyarakat) yang telah tevaksinasi, situasi pandemi Covid-19 lebih mudah untuk diatasi dan menjadi relatif lebih aman untuk melakukan aktivitas ekonomi seperti sebelum pandemi. Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, kinerja perusahaan-perusahaan pun dapat terlihat. Peristiwa ini kemudian menarik para investor untuk berinvestasi kembali.
Penulis: Vianka Lintang Nirmala, Salsabiil Zakiyyah Dyren, Muhammad Akbar, Silvia Rahma Putri
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...