Zaman yang serba kompetisi semakin ketat seperti sekarang ini. Banyak manusia makmur secara materi dan kebutuhan hidup, akan tetapi kualitas dan kuantitas nilai dari manusia semakin berkurang juga. Buku adalah salah satu pedoman manusia dan pelajar untuk membuka pola pikir serta mengenal dunia luas supaya tidak berpikiran sempit dalam menjalani hidup. Syukur sekali bila ada anak muda yang mau menekuni dunia literasi dan tulis menulis, seperti Muhammad Lutfi, sastrawan nasional yang memiliki prestasi matang di dunia kepenulisan dan sastra.
Muhammad Lutfi lahir di Pati pada tanggal 15 Oktober 1997. Putra dari Slamet Suladi dan Siti Salamah ini menyukai dunia sastra, budaya, dan kepenulisan sejak masih kelas 4 SD. Lutfi memulai pendidikannya di SD N 1 Tanjungsari, SMP N 1 Jakenan, SMA N 2 Pati, dan S1 Sastra Indonesia, FIB, UNS, Surakarta.
Karya-karya dan bukunya bertebaran di media sosial dan media cetak. Berupa artikel, cerpen, pantun, syiir, dan puisi. “Pertama kali menulis, teringat saat ayah selalu menyuruh untuk membaca. Ayah memperkenalkan dunia literasi sejak kecil. Saya masih ingat, umur 8 tahun ketika masih SD, ayah selalu bersemangat membelikan koran anak-anak dan buku bacaan. Bahkan, lama-lama muncul tekad dan inspirasi menulis di buku tulis setelah membaca buku-buku cerita anak. Kebiasaan menulis tersebut berlangsung hingga saat ini,” tutur Muhammad Lutfi.
Muhammad Lutfi pernah mengharumkan nama kampus UNS, khususnya Program Studi Sastra Indonesia ketika mendapat undangan hadir ke Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 2016. Sebagai perwakilan dari kampus, di sana Lutfi mendapat kesempatan satu acara dengan Wakil Presiden (Jusuf Kalla), Menteri Agama (Lukman Hakim), dan beberapa tokoh lainnya seperti Sutardji Calzoum Bahri, dll.
Kalau bertanya tentang buku apa saja yang dia hasilkan, tentunya lumayan banyak yang sudah dihasilkan dari ide-ide kreatif penulis muda ini. “Buku yang sudah saya terbitkan, seperti Kelir (Kamboja Merah Publishing, 2018), Kumpulan Puisi Kenangan (Ajrie Publisher, 2017), Mata Sengsara (Guepedia, 2019), Bunga Mawar Hitam (Guepedia, 2019), Soleh Spiritual dan Soleh Sosial (Guepedia, 2019), Gugat (Guepedia, 2020), Memo Rakyat (Guepedia, 2020), Taka (Guepedia, 2020), Tabula Rasa (Tidar Media, 2020), Serat Tri Aji (Tidar Media, 2020),” pengakuan Lutfi.
Selain itu, banyak juga prestasi lain yang tidak muat untuk disebutkan satu-persatu di sini. Keberhasilan dan perjuangan Muhammad Lutfi yang aktif di dunia literasi ini patut diapresiasi dan dijadikan teladan. Dengan uang dari lomba yang Lutfi menangkan, lumayan untuk menambah uang saku. Anak muda yang seperti inilah bisa dijadikan teladan untuk aktif di dunia literasi dan memulai kepenulisan khususnya fiksi. (Ali)
Penyuka sastra dan buku dari Pati, Jawa Tengah
Menyukai ini:
Suka Memuat...