Tradisi Pesantren, Ilmu Agama dan Kejujuran

48
pesantren
Ilustrasi: Maritim News

Fase Sejarah Pesantren

Indonesia di akhir abad 19 yang masih bernama Hindia-Belanda dalam situasi terjajah. Saat itu pula kebijakan politik etis (ethische politiek) Belanda secara tidak langsung mempengaruhi kebangkitan nasionalisme, serta saling mempengaruhi antara beberapa intelektual didikan Belanda dan ulama didikan tradisi keilmuan Hijaz (Arab) dan Mesir. Kedua golongan itu bertujuan sama, yaitu pembebasan dari penjajahan Belanda. Ulama nusantara yang bermukim di Hijaz atau ulama yang tengah menuntut ilmu di sana sebenarnya tergugah oleh semangat menghidupkan ilmu-ilmu Islam sebagai kelanjutan dari tradisi pengajaran ilmu-ilmu keislaman yang sudah lama dibangun oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali di abad 12 M di samping pengaruh kuat dari beberapa figur sentral, antara lain Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, Syaikh Mahfudz Termas sebagai lokomotif intelektualisme muslim nusantara.

Setelah kembali ke Tanah Air, banyak di antara ulama mendirikan pesantren. Pendirian pesantren oleh ulama Nusantara yang baru pulang dari negeri Hijaz tersebut bukan sekedar sebagai tempat pendidikan ilmu-ilmu Islam semata dengan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan berbasis agama (educational intitution based relegion), mereka pun menggunakan pesantren sebagai wadah perjuangan dalam upaya melawan arus westernisasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda dalam upaya pembelokan dan mereduksi potensi perlawanan oleh kaum pribumi.

Gelombang kedua kelanjutan dari lokomotif intelektual muslim Nusantara di abad 20 dilanjutkan oleh figur Syaikhona Kholil Bangkalan, Syaikh Hasyim Asyari Tebuireng, Syaikh Asnawi Caringin, Syaikh Ahmad Dakhlan Kauman, Syaikh Mubarok Singaparna, Syaikh Ahmad Bakri Sempur, Syaikh Syatibi Gentur, Syaikh Nahrawi ( Mbah Dalhar ), Syaikh Yasin Al Fadani, Syaikh Muhammad Arsyad Thalib Lubis, Syaikh Syihabudin Sihab. Mereka berperan penting dalam upaya menghidupkan tradisi intelektualisme Islam dengan menulis risalah-risalah, syarah, matan, nadhoman, dan taqriran yang secara turun temurun diwariskan oleh ulama-ulam sebelumnya. Baik mereka sebagai kiai pesantren, mereka pula sebagai pemimpin umat.

Baca Juga:  Setelah Teka-Teki Usai

Posisi Pesantren

Hakikatnya pendidikan pesantren menurut Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi (generasi ketiga pengasuh Pondok Modern Gontor) adalah tidak lepas dari Islam, dan pendidikan pesantren bermula tidak lama setelah Islam masuk ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana, Islam sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transmisi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, au ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren. Hal ini dapat dibuktikan di antaranya dari metode pembelajaran di pesantren. Metode sama’ (audit, menyimak), metode syarh (penjelasan ulama) dengan secara halaqah, metode tahfiz (hafalan) dan lain-lainnya yang terdapat di pesantren berasal dari tradisi intelektual Islam.

Hanya saja istilah yang digunakan untuk sistim ini tidak sepenuhnya merujuk kepada kata bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa sanskrit (san: orang baik, tra: suka menolong). Lembaga tempat belajar itu pun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatera, pesantren disebut rangkang atau meunasah atau surau. Ini menunjukkan pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal. Di Malaysia dan Thailand lembaga ini dikenal dengan nama pondok, merujuk kepada bahasa Arab, yakni funduk yang berarti hotel atau penginapan yang maksudnya asrama. Jadi meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.

Keberadaan kiai atau ulama sebagai tokoh otoritatif, peserta didik, asrama dan sarana pendidikan, pendidikan agama Islam dan masjid sebagai pusat kegiatan kependidikan adalah unsur-unsur penting pendidikan pesantren yang sejatinya adalah unsur pendidikan Islam. Keempat unsur yang melingkupi santri ini dapat dianggap sebagai catur-pusat pendidikan. Ini lebih lengkap dibanding tri-pusat pendidikan (sekolah, masyarakat, keluarga), yang terdapat pada sistem sekolah pada pendidikan umum.

Baca Juga:  Refleksi Perjuangan Reformasi 98'

Tradisi Pesantren

Keberlangsungan tradisi pesantren sejak awal keberadaannya hingga kini masih bertahan, sebab tradisi dalam pesantren tersebut dikuatkan oleh sistem sanad ilmu dari guru ke murid, dari murid yang jadi guru kemudian ke murid berikutnya begitu seterusnya, semacam mata rantai ilmu yang tak terputus—disebut juga sebagai substansi pesantren an sich. Di samping keberlangsungan pengajaran ilmu-ilmu agama, pesantren pun menjadi wadah penggodokan bagi santri untuk bisa hidup mandiri, untuk bisa menemukan karakternya sendiri baik pada disiplin ilmu maupun sikap dan prinsip hidup, tentunya dengan pengajaran akhlak yang diperankan oleh kiai sebagai figur sentral, baik sebagai guru, sebagai orang tua, sekaligus sebagai panutan hidup.

Santri selalu diajarkan tata krama, dibiasakan bersikap rendah hati, dibiasakan jujur berkata dan bersikap, dibiasakan pula dengan sikap egaliter (memandang sama kepada manusia). Santri selalu akan sami’na wa atho’na (mendengar dan patuh) pada kiai dengan cermin hidup yang sederhana, jujur dan tulus. Bagi santri adalah pelajaran keteladanan yang tak terhingga yang sulit ditemukan di luar pesantren. Santri yang terdidik dalam tradisi tersebut akan dibawa sebagai sikap hidup.

Hubungan batin santri dan kiai adalah hubungan anak dan orang tua. Terhadap sikap dan tutur kata anak tersebut selalu merasa terpantau oleh orang tuanya, ada rasa malu, ada rasa sungkan berbuat di luar kebiasaan kiai. Hal yang aneh jika ada santri tidak percis sama mengikuti pri-hidup kiai. Sebab itu kemudian menjadi sikap su’ul adab.

Kesimpulannya, pesantren di mana pun berada terlepas dari kategori modern atau salaf, pesantren sejatinya punya tradisi yang berprinsip pada ajaran dan ilmu agama Islam yang kuat. Penerapan dan pengamalan adab atau akhlakul karimah di lingkungan pesantren menjadi potret dari suatu tradisi yang genuine (murni). Secara historis dan epistemologis tradisi pesantren tidak akan pernah melahirkan generasi yang cenderung koruptif, liar dan inkonsistensi ideologis.