Connect with us

Opini

Evolusi Perempuan Ekstremis Indonesia

Published

on

ISIS
Ilustrasi: Net

“Saya sangat lelah. Saya sangat berterima kasih jika (Indonesia) menerima kami pulang,” ujar Nada Fedula, anak anggota ISIS asal Indonesia, ketika diwawancarai oleh Quentin Sommerville, jurnalis BBC. Dalam wawancara tersebut, seraya menahan kesedihan, Nada menjelaskan bahwa ia bersama sang nenek dibawa oleh ayahnya ke Suriah pada 2015.

Saat ini, Nada bersama puluhan ribu anak-anak militan ISIS yang lain dari berbagai negara di belahan dunia mengungsi di kamp pengungsian Al-Hol, yang letaknya berada di timur laut Suriah. Dilansir BBC NEWS Indonesia (11/2/2020), sejak kekalahan kelompok ISIS tiga tahun silam, keluarga para militan ISIS baik para perempuan maupun anak-anak ditempatkan di kamp pengungsian yang dipadati sekitar 70.000 orang.

Dalam kondisi yang menyedihkan dan frustrasi karena diabaikan serta dicampakkan oleh kekhalifahan ISIS dan pemerintah mereka, remaja perempuan tersebut bersama pengungsi yang lain berharap dapat pulang ke negara asal mereka. “Jika pemerintah Indonesia bisa melakukannya, saya ingin mereka membawa pulang kami dan membawa ayah dan saudara saya,” kata Nada sambil menangis. Sebuah harapan yang kini justru menjadi isu yang sangat sensitif di Indonesia setelah sempat wacana pemulangan mereka, tapi mendapat penolakan keras karena kepulangan mereka dikhawatirkan membawa virus terorisme baru. Bahkan tidak sedikit pengamat yang menyatakan bahwa tangisan remaja asal Indonesia bernama Nada tersebut adalah tangisan palsu.

Tangisan tersebut hanyalah sebuah trik untuk mengambil simpati pemerintah dan masyarakat Indonesia supaya kepulangan mereka diterima dengan baik, dan inilah yang dikhawatirkan oleh banyak pihak. Namun demikian, tulisan ini tidak akan membahas tentang alasan para tokoh dan masyarakat Indonesia menolak kepulangan mereka, tapi perkembangan perempuan ekstremis Indonesia-lah yang akan dibahas. Hal ini menarik karena beberapa peristiwa pengeboman gereja di Tanah Air melibatkan kaum hawa.

Baca Juga:  Kisah Pembantaian pada Era Khilafah

Pada peristiwa pengeboman di Gereja St Maria, GKI Diponegoro, dan gereja di Jalan Arjuno, Surabaya pada pertengahan 2018 yang lalu, misalnya, menjadikan perempuan sebagai ‘pengantin’. Pengeboman di daerah Sidoarjo pada tahun yang sama juga melibatkan kaum hawa. Rentetan bom bunuh diri yang meledak di Surabaya dan Sidoarjo tersebut memunculkan fenomena baru. Jika selama ini aksi bom bunuh diri dilakukan oleh pria, kali ini perempuan dan anak-anaklah yang menjadi “pengantin”. Selain itu, beberapa aksi terorisme tersebut dilakukan oleh tiga KK.

Meski baru kali ini perempuan yang menjadi pelaku bom bunuh diri, namun keterlibatan kaum hawa dalam aksi terorisme di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru. Selain ditangkapnya dua wanita bercadar yang diduga hendak melakukan penusukan terhadap anggota Brimob di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada Sabtu (12/05/18), pada akhir 2016 yang lalu,  Densus 88 juga berhasil meringkus dua perempuan yang diduga akan meledakkan diri mereka di Jakarta.

Seperti dilansir www.bbc.com (12/12/16), kedua perempuan tersebut berencana melakukan serangan bunuh diri ke Istana Kepresidenan. Menurut keterangan pihak yang berwajib, mereka merupakan bagian dari kelompok Bahrun Naim, salah satu pentolan ISIS Indonesia. Pengamat terorisme, Sidney Jones, mengatakan bahwa ISIS semula melarang keterlibatan perempuan sebagai kombatan (mujahidah) dengan alasan tertentu. Namun menurutnya, larangan itu sudah dihapus sejak Juli 2016 yang lalu.

Berikut beberapa perempuan yang teridentifikasi terlibat dalam rentetan peristiwa aksi terorisme dari mulai pertengahan tahun 2015 sampai akhir 2016: Desember 2016; empat wanita ditangkap, dua di antaranya bernama Dian Yulia Novi dan Ika Puspitasari. Juli-Oktober 2016; Tini Susanti dan Jumaitun (anggota MIT). September 2015; Aisyah Lina Kamelya. Agustus 2015; Ratna Nirmala bersama anak-anaknya menemani suaminya ke Suriah.

Baca Juga:  Pemerintah Perlu Merespon Putusan PTUN Terkait HTI Secara Terlembaga

Data tersebut di atas menunjukkan bahwa akhir-akhir ini kaum hawa terlibat aktif dalam aksi terorisme di Tanah Air. Pertanyaannya kemudian, mengapa kaum perempuan terlibat aktif dalam aksi terkutuk tersebut? Mengapa ISIS menjadikan perempuan sebagai ‘senjata’ dalam melancarkan aksinya? Dan apa saja tugas kaum perempuan ini selain sebagai ‘pengantin’?

Sidney (2016), mengatakan bahwa keterlibatan perempuan dalam beberapa serangan bom bunuh diri di Indonesia, sudah diperkirakan sejak lama. Menurutnya, mereka (kaum perempuan) mau peranan lebih aktif, tidak puas hanya menjadi istri atau ibu saja yang beraktivitas di rumah. Sementara menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyad Mbai, pilihan menggunakan kaum perempuan dalam aksi bom bunuh diri karena alasan ‘taktis’. Selain itu, lanjut Ansyad, penyamaran perempuan lebih bagus, apalagi berbusana seperti orang Arab (berpakaian lebar), gampang sekali menyembunyikan bom di dalam badannya.

Berbicara tentang banyaknya kaum perempuan terlibat dalam aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama tersebut tidak lepas dari suami mereka yang tidak lain merupakan simpatisan ISIS dan kelompok radikal lainnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa mereka bukan hanya mendukung suami mereka dalam menjalankan aksinya, tapi juga mau terlibat aktif bahkan rela jika dirinya dijadikan ‘pengantin’. Pada tahun 1985, misalnya, istri Abu Jibril menemaninya yang jadi buronan, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Padahal perempuan itu sedang hamil tua. Sedangkan di daerah Tanjung Priuk, Jakarta, seorang wanita rela tidak diakui oleh orang tuanya yang kaya raya dan meninggalkan studinya untuk menemani suaminya yang sedang diburu polisi.

Menurut laporan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), setidaknya ada empat himpunan atau kelompok ekstremis perempuan Indonesia, di antaranya: yang pertama terdiri dari perempuan yang bekerja di luar negeri (Asia Timur dan Timur Tengah). Di mana perempuan yang bekerja di kawasan tersebut memiliki wawasan lebih luas terhadap isu-isu internasional, menguasai bahasa Inggris dan bahasa Arab, serta memiliki keahlian komputer yang lebih dibandingkan perempuan yang tinggal di rumah.

Baca Juga:  Konvergensi Pemahaman Pesta Demokrasi

Kelompok kedua terdiri dari perempuan Indonesia yang sudah bergabung dengan ISIS di Suriah sebagai bagian dari unit keluarga (suami atau ayah mereka). Sedangkan kelompok yang ketiga adalah perempuan yang dideportasi. Wanita dalam kelompok ini ialah wanita yang mencoba menyeberang di perbatasan Turki untuk bergabung dengan suami atau keluarga mereka namun ditangkap dan dideportasi oleh otoritas Turki.

Demikian keterlibatan kaum perempuan dalam beberapa aksi terorisme di Indonesia serta alasan ISIS menjadikan mereka (kaum hawa) sebagai ‘senjata’ baru mereka. Fenomena tersebut tentu mengejutkan kita semua. ISIS yang selama ini identik dengan laki-laki, akhir-akhir ini justru perempuanlah yang terlibat sangat aktif baik sebagai pelaku bom bunuh diri, pemasok logistik, dan lainnya. Dan inilah yang mengkhawatirkan banyak pihak mengenai wacana pemulangan para militan ISIS, apalagi setelah tangisan Nada dianggap sebagai air mata palsu oleh masyarakat Indonesia.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular