Warna kulitnya oranye menyilaukan. Napasnya yang berat membuat ciut siapa pun yang mendengarnya. Matanya bersinar. Besar, kuning menyala. Penuh kemarahan.
***
Sunyi menyusup pagi di Dusun Sarongge, Desa Banyuasih, Kecamatan Tanjungkerta. Titik-titik embun masih menempel di dedaunan. Matahari baru mengintip sedikit belum mengirimkan sinarnya yang menyilaukan. Dua lelaki berjaket tebal tampak hangat berbincang ditemani ketela rebus dan susu jahe.
“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya lelaki berambut ikal sebahu.
“Biasa saja, lolong anjing beberapa kali membangunkanku. Kamu sendiri?” jawab lelaki berkumis tipis.
“Aku tidur seperti orang pingsan, tak dengar apa-apa. Kita jadi urungkan niat untuk naik ke Tampomas malam ini, kan?” balasnya.
“Kita sudah jauh-jauh ke sini. Dan kemunculan harimau itu …,” si lelaki berkumis tipis menahan bicaranya, kemudian berbisik, “harimau Lodaya itu tidak ada, ia hanya mitos yang dipercaya masyarakat Pasundan.”
“Wis, kalaupun Lodaya itu tidak ada. Yang dilihat Pak Dadang kemarin itu macan. Macan kumbang masih berkeliaran di sini. Dan bagiku, itu sama saja, sama-sama macan,” lelaki berambut ikal sebahu itu tampak kesal. Tak gampang mengubah keyakinan Wisnu, sahabatnya.
“Ger, kita sudah katam dengan hutan belantara. Bertemu binatang buas bukan sekali saja.” Wisnu menyeruput susu jahe yang masih panas, kemudian melanjutkan bicara. “Kalau kamu tak yakin, kita naik siang ini dan langsung turun setelah lihat sunset. Setuju?” lanjutnya. Gerald panggilan lelaki berambut ikal sebahu itu tak kuasa mengiyakan.
***
Jelang zuhur, dua lelaki itu mengepak seadanya. Tak perlu tenda, tak perlu pasak. Diiringi petuah Pak Jana dan istrinya Teh Nyai dalam Sunda meminta mereka ekstra hati-hati dan akan mengerahkan warga Kampung Sarongge untuk memulai pencarian jika sampai pukul sembilan malam mereka belum kembali.
“Jam sepuluh lah, Pak, kami masih ingin berlama-lama di puncak Tampomas sampai matahari betul-betul tak tampak lagi,” kelakar Gerald, berusaha menenangkan suami istri pemilik penginapan. Wisnu tertawa geli melihat mimik Pak Jana merespons jawaban Gerald. Ia tengah menyandang senapan angin di bahu kanan, untuk berjaga-jaga. Babi hutan yang ia khawatirkan, seperti yang menyerang mereka di Gunung Halimun belum lama ini.
“Nak Gerald dan Nak Wisnu ini kan masih muda-muda, gagah, perkasa, mengingatkan Bapak saat masih muda dulu. Cukuplah tiga jam saja turun dari puncak, Bapak dulu sambil berlari kalau turun gunung,” Pak Jana terkekeh yang dibalas sikut oleh Teh Nyai. Namanya Marianah, Nyai adalah panggilan sayang Pak Jana. Dari situ orang-orang kemudian akrab memanggilnya Teteh Nyai, atau Teh Nyai.
Masakan Teh Nyai terutama sayur lodeh dan sambal dadak membuat Pak Jana langsung jatuh hati kepada Marianah muda yang sehari-hari membantu ibunya berjualan di warung makan. Selisih umur yang jauh membuat Marianah lekas takluk dengan kepiawaian merayu Pak Jana, sang jawara tanah Sunda kala itu. Mereka telah menikah dua puluh tahun lamanya namun belum juga dikaruniai anak. Konon kabarnya karena ilmu yang dimiliki Pak Jana.
****
Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika dua sahabat itu bersiap mendaki Gunung Tampomas. Kabut yang tadi sempat sirna, kini perlahan turun kembali. Membuat pandangan terbatas dan memperlambat laju langkah mereka.
Menjelang pos satu mereka berpapasan dengan seorang pria tua yang tampak tergopoh menuruni gunung dengan membawa ketela rambat hasil kebunnya. Gerald dan Wisnu tak sempat bertukar sapa dan bertanya ada apa.
Waktu menunjukkan pukul tiga, namun sinar matahari tak mampu menembus pohon-pohon rasamala yang ditanam rapat dengan ketinggian mencapai empat puluh hingga enam puluh meter. Pohon-pohon ini semakin menjulang tingginya mendekati puncak. Rupanya sedang ada penebangan pohon rasamala besar-besaran hingga membuat resah habitat hewan-hewan.
Tiga ratus meter ke arah utara puncak Tampomas, yang dalam Sunda disebut puncak Sangiang Taraje, “Wis, kamu dengar?” Gerald tiba-tiba bersuara.
Wisnu yang sedari tadi menangkap bayangan sinar oranye di antara semak belukar dan sesekali ia lihat bersembunyi di antara batuan kawah, mencoba untuk menghindari pertanyaan Gerald.
“Wis, ternyata kita tidak sendirian,” Gerald mengarahkan pandangannya ke sekumpulan orang yang sedang mengelilingi makam. Lokasi itu dikenal dengan nama Pasarean. Di situ terletak dua makam yang salah satunya diyakini merupakan makam Prabu Siliwangi, sang penguasa Kerajaan Pajajaran.
“Punten,” sapa Wisnu kepada sekumpulan orang yang tampak bukan para pendaki gunung.
“Sampurasun,” sambung Gerald hampir bersamaan.
“Mangga, Nak, mangga,” jawab salah satu dari mereka. Sementara yang lain tampak khusyuk melafalkan kata-kata.
Sekumpulan orang paruh baya itu mengenakan pakaian khas rakyat dalam tatar Sunda. Celana gombrong sebetis dilengkapi kain ikat di pinggang dan atasan salontreng polos tanpa kancing, longgar, berwarna putih serta ikat logen sebagai penutup kepala.
Wisnu lega, apa yang didengar Gerald bukan suara yang berasal dari sinar oranye menyilaukan yang sejak awal pendakian terasa mengintai.
Sesampainya di puncak, kabut kembali datang sekejap. Wisnu dan Gerald menggerutu dalam diam. Kabut menutup rapat semua celah untuk memandang keindahan Kota Sumedang dari ketinggian 1.684 MDPL. Eksotik lubang-lubang kawah dan batu-batu besar berwarna hitam legam yang berhak dinikmati oleh siapa pun yang berhasil mencapai puncak Tampomas tak tersuguh. Belum lagi keindahan puncak Gunung Cikuray dan Gunung Ciremai. Semua tertutup rapat oleh kabut.
“Ger, kapan-kapan kita ke sini lagi, oke?”
“Sure.”
“Camping?”
“Not sure.”
“Hahaaaa!”
“Hush!”
Dingin semakin merasuk. Wisnu dan Gerald bergegas meninggalkan puncak Sangiang Taraje. Malam turun dengan pekatnya. Rembulan seolah enggan menerangi bumi Pasundan, memilih rebah di peraduannya. Hanya cahaya headlamp yang menuntun keduanya, menyusur, menuruni gunung.
Melalui jalur yang sama, sekumpulan orang dengan baju salontreng tak lagi berkumpul di area makam. Wadah dupa bekas bakar dan taburan bunga setaman masih meruapkan sisa harum yang lembut. Suasana ganjil antara mencekam dan menenteramkan berbaur ditimang angin. Di kejauhan, terdengar deru mesin penebang pohon. Entah sudah berapa hektare area gunung yang ditebang.
Berjalan cepat-cepat, tanpa menoleh ke belakang, Gerald memimpin di depan. Mereka harus tiba sebelum jam sembilan malam. Jangan sampai warga Dusun Sarongge menjemput mereka yang setengah nekat mendaki Tampomas, tak memedulikan nasihat Pak Jana dan Teh Nyai.
Sayup-sayup terdengar lantunan azan. Semakin lama semakin merdu suaranya. Apakah ini waktu subuh?
“Bangun, Nak. Ayo ke masjid bareng Bapak,” suara serak membangunkan Wisnu.
Ia buka kedua matanya. Ia tergeletak di dipan tanpa kasur, di ruang tamu penginapan milik Pak Jana. Tempat yang tak asing baginya. Di mana Gerald? Kepalanya bergerak memutar.
“Nanti, jika hari sudah terang kita lanjutkan mencari Nak Gerald. Ayo cepat ambil air wudu, keburu ikamah,” Pak Jana menjawab pertanyaan yang tak terucap oleh Wisnu. Mereka berjalan membisu menyusuri jalanan berkerikil. Wisnu masih tak menyadari apa yang terjadi dengan Gerald. Wisnu, tak menyadari apa yang terjadi dengan dirinya.
Menurut Pak Jana, sudah sepekan ini ia mendapati Wisnu tergeletak di dipan ruang tamunya. Berusaha menemui Gerald yang selama sepekan ini pula belum kembali ke Jakarta. Gerald yang menghabiskan malam-malamnya di masjid, dan siang-siangnya di sekeliling Gunung Tampomas, mencari dan terus mencari.
Di pelataran masjid, jamaah Dusun Sarongge telah ramai. Sandal jepit berserakan. Di antara para pemuda masjid, Gerald tampak berzikir dengan tasbih di tangan kanannya. Kepalanya mengangguk-angguk. Matanya tertutup. Pak Jana bersimpuh dan menyentuh pundaknya lembut.
“Dia kembali lagi,” bisik Pak Jana. Mereka pun berpelukan. Air mata tumpah. Jamaah masjid yang menyaksikan peristiwa itu menunduk. Berduka.
Wisnu telah dipilih Lodaya yang tak dipercayainya ada. Hari ketujuh, pencarian akan jasadnya dilanjutkan ….
Penulis adalah News Presenter BeritaSatuTV dan Tenaga Ahli DPR RI, Jakarta
Mahasiswi Program Doktor Ilmu Kriminologi UI
Baru-baru ini meluncurkan buku Kumpulan Cerpen; Apple Strudel
Chat Nastiti untuk informasi lebih lanjut melalui Twitter/Instagram @nastitislestari
Menyukai ini:
Suka Memuat...