GMNI Ingatkan Kembali Solidaritas Asia Afrika dalam Upaya Membangun Tatanan Sosial Baru

95

SERIKATNEWS.COM – Hubungan diplomatik Indonesia di Kawasan Asia dan Afrika menjadi perhatian khusus bagi Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI). Oleh sebab itu, DPP GMNI Bidang Hubungan Internasional mengadakan Diskusi Publik dalam rangka peringatan 64 tahun Solidaritas Asia Afrika yang dilaksanakan di Wisma Trisakti GMNI, Jakarta (23/4/2019).

Diskusi yang diikuti oleh perwakilan kader GMNI se-Jakarta dan beberapa organisasi kemahasiswaan lain turut dihadiri oleh Harry P. Haryono, mantan Duta Besar RI untuk Portugal serta mengundang dua narasumber Haryo Kunto Wibisono dan Herman Dirgantara.

Robaytullah K. Jaya, Ketua Umum DPP GMNI dalam sambutannya, mengingatkan pentingnya elemen mahasiswa dan pemuda Indonesia merawat kembali ingatan peristiwa heroik yang pernah dipelopori oleh tokoh bangsa dalam menginspirasi kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar 1955 silam.

“KAA 1955 sangatlah istimewa bagi bangsa kita yang telah mengharumkan bangsa Indonesia secara mendunia atas inisiatifnya menggalang solidaritas negara-negara di Asia dan Afrika yang baru saja merdeka pasca Perang Dunia II,” kata Robaytullah.

Diketahui peran strategis Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah, namun banyak hal yang kemudian menjadi ruang bertemunya negara-negara Asia dan Afrika dalam menunjukkan potensi di percaturan politik internasional bukan saja perkembangan politik namun juga aspek ekonomi dan sosial budaya.

“Maka, ke depannya GMNI perlu juga menjadi bagian dari kepeloporan gerakan mahasiswa yang aktif ikut andil dalam upaya perdamaian dunia sesuai dengan tujuan dari KAA namun lebih menyesuaikan konteks perkembangan era digital saat ini,” imbuhnya.

Dalam paparannya, Haryo Kunto Wibisono menyampaikan bahwa Konferensi Asia Afrika dari masa ke masa terus mengalami pasang surut. Terlebih yang dihadapi saat ini eksistensi KAA berdampak pula semenjak kondisi Indonesia kehilangan sosok kharismatik Presiden Pertama RI, Sukarno. Padahal, gaung solidaritas negara peserta KAA serta pengaruh Indonesia pada era Sukarno di tahun 1955-1965 sangatlah besar.

Baca Juga:  Pembagian Konsesi Lahan, Cak Imin Sebut Jokowi Lanjutkan Program Gus Dur

Ditinjau dari perkembangannya, Herman Dirgantara juga mengharapkan kaum intelektual muda harus bisa mengambil peran di forum internasional seperti menyuarakan pesan damai dan mengusulkan reformasi PBB dalam pengambilan hak veto yang sampai saat ini masih didominasi hanya untuk kepentingan beberapa negara-negara adi daya saja.

Untuk itu, Ketua DPP GMNI Hubungan Internasional, Made Bryan Pasek menyampaikan bahwa diskusi yang digelar tersebut sebagai langkah awal untuk membangun kembali pemahaman dan kesadaran kelompok mahasiswa terkait peran strategis Indonesia dan Solidaritas Asia Afrika di masa mendatang.

“Seiring dengan refleksi KAA 1955, kami akan terus mengingatkan pentingnya perdamaian dunia serta mendukung penuh kemerdekaan Palestina”, tegasnya.