SERIKATNEWS.COM – Bagi orang yang sudah memiliki pasangan dan cukup umur, sebenarnya seks adalah aktivitas normal bagi orang yang sudah memiliki pasangan dan cukup umur. Tetapi, aktivitas seks tak dibenarkan juga apabila dilakukan berlebihan.
Jika melakukan atau memikirkan tentang seks secara berlebihan, seseorang bisa dikatakan mengalami hiperseksualitas. Orang yang mengalami hiperseksual bisa saja terlibat dalam aktivitas seperti pornografi, masturbasi, dan seks dengan banyak pasangan. Akibatnya, orang tersebut merasa tertekan di berbagai bidang kehidupan termasuk pekerjaan dan hubungan.
Gejala Hiperseksualitas
Seseorang bisa dikatakan mengalami hiperseksualitas jika secara konsisten mengalami beberapa hal ini: pertama, memiliki fantasi, dorongan, dan perilaku seksual yang berulang dan intens serta di luar kendali.
Kedua, merasa terdorong untuk melakukan perilaku seksual tertentu, merasakan pelepasan ketegangan sesudahnya, tetapi juga merasa bersalah atau menyesal. Ketiga, tidak berhasil mengurangi atau mengontrol fantasi, dorongan, atau perilaku seksual Anda.
Keempat, menggunakan perilaku seksual kompulsif sebagai pelarian dari masalah lain, seperti kesepian, depresi, kecemasan atau stres. Kelima, terus melakukan perilaku seksual yang memiliki konsekuensi serius. Keenam, kesulitan membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan stabil.
Penyebab
Mayo Clini menjelaskan bahwa belum bisa dipastikan apa yang memicu hiperseksual. Namun, beberapa hal memang bisa menjadi penyebabnya. Berikut ini pemicu perilaku hiperseksual:
1. Ketidakseimbangan Bahan Kimia Otak Alami
Bahan kimia tertentu di otak (neurotransmiter) seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin membantu mengatur suasana hati. Ketidakseimbangan bahan kimia yang terlalu tinggi juga bisa memicu perilaku seksual kompulsif.
2. Perubahan Jalur Otak
Perilaku seksual kompulsif mungkin merupakan kecanduan yang, seiring waktu, dapat menyebabkan perubahan sirkuit saraf otak. Terutama di pusat penguatan otak. Seperti kecanduan lainnya, rangsangan dan konten seksual yang lebih intensif biasanya membutuhkan banyak waktu untuk mendapatkan kepuasan atau kelegaan.
3. Kondisi yang Mempengaruhi Otak
Penyakit atau masalah kesehatan tertentu, seperti epilepsi dan demensia, dapat menyebabkan kerusakan pada bagian otak. Hal ini dapat memengaruhi perilaku seksual.
Selain itu, pengobatan penyakit Parkinson dengan beberapa obat agonis dopamin dapat menyebabkan perilaku seksual kompulsif.
Hiperseksual bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada anak-anak sekalipun. Biasanya, hal ini didorong oleh mudahnya akses ke konten seksual. Kemajuan teknologi dan media sosial memungkinkan akses ke citra dan informasi seksual yang semakin intensif.
Selain itu, konflik keluarga atau anggota keluarga dengan masalah seperti kecanduan dan adanya riwayat pelecehan bisa memicu kondisi hiperseks. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...